Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4470 tentang Malam Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada salah satu dari tujuh malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar tidak diketahui secara pasti tanggalnya, tetapi sangat dianjurkan untuk mencarinya dengan memperbanyak ibadah di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

QS. Al-Qadr [97]: 1-3

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

Hadits terkait:

Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Maghazi, Bab no. 4470. Dari jalur Ashbagh, dari Ibnu Wahb, dari ‘Amr, dari Ibnu Abi Habib, dari Abul Khair, dari Ash-Shunabihi.

Kaitan dengan ulama:

Imam Al-Bukhari (w. 256 H) adalah ulama besar dalam daftar rujukan yang menghimpun hadits ini dalam kitabnya yang paling shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1165) dengan redaksi yang lebih lengkap.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki dua bagian penting:

Pertama, tentang kewafatan Nabi ﷺ. Ash-Shunabihi radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Abu Al-Khair tentang waktu hijrahnya. Abu Al-Khair menjawab bahwa mereka berhijrah dari Yaman dan tiba di Al-Juhfah, lalu bertemu seorang penunggang kuda yang mengabarkan bahwa Nabi ﷺ telah wafat lima hari sebelumnya. Ini menunjukkan betapa besarnya musibah yang dirasakan para sahabat, namun mereka tetap teguh dalam keimanan.

Kedua, tentang Lailatul Qadar. Ketika ditanya tentang Lailatul Qadar, Ash-Shunabihi menjawab bahwa Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu – muadzin Nabi ﷺ – memberitahunya bahwa Lailatul Qadar terjadi pada salah satu dari tujuh malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Penjelasan ulama tentang makna “tujuh malam”:

  1. Imam Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari (4/301) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “tujuh malam” adalah malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir, yaitu malam 21, 23, 25, 27, dan 29. Namun ada juga yang menafsirkan bahwa maksudnya adalah tujuh malam terakhir (malam 24-30) atau malam-malam tertentu yang berubah-ubah setiap tahun.
  2. Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (8/56) mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir, dan ini adalah pendapat jumhur ulama.
  3. Imam Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Latha'if al-Ma'arif (hal. 210) menjelaskan bahwa hikmah dirahasiakannya Lailatul Qadar adalah agar kaum muslimin bersungguh-sungguh dalam beribadah di seluruh malam sepuluh hari terakhir, bukan hanya pada satu malam tertentu.
  4. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (3/248) menegaskan bahwa pendapat yang paling kuat adalah Lailatul Qadar terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir, dan bisa berpindah-pindah setiap tahunnya. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya bersungguh-sungguh beribadah di setiap malam sepuluh hari terakhir.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Barangsiapa yang ingin mencarinya, maka carilah pada malam-malam ganjilnya.” (HR. Al-Bukhari no. 2017 dan Muslim no. 1169)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: “Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau bersabda: “Ucapkanlah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai maaf, maka maafkanlah aku).” (HR. At-Tirmidzi no. 3513, dishahihkan oleh Al-Albani)

Hikmah: Para sahabat sangat bersemangat mencari Lailatul Qadar. Bilal radhiyallahu ‘anhu sebagai muadzin Nabi ﷺ menyampaikan ilmu ini kepada generasi setelahnya. Ini mengajarkan kita untuk saling mengingatkan tentang kebaikan dan tidak pelit dalam berbagi ilmu.

Kesimpulan Praktis

  1. Lailatul Qadar terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, yaitu malam 21, 23, 25, 27, dan 29.
  2. Tidak ada yang tahu pasti tanggalnya, karena itu kita dianjurkan bersungguh-sungguh beribadah di seluruh malam sepuluh hari terakhir.
  3. Amalan yang dianjurkan: shalat malam (qiyamul lail), membaca Al-Qur'an, berdoa memohon ampunan, dan memperbanyak dzikir.
  4. Doa yang diajarkan Nabi ﷺ: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
  5. Jangan sia-siakan sepuluh hari terakhir Ramadhan, karena di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mendapatkan Lailatul Qadar dan mengamalkan petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.