Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang lamanya masa kenabian dan dakwah Rasulullah ﷺ, yaitu beliau tinggal di Makkah selama 10 tahun setelah wahyu pertama turun, dan di Madinah selama 10 tahun. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an diturunkan secara bertahap selama kurang lebih 20 tahun, sesuai hikmah dan kebutuhan dakwah. Hadits ini juga mengajarkan kita tentang kesabaran dan keteguhan dalam berdakwah, baik dalam masa sulit di Makkah maupun masa membangun masyarakat di Madinah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Yahya, dari Abu Salamah, dari 'Aisyah dan Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ tinggal di Makkah selama sepuluh tahun, Al-Qur'an diturunkan kepadanya, dan beliau tinggal di Madinah selama sepuluh tahun. (HR. Al-Bukhari no. 4464)
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا
"Dan Al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian." (QS. Al-Isra' [17]: 106)
Ayat ini menegaskan hikmah diturunkannya Al-Qur'an secara bertahap selama kurang lebih 20 tahun, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.
Kaitan dengan Ulama:
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hikmah Al-Qur'an diturunkan berangsur-angsur adalah untuk menguatkan hati Nabi ﷺ, memudahkan penghafalan dan pemahaman, serta menyesuaikan dengan peristiwa dan kebutuhan dakwah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memberikan informasi penting tentang sejarah dakwah Nabi ﷺ. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa masa tinggal Nabi ﷺ di Makkah setelah kenabian adalah 13 tahun menurut pendapat yang masyhur, namun yang dimaksud dalam hadits ini adalah 10 tahun setelah turunnya wahyu secara terang-terangan atau setelah beliau mendapatkan perintah untuk berdakwah secara umum. Adapun 3 tahun pertama adalah masa dakwah secara sembunyi-sembunyi.
Adapun di Madinah, beliau tinggal selama 10 tahun, dari mulai hijrah hingga wafatnya pada tahun 11 H. Ini menunjukkan bahwa total masa dakwah beliau setelah kenabian adalah sekitar 23 tahun.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa fase Makkah adalah fase pembentukan aqidah, tarbiyah iman, dan kesabaran menghadapi cobaan. Sedangkan fase Madinah adalah fase membangun masyarakat, menegakkan syariat, dan berjihad di jalan Allah.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ketika menjelaskan hadits-hadits sirah menekankan bahwa pembagian waktu ini menunjukkan kebijaksanaan Allah dalam menurunkan syariat secara bertahap. Di Makkah, yang diturunkan adalah ayat-ayat tentang aqidah, keimanan, dan akhlak. Sedangkan ayat-ayat hukum banyak diturunkan di Madinah setelah terbentuknya masyarakat Islam.
Imam Asy-Syafi'i dalam Ar-Risalah juga menjelaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan secara bertahap dan tidak sekaligus, agar mudah dihafal, dipahami, dan diamalkan oleh umat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ berdakwah di Makkah, beliau dan para sahabat menghadapi berbagai macam cobaan. Salah satu kisah yang terkenal adalah ketika beliau duduk di dekat Ka'bah, lalu orang-orang Quraisy melemparkan kotoran unta ke punggung beliau saat sedang sujud. Namun beliau tetap bersabar dan tidak pernah berhenti berdakwah.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa ketika Nabi ﷺ sujud di dekat Ka'bah, Abu Jahal dan kawan-kawannya berkata, "Siapakah di antara kalian yang mau mengambil kotoran unta dan melemparkannya ke punggung Muhammad?" Maka berdirilah orang yang paling celaka di antara mereka, lalu ia membawa kotoran itu dan melemparkannya ke punggung Nabi ﷺ. Nabi ﷺ tetap dalam keadaan sujud dan tidak mengangkat kepalanya hingga putrinya Fatimah datang dan membersihkan kotoran itu dari punggung beliau.
Kisah ini menunjukkan betapa beratnya dakwah di Makkah selama 10 tahun itu. Namun dengan kesabaran dan keteguhan, Nabi ﷺ berhasil menanamkan aqidah yang kokoh di hati para sahabat, sehingga ketika tiba waktunya hijrah ke Madinah, mereka sudah siap membangun peradaban Islam.
Kesimpulan Praktis
- Meneladani kesabaran Nabi ﷺ dalam berdakwah, baik dalam masa sulit maupun mudah.
- Memahami hikmah bertahapnya syariat — bahwa perubahan tidak harus instan, tetapi bertahap sesuai kemampuan dan kondisi.
- Menghargai perjuangan para sahabat yang telah menegakkan Islam di dua kota suci tersebut.
- Menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup yang diturunkan untuk diamalkan secara bertahap dan konsisten.
- Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu sebagaimana para ulama terdahulu yang sangat perhatian terhadap sirah dan hadits Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.