Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang peristiwa agung setelah wafatnya Nabi ﷺ, yaitu ketika Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu mencium wajah Nabi ﷺ yang telah wafat. Peristiwa ini menunjukkan betapa dalamnya kecintaan Abu Bakar kepada Rasulullah ﷺ, dan juga menjadi dalil bolehnya mencium jenazah orang shalih sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan, selama tidak mengandung keyakinan yang keliru (seperti mengharap berkah dengan cara yang menyelisihi syariat). Peristiwa ini juga mengajarkan adab yang mulia: tetap menjaga kelembutan dan kasih sayang kepada orang yang telah wafat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap sesuai periwayatan):
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ مُوسَى بْنِ أَبِي عَائِشَةَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، وَابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَبَّلَ النَّبِيَّ ﷺ بَعْدَ مَوْتِهِ.
Makna ringkas: Dari Aisyah dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Abu Bakar radhiyallahu 'anhu mencium Nabi ﷺ setelah beliau wafat.
Kaitan dengan Ulama:
Peristiwa ini disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya. Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebolehan mencium jenazah orang shalih sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan, selama tidak disertai keyakinan yang berlebihan (ghuluw) yang menyelisihi syariat.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Kedalaman Cinta Abu Bakar kepada Nabi ﷺ
Peristiwa ini terjadi ketika Abu Bakar masuk ke rumah Aisyah setelah Nabi ﷺ wafat. Beliau membuka kain penutup wajah Nabi ﷺ, lalu menciumnya sambil berkata: "Demi ayahku dan ibuku, engkau telah merasakan kematian yang tidak akan pernah Allah timpakan kepadamu dua kali." (HR. Al-Bukhari). Ini menunjukkan bahwa cinta Abu Bakar kepada Nabi ﷺ bukan sekadar ucapan, tetapi terwujud dalam perbuatan yang penuh kelembutan dan penghormatan.
2. Bolehnya Mencium Jenazah Orang Shalih
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' dan Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama membolehkan mencium jenazah orang shalih sebagai bentuk penghormatan, berdasarkan hadits ini dan juga kisah ketika para sahabat mencium tangan dan kaki Nabi ﷺ. Namun, beliau juga menegaskan bahwa hal ini tidak boleh disertai keyakinan bahwa jenazah tersebut bisa memberikan manfaat atau mudharat secara langsung, karena hal itu adalah kekhususan yang tidak dimiliki oleh selain Nabi ﷺ.
3. Adab Terhadap Jenazah
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini juga mengajarkan adab terhadap jenazah, yaitu memperlakukan jenazah dengan lembut, tidak kasar, dan tetap menjaga kehormatannya. Mencium jenazah orang shalih adalah bagian dari adab dan penghormatan, bukan ritual ibadah yang diwajibkan.
4. Peringatan dari Ghuluw (Berlebihan)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa perbuatan Abu Bakar ini adalah murni karena cinta dan penghormatan, bukan karena meyakini bahwa mencium jenazah Nabi ﷺ adalah ibadah yang diperintahkan atau bahwa jenazah beliau bisa memberikan berkah secara langsung. Beliau menegaskan bahwa jika ada orang yang menjadikan perbuatan ini sebagai ritual wajib atau meyakini adanya berkah khusus yang menyelisihi syariat, maka itu adalah bentuk ghuluw yang tercela.
5. Pelajaran tentang Kematian
Peristiwa ini juga mengingatkan kita bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa dihindari, bahkan oleh manusia paling mulia sekalipun, yaitu Nabi ﷺ. Ini menjadi pelajaran agar kita tidak terlalu berlebihan dalam mencintai seseorang hingga melupakan bahwa semua makhluk akan mati, dan hanya Allah yang kekal.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ wafat, para sahabat sangat terpukul. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu sempat berkata: "Barangsiapa yang mengatakan Muhammad telah mati, maka aku akan penggal lehernya!" Namun, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dengan tenang masuk ke rumah Aisyah, membuka kain penutup wajah Nabi ﷺ, menciumnya, lalu keluar dan berkhutbah di hadapan para sahabat: "Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan mati." (HR. Al-Bukhari).
Kisah ini menunjukkan bahwa cinta Abu Bakar kepada Nabi ﷺ tidak membuatnya lupa akan hakikat kematian. Justru cintanya yang dalam membuatnya mampu menenangkan umat dengan mengingatkan mereka kepada Allah yang Maha Kekal. Ini adalah pelajaran tentang keseimbangan antara cinta kepada makhluk dan cinta kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Meneladani cinta Abu Bakar kepada Nabi ﷺ dengan cara mengikuti sunnah beliau, bukan dengan cara yang berlebihan.
- Menjaga adab terhadap jenazah dengan memperlakukannya secara lembut dan penuh penghormatan.
- Menghindari ghuluw dalam mencintai orang shalih, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, dengan tidak meyakini mereka bisa memberikan manfaat atau mudharat di luar ketentuan Allah.
- Mengingat kematian sebagai pengingat untuk memperbanyak amal shalih dan tidak terlena dengan kehidupan dunia.
- Menjaga ketenangan dan keilmuan dalam menghadapi musibah, sebagaimana Abu Bakar yang tetap tenang dan memberikan penjelasan yang menenangkan umat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.