Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan detik-detik wafatnya Nabi ﷺ di pangkuan Aisyah radhiyallahu 'anha. Ini adalah salah satu bukti paling agung tentang kemuliaan Aisyah, karena Rasulullah ﷺ wafat di rumahnya, pada hari gilirannya, dan bahkan saat membersihkan gigi dengan siwak, beliau wafat dalam keadaan mulia. Inti hadits ini mengajarkan kita tentang hakikat kematian, ketenangan Rasulullah ﷺ menghadapi ajal, serta keutamaan Aisyah dan keluarganya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perang, Bab Penyakit Nabi dan Kematian-Nya, no. 4451, dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.
Dalil Al-Qur'an yang relevan dengan makna hadits ini adalah firman Allah Ta'ala:
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۚ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
"Dan Kami tidak menjadikan kehidupan abadi bagi seorang manusia pun sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?" (QS. Al-Anbiya' [21]: 34)
Ayat ini menunjukkan bahwa kematian adalah sunnatullah yang pasti terjadi pada setiap manusia, termasuk Nabi ﷺ. Para ulama seperti Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai penghibur bagi kaum muslimin ketika sebagian mereka mengira Nabi ﷺ tidak akan wafat. Ayat ini menegaskan bahwa beliau adalah manusia biasa yang akan merasakan kematian.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan banyak pelajaran dari hadits agung ini:
1. Keutamaan Aisyah radhiyallahu 'anha
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa wafatnya Nabi ﷺ di rumah dan pangkuan Aisyah adalah kehormatan khusus yang Allah berikan kepadanya. Ini menjadi bukti keutamaan Aisyah di antara istri-istri Nabi ﷺ. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah juga menyebutkan bahwa kejadian ini adalah salah satu dalil bahwa Aisyah adalah istri yang paling dicintai Rasulullah ﷺ.
2. Makna "Ar-Rafiq al-A'la" (Teman yang Tertinggi)
Saat sakaratul maut, Nabi ﷺ mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan "Ar-Rafiq al-A'la" (Teman yang Tertinggi). Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah pilihan beliau untuk bergabung dengan para nabi dan orang-orang shalih di surga yang tertinggi. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ungkapan ini menunjukkan kerinduan Rasulullah ﷺ kepada Allah dan pilihan beliau untuk bertemu dengan Rabb-nya.
3. Siwak di Akhir Hayat
Aisyah mengunyah ujung siwak untuk melunakkannya lalu memberikannya kepada Nabi ﷺ. Ini menunjukkan perhatian besar Aisyah dan keluarganya terhadap kebersihan dan kesucian Nabi ﷺ bahkan di saat-saat terakhir. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah sunnah terakhir yang dilakukan Nabi ﷺ di dunia, menunjukkan pentingnya menjaga kebersihan mulut hingga akhir hayat.
4. Kematian adalah Kepastian
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita bahwa kematian pasti datang, tidak peduli seberapa mulia seseorang. Bahkan manusia termulia di sisi Allah, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, tetap merasakan kematian. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk lalai mempersiapkan diri menghadapi kematian.
5. Sikap Tenang Menghadapi Maut
Rasulullah ﷺ menghadapi kematian dengan ketenangan yang luar biasa. Beliau tidak panik atau takut, tetapi justru memilih bertemu dengan Allah. Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa ini adalah buah dari keimanan yang kokoh dan keyakinan yang sempurna kepada Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ wafat, para sahabat sangat terpukul. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu bahkan sempat berkata, "Barangsiapa yang mengatakan Muhammad telah wafat, maka aku akan penggal kepalanya!" Namun Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dengan tenang masuk dan berkata, "Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati." Kemudian beliau membacakan ayat di atas (QS. Ali 'Imran [3]: 144). Maka para sahabat pun tersadar dan menerima kenyataan ini. Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat memahami hakikat kematian Nabi ﷺ dengan kembali kepada Al-Qur'an.
Kesimpulan Praktis
Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Mempersiapkan diri menghadapi kematian — karena kematian pasti datang kepada setiap jiwa, tidak peduli status atau kedudukan seseorang.
- Menjaga kebersihan dan kesucian diri — Nabi ﷺ bahkan bersiwak di saat-saat terakhir hidupnya, menunjukkan pentingnya menjaga kebersihan mulut dan tubuh.
- Berprasangka baik kepada Allah — Rasulullah ﷺ menghadapi kematian dengan tenang dan memilih bertemu dengan Allah, karena beliau yakin akan rahmat Allah.
- Menghormati keutamaan para sahabat — khususnya Aisyah radhiyallahu 'anha yang mendapat kehormatan luar biasa ini.
- Mengingat kematian secara rutin — agar kita tidak lalai dalam beribadah dan mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.