Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan detik-detik terakhir kehidupan Nabi ﷺ di rumah Aisyah رضي الله عنها, yang beliau sendiri sadari sebagai nikmat besar bagi Aisyah. Di dalamnya kita melihat kasih sayang Nabi ﷺ kepada siwak (kebersihan), kesadaran beliau akan beratnya sakaratul maut, dan puncaknya beliau memilih "ar-rafīq al-a'lā" (teman tertinggi, yaitu Allah dan para kekasih-Nya di surga). Hadits ini mengajarkan cinta kepada Nabi ﷺ, adab menjaga kebersihan, dan kesiapan menghadapi kematian.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Al-Fajr [89]: 27–30
وَيَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
Terjemah ringkas: "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan jiwa orang beriman yang tenang saat menghadapi kematian, dan para ulama menyebutkan bahwa ini termasuk yang dibaca di sisi Nabi ﷺ ketika beliau mendekati wafat. Makna "ar-rafīq al-a'lā" selaras dengan "fādkhulī fī 'ibādī wadkhulī jannatī".
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Maghāzī, Bab Penyakit Nabi ﷺ dan Wafatnya (no. 4449), dari Aisyah رضي الله عنها melalui jalur Ibnu Abi Mulaikah dan Dzakwan (Abu Amr), maula Aisyah.
Hadits senada juga diriwayatkan Imam Muslim dari Aisyah, dan Ibnu Hajar al-Asqalani membahasnya dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) pada kitab yang sama.
Penjelasan Rinci
1. Keutamaan Aisyah رضي الله عنها
Aisyah berkata: "Sesungguhnya termasuk nikmat Allah atasku bahwa Rasulullah ﷺ wafat di rumahku, pada hari giliranku, dan beliau bersandar di antara dada dan leherku."
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini adalah keutamaan khusus Aisyah yang tidak dimiliki istri Nabi lainnya. Ini juga menepis tuduhan-tuduhan yang tidak benar terhadap Aisyah, karena Allah memuliakan beliau dengan menemani Nabi ﷺ di saat-saat terakhir.
2. Bersatunya air liur Nabi ﷺ dan Aisyah
"Allah menyatukan air liurku dengan air liurnya saat beliau wafat."
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini terjadi ketika Nabi ﷺ membaca sesuatu atau berdoa, lalu Aisyah mendekatkan wajahnya, sehingga air liur beliau menyentuh Aisyah. Ini menunjukkan kedekatan dan keberkahan yang Allah berikan kepada Aisyah.
3. Nabi ﷺ menyukai siwak
"Aku melihat beliau memandang siwak dan aku tahu beliau menyukainya."
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini menunjukkan kesunnahan bersiwak, terutama saat mendekati wafat. Nabi ﷺ tetap memperhatikan kebersihan mulut hingga detik-detik terakhir. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa bersiwak adalah sunnah yang ditekankan, dan Nabi ﷺ sendiri melakukannya di akhir hayat.
4. Isyarat dengan kepala
Nabi ﷺ tidak bisa berbicara banyak karena lemahnya kondisi, maka beliau mengangguk sebagai jawaban. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini menunjukkan bolehnya isyarat dalam menjawab ketika tidak mampu berbicara, dan menunjukkan kelembutan Aisyah dalam memahami keinginan Nabi ﷺ.
5. Sakaratul maut
"Beliau memasukkan tangannya ke air dan mengusap wajahnya, lalu berkata: 'Lā ilāha illallāh, inna lil-mauti sakarāt.'"
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ merasakan beratnya sakaratul maut, meskipun beliau adalah manusia paling mulia. Ini menunjukkan bahwa sakaratul maut adalah kenyataan yang harus dihadapi setiap jiwa, dan bahkan Nabi ﷺ merasakannya. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa ini adalah pelajaran bagi umat agar tidak menganggap ringan kematian.
6. "Ar-Rafīq al-A'lā"
"Kemudian beliau mengangkat tangannya dan berkata: 'Fir-rafīqil a'lā' hingga beliau wafat dan tangannya terjatuh."
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa "ar-rafīq al-a'lā" berarti Allah dan para malaikat, para nabi, para shiddiqin, syuhada, dan shalihin — sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa [4]: 69. Ini adalah puncak kecintaan Nabi ﷺ kepada Allah, beliau memilih bertemu dengan-Nya daripada tetap di dunia.
Perbedaan pendapat ulama daftar: Tidak ada perbedaan mendasar di antara ulama yang disebutkan dalam memahami hadits ini. Mereka sepakat bahwa ini adalah keutamaan Aisyah, kesunnahan siwak, dan pelajaran tentang sakaratul maut serta husnul khatimah.
Story Telling
Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ sedang dalam kondisi berat, Fathimah رضي الله عنها datang menjenguk. Nabi ﷺ berbisik kepadanya, dan Fathimah menangis. Kemudian beliau berbisik lagi, dan Fathimah tertawa. Aisyah bertanya, dan Fathimah menjelaskan: "Beliau memberitahuku bahwa beliau akan wafat, maka aku menangis. Lalu beliau memberitahuku bahwa aku adalah orang pertama dari keluarganya yang akan menyusul beliau, maka aku tertawa." (HR. Al-Bukhari)
Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ telah mempersiapkan keluarganya menghadapi kepergiannya, dan beliau sendiri menghadapi kematian dengan penuh kesadaran dan keridhaan.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa di akhir hayatnya, Nabi ﷺ terus mengulang-ulang "ar-rafīq al-a'lā", menunjukkan bahwa hati beliau sepenuhnya tertuju kepada Allah, tidak kepada dunia.
Kesimpulan Praktis
- Cintailah Nabi ﷺ dan pelajari sirah beliau, terutama detik-detik akhir hayatnya, untuk menumbuhkan mahabbah yang benar.
- Jaga kebersihan mulut dengan siwak — ini sunnah yang Nabi ﷺ lakukan hingga akhir hayat.
- Ingatlah sakaratul maut — bahkan Nabi ﷺ merasakannya, maka persiapkan diri dengan amal shalih.
- Perbanyak doa husnul khatimah dan cintailah "ar-rafīq al-a'lā" — Allah, para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.
- Berbuat baiklah kepada keluarga — Nabi ﷺ memberikan perhatian dan kasih sayang hingga akhir hayat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.