Penjelasan Hadits Bukhari No. 4436 tentang Keadaan Nabi saat menjelang wafat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan detik-detik terakhir kehidupan Nabi ﷺ. Ketika sakit yang membawa kematian beliau semakin berat, beliau berulang kali mengucapkan, "فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى" (bersama teman yang paling tinggi). Ini menunjukkan husnuzhan (baik sangka) kepada Allah, kerinduan kepada Allah dan para kekasih-Nya di tempat tertinggi, serta keteguhan iman sampai akhir hayat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Fajr [89]: 27–30

فَارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

"Maka kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai."

(QS. Al-Fajr [89]: 28)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Maghazi (Perang), Bab Penyakit dan Kematian Nabi ﷺ, dari Aisyah radhiyallahu 'anha.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ucapan ini adalah isyarat kerinduan Nabi ﷺ kepada Allah dan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin di tempat tertinggi (illiyyin).

Penjelasan Rinci

Makna "فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى":

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "Rafiqul A'la" adalah Allah Ta'ala, para malaikat, para nabi, para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih di derajat tertinggi di surga. Ini bukan sekadar ucapan biasa, melainkan doa dan kerinduan seorang hamba yang telah sempurna amanahnya.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ini adalah keadaan husnuzhan (baik sangka) kepada Allah di akhir hayat, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain bahwa Allah berfirman: "Aku bersama prasangka hamba-Ku kepada-Ku."

Bagaimana ulama memahami dan menerapkannya:

  1. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ucapan ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memilih tempat tertinggi bersama Allah dan para kekasih-Nya, bukan memilih dunia. Ini pelajaran agar kita juga merindukan akhirat.
  2. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma'arif menyebutkan bahwa ini adalah tanda kesempurnaan tauhid dan mahabbah (cinta) kepada Allah, karena di saat-saat terberat, lisan beliau justru menyebut Allah dan tempat tertinggi bersama-Nya.
  3. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa sakitnya Nabi ﷺ adalah sakit yang paling berat, namun beliau tetap sabar dan bahkan terus mengingat Allah. Ini menunjukkan bahwa iman yang benar akan tampak di saat-saat sulit.
  4. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa ayat-ayat tentang ruh yang tenang (nafs al-muthmainnah) berkaitan erat dengan hadits ini, di mana Nabi ﷺ sebagai manusia paling sempurna jiwanya memilih kembali kepada Allah dengan ridha.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berbeda pendapat apakah "Rafiqul A'la" merujuk hanya kepada Allah atau kepada Allah beserta para nabi dan shalihin. Namun pendapat yang paling kuat menurut Ibnu Hajar dan An-Nawawi adalah mencakup keduanya: Allah dan para kekasih-Nya di tempat tertinggi. Ini karena Nabi ﷺ menggabungkan antara cinta kepada Allah dan cinta kepada para nabi serta orang-orang shalih.

Story Telling

Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ sakit menjelang wafat, beliau bersandar pada dadanya. Beliau mengangkat tangan dan berulang kali mengucapkan, "فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى" hingga ruh beliau berpisah dari jasadnya. Aisyah berkata, "Maka aku tahu bahwa beliau telah memilih tempat tertinggi bersama Allah."

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ juga bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak mencabut nyawa seorang nabi hingga ia diberi pilihan." Maka beliau memilih "Rafiqul A'la" — tempat tertinggi bersama Allah dan para kekasih-Nya.

Hikmahnya: Seorang mukmin sejati tidak takut mati jika ia yakin akan bertemu Allah dan para kekasih-Nya. Kematian bukan akhir, melainkan pintu menuju tempat tertinggi bagi orang yang beriman dan beramal shalih.

Kesimpulan Praktis

  1. Rindukan akhirat, bukan dunia. Nabi ﷺ di akhir hayatnya memilih "Rafiqul A'la", bukan harta atau kekuasaan.
  2. Jaga husnuzhan kepada Allah sampai akhir. Ucapan beliau menunjukkan baik sangka kepada Allah di detik terakhir.
  3. Perbanyak mengingat Allah di saat sakit dan sulit. Ini tanda iman yang kuat.
  4. Cintai para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka adalah "Rafiqul A'la" yang kita harapkan bersama mereka di surga.
  5. Berdoalah agar husnul khatimah. Semoga Allah menjadikan akhir hidup kita dalam keadaan iman dan ridha kepada-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?