Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4428 tentang Penyakit dan kematian Nabi akibat racun Khaibar

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa besarnya ujian yang Allah berikan kepada Nabi-Nya yang paling mulia. Racun yang diberikan oleh seorang wanita Yahudi di Khaibar terus terasa sakitnya hingga akhir hayat beliau. Ini adalah pelajaran tentang kesabaran dalam menghadapi ujian, kejujuran dalam menyampaikan perasaan, dan keyakinan bahwa ajal telah ditentukan Allah sejak azali.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

Shahih Al-Bukhari, Kitab Perang, Bab Penyakit dan Kematian Nabi, no. 4428. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.

Teks Arab Hadits:

وَقَالَ يُونُسُ عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ عُرْوَةُ قَالَتْ عَائِشَةُ ـ رضى الله عنها ـ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ " يَا عَائِشَةُ مَا أَزَالُ أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِي أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ، فَهَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ انْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السَّمِّ "

Makna Ringkas:

'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Nabi ﷺ dalam sakit yang menyebabkan kematiannya, sering berkata, 'Wahai Aisyah! Aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku makan di Khaibar, dan saat ini, aku merasa seolah aortaku terputus akibat racun itu.'"

Kaitan dengan Ulama:

  • Al-Imam Al-Bukhari (w. 256 H) meriwayatkan hadits ini dalam kitab shahihnya.
  • Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan mukjizat Nabi ﷺ karena beliau mengetahui sebab sakitnya, dan juga sebagai pelajaran tentang kesabaran.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menceritakan peristiwa penting di akhir hayat Nabi ﷺ. Kisahnya bermula ketika Perang Khaibar, seorang wanita Yahudi bernama Zainab binti Al-Harits menghadiahkan kepada Nabi ﷺ seekor kambing panggang yang telah diracuni. Beliau ﷺ mengetahui racun itu melalui ilham dari Allah, namun sebagian racun telah tertelan oleh Bisyir bin Al-Barra' radhiyallahu 'anhu yang meninggal karenanya. Nabi ﷺ sendiri selamat dari kematian saat itu, namun racun tersebut terus memberikan efek sakit hingga akhir hayat beliau.

Pemahaman Ulama:

  1. Al-Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa racun yang masuk ke tubuh Nabi ﷺ terus memberikan dampak sakit hingga akhir hayat. Ini bukanlah celaan atau kekurangan pada Nabi, melainkan bentuk ujian yang paling berat bagi manusia paling mulia.
  2. Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ungkapan "putusnya aortaku" (انقطاع أبهري) adalah metafora yang menunjukkan bahwa sakit yang dirasakan sangat berat, seolah-olah urat nadi yang menghubungkan jantung terputus. Ini menunjukkan kejujuran Nabi ﷺ dalam menyampaikan kondisi fisiknya tanpa mengeluh kepada Allah.
  3. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan beberapa hal:
  • Bahwa para nabi dan orang shalih mendapatkan ujian yang paling berat.
  • Bahwa boleh menyampaikan rasa sakit kepada orang lain selama tidak disertai keluhan kepada Allah.
  • Bahwa ajal seseorang telah ditentukan, dan tidak ada yang bisa mempercepat atau menunda.

Pelajaran Penting:

  • Kesabaran Nabi ﷺ dalam menghadapi sakit yang berkepanjangan selama bertahun-tahun.
  • Kejujuran dalam menyampaikan kondisi fisik tanpa berlebihan.
  • Keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika Nabi ﷺ ditawari untuk memilih antara hidup di dunia atau bertemu dengan Allah, beliau memilih bertemu dengan Allah. Dalam sakitnya yang terakhir, beliau bersabda: "لا إله إلا الله، إن للموت سكرات" (Tidak ada Tuhan selain Allah, sesungguhnya kematian memiliki sakarat/sakit yang berat).

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (w. 795 H) dalam Latha'if Al-Ma'arif menjelaskan bahwa meskipun Nabi ﷺ adalah manusia yang paling sempurna imannya dan paling dicintai Allah, beliau tetap merasakan sakitnya kematian. Ini adalah pelajaran bahwa ujian bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan bentuk kasih sayang untuk meninggikan derajat.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersabar dalam ujian - Sebesar apapun ujian yang menimpa, ingatlah bahwa Nabi ﷺ yang paling mulia pun diuji dengan sakit yang berkepanjangan.
  2. Jujur dalam menyampaikan kondisi - Boleh menyampaikan rasa sakit kepada orang lain selama tidak mengeluh kepada Allah.
  3. Yakin dengan takdir - Ajal telah ditentukan, dan tidak ada yang bisa menghalangi.
  4. Mengambil hikmah dari setiap kejadian - Racun yang menimpa Nabi ﷺ menjadi pelajaran tentang bahaya makar dan pentingnya waspada.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.