Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa As-Sa'ib bin Yazid radhiyallahu 'anhu, ketika masih kecil, ikut keluar bersama anak-anak menuju sebuah tempat bernama Tsaniyyatul Wada' untuk menyambut kedatangan Rasulullah ﷺ. Hadits ini menunjukkan betapa besar kecintaan para sahabat kepada Nabi ﷺ, sampai anak-anak pun dilibatkan dalam penyambutan beliau. Ini juga menjadi dalil bolehnya melatih anak-anak dalam kebaikan dan menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi sejak dini.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Maghazi (Kitab Perang), Bab "Bab Surat Nabi ﷺ kepada Kisra dan Qaisar", nomor 4426. Sanadnya: Ali bin Abdullah → Sufyan (bin 'Uyainah) → Az-Zuhri → As-Sa'ib bin Yazid.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ سَمِعْتُ الزُّهْرِيَّ، عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ، يَقُولُ أَذْكُرُ أَنِّي خَرَجْتُ مَعَ الْغِلْمَانِ إِلَى ثَنِيَّةِ الْوَدَاعِ نَتَلَقَّى رَسُولَ اللَّهِ ﷺ. وَقَالَ سُفْيَانُ مَرَّةً مَعَ الصِّبْيَانِ.
Terjemahan: "Dari As-Sa'ib bin Yazid, ia berkata: 'Aku ingat bahwa aku pernah keluar bersama anak-anak laki-laki menuju Tsaniyyatul Wada' untuk menyambut Rasulullah ﷺ.' Dan Sufyan sekali waktu menyebutkan: 'bersama anak-anak kecil.'"
Adapun ayat yang relevan tentang kecintaan kepada Nabi dan kewajiban mengikutinya:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
QS. Ali 'Imran [3]: 31
Terjemahan: "Katakanlah (Muhammad): 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Tsaniyyatul Wada' dan konteks penyambutan.
Tsaniyyatul Wada' adalah sebuah tempat/lereng di dekat Madinah yang biasa digunakan sebagai titik perpisahan atau penyambutan bagi musafir. Dalam konteks hadits ini, Rasulullah ﷺ sedang kembali dari suatu perjalanan (menurut penjelasan para ulama, kemungkinan dari Perang Tabuk atau perjalanan lainnya). Kaum muslimin, termasuk anak-anak, keluar untuk menyambut beliau.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebiasaan kaum muslimin menyambut kedatangan Nabi ﷺ setelah perjalanan, dan bahwa anak-anak pun ikut serta dalam kegiatan ini. Ini menunjukkan bahwa pendidikan kecintaan kepada Nabi ﷺ sudah ditanamkan sejak kecil.
Kedua: Peran anak-anak dalam menyambut Nabi ﷺ.
As-Sa'ib bin Yazid saat itu masih kecil. Imam Az-Zuhri (perawi hadits ini) meriwayatkan langsung dari As-Sa'ib. Dalam riwayat lain, As-Sa'ib bin Yazid dikenal sebagai sahabat yang masih kecil ketika Nabi ﷺ wafat, namun beliau sempat melihat dan berinteraksi dengan Nabi ﷺ.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa keterlibatan anak-anak dalam menyambut Nabi ﷺ menunjukkan:
- Bolehnya mengajak anak-anak dalam kegiatan kebaikan dan syiar Islam.
- Anak-anak yang mumayyiz (sudah bisa membedakan) tetap mendapat keberkahan dan pengalaman berharga.
- Kecintaan kepada Nabi ﷺ adalah perkara yang ditanamkan sejak dini.
Ketiga: Redaksi "Al-Ghilman" dan "Ash-Shibyan".
Sufyan bin 'Uyainah (guru Imam Al-Bukhari dalam hadits ini) terkadang menyebut "الْغِلْمَانِ" (anak-anak laki-laki yang mendekati baligh) dan terkadang "الصِّبْيَانِ" (anak-anak kecil). Ini menunjukkan bahwa yang hadir mencakup berbagai usia anak-anak. Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa perbedaan redaksi ini menunjukkan bahwa baik anak yang sudah mumayyiz maupun yang masih kecil ikut hadir.
Keempat: Kedudukan As-Sa'ib bin Yazid.
As-Sa'ib bin Yazid radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat Nabi ﷺ yang masih kecil pada masa Nabi. Beliau kemudian menjadi salah satu ulama di Madinah dan termasuk perawi hadits yang tsiqah (terpercaya). Imam Az-Zuhri meriwayatkan banyak hadits darinya. Ini menunjukkan bahwa pengalaman beliau menyambut Nabi ﷺ di masa kecil menjadi bagian dari sejarah yang beliau sampaikan kepada generasi berikutnya.
Kelima: Kaitan dengan bab "Surat Nabi ﷺ kepada Kisra dan Qaisar".
Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam bab tentang surat Nabi ﷺ kepada Kisra dan Qaisar. Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengirim surat kepada raja-raja besar, dan ketika beliau kembali dari perjalanan (yang berkaitan dengan dakwah dan penyebaran Islam), kaum muslimin menyambut beliau. Ini menunjukkan bahwa dakwah dan perjalanan Nabi ﷺ selalu mendapat dukungan dan sambutan dari umatnya.
Story Telling
As-Sa'ib bin Yazid radhiyallahu 'anhu menceritakan pengalaman masa kecilnya yang tidak pernah ia lupakan. Ketika itu, ia masih seorang anak kecil. Kabar datang bahwa Rasulullah ﷺ akan tiba di Madinah dari suatu perjalanan. Orang-orang dewasa bersiap-siap menyambut, dan anak-anak pun tidak mau ketinggalan.
As-Sa'ib kecil ikut berlari bersama teman-temannya menuju Tsaniyyatul Wada', sebuah tempat di dekat Madinah. Di sana mereka menunggu dengan hati berdebar-debar. Ketika Rasulullah ﷺ muncul, betapa bahagianya hati mereka. Mereka melihat wajah Nabi ﷺ yang mulia, dan meskipun mereka masih kecil, momen itu terukir kuat dalam ingatan As-Sa'ib.
Bertahun-tahun kemudian, ketika As-Sa'ib sudah dewasa dan menjadi salah satu ulama Madinah, ia menceritakan kisah ini kepada murid-muridnya, termasuk Imam Az-Zuhri. Ia berkata dengan bangga: "Aku ingat betul, aku keluar bersama anak-anak untuk menyambut Rasulullah ﷺ."
Hikmahnya: Pengalaman iman di masa kecil, sekecil apa pun, bisa menjadi fondasi kecintaan kepada Nabi ﷺ sepanjang hidup. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa mengenalkan anak-anak kepada sunnah dan kecintaan kepada Nabi ﷺ adalah bagian dari pendidikan iman yang paling utama.
Kesimpulan Praktis
- Tanamkan cinta kepada Nabi ﷺ sejak dini — ajak anak-anak dalam kegiatan Islami, seperti majelis ilmu, shalat berjamaah, dan kegiatan sosial keagamaan.
- Bolehnya melibatkan anak-anak dalam syiar Islam — seperti menyambut tamu, menghadiri acara keagamaan, dan kegiatan yang menumbuhkan rasa bangga terhadap Islam.
- Hargai pengalaman iman anak — pengalaman spiritual di masa kecil bisa menjadi fondasi keimanan yang kuat di masa dewasa.
- Teladani semangat para sahabat — mereka tidak hanya menyambut Nabi ﷺ dengan fisik, tetapi dengan hati yang penuh cinta dan kesiapan untuk taat.
- Jaga adab dalam menyambut dan menghormati ulama serta pembawa ilmu — sebagaimana para sahabat menyambut Nabi ﷺ dengan penuh hormat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.