Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan besarnya rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala. Siapa pun yang mengucapkan kalimat tauhid "Laa ilaaha illallah" dengan ikhlas dan di dalam hatinya ada keimanan sekecil apa pun, meskipun seberat biji sawi atau atom, maka Allah akan mengeluarkannya dari neraka pada akhirnya. Ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi ahli tauhid, sekaligus menunjukkan bahwa iman itu bertingkat-tingkat dan bisa bertambah serta berkurang.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. An-Nisa' [4]: 48)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Maha Pengampun bagi dosa-dosa selain syirik, termasuk dosa besar sekalipun, bagi hamba-Nya yang dikehendaki. Hadits ini adalah salah satu bentuk pengamalan dari kehendak Allah tersebut.
Hadits yang dimaksud:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab "Ziyadatul Iman wa Nuqshanuhu" (Penambahan dan Pengurangan Iman), no. 44. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Muhammad ﷺ.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari (w. 256 H) meletakkan hadits ini dalam bab khusus tentang iman yang bisa bertambah dan berkurang. Ini menunjukkan pemahaman beliau bahwa kadar keimanan seseorang berbeda-beda, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini dengan ukuran "seberat biji barley", "seberat biji gandum", dan "seberat atom".
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam kitab Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan kalimat tauhid dan bahwa iman itu memiliki timbangan (kadar) yang berbeda di sisi Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa "kebaikan" (khair) dalam hadits ini ditafsirkan oleh riwayat lain sebagai "iman".
- Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa orang yang memiliki iman sekecil apa pun di hatinya, meskipun ia melakukan dosa-dosa besar, maka ia tidak akan kekal di neraka. Ia akan dikeluarkan setelah dibersihkan dosa-dosanya.
Penjelasan Rinci
Hadits yang mulia ini memberikan beberapa pelajaran penting:
- Keutamaan Kalimat Tauhid: Kalimat "Laa ilaaha illallah" adalah kunci surga. Siapa yang mengucapkannya dengan keyakinan penuh di hati, maka ia akan selamat dari kekekalan di neraka. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kalimat ini memiliki syarat dan rukun, yaitu ilmu, yakin, ikhlas, jujur, cinta, dan tunduk. Hadits ini menunjukkan bahwa meskipun iman seseorang sangat lemah (seberat atom), kalimat tauhid tetap memberikan manfaat yang besar di akhirat.
- Iman Bertingkat-Tingkat: Hadits ini dengan jelas menyebutkan tiga ukuran iman: seberat biji barley (sya'irah), seberat biji gandum (burrah), dan seberat atom (dzarrah). Ini menunjukkan bahwa iman manusia tidak sama. Ada yang kuat, ada yang lemah. Inilah yang menjadi dasar pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwa iman bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H) berkata, "Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang." Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) juga berpegang teguh pada prinsip ini.
- Rahmat Allah yang Luas: Hadits ini adalah kabar gembira bagi setiap muslim yang memiliki kelemahan dalam iman. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Selama masih ada secercah keimanan di hati, meskipun sangat kecil, maka ada harapan untuk keluar dari neraka. Namun, ini bukan berarti kita boleh meremehkan dosa. Justru, kita harus berusaha keras untuk meningkatkan iman kita agar selamat dengan selamat sempurna tanpa harus masuk neraka terlebih dahulu.
- Pentingnya Iman di Hati: Ukuran yang disebutkan adalah "kebaikan" (khair) yang ada di dalam hati. Dalam riwayat lain yang disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dari jalur Aban, lafaznya adalah "min iman" (dari iman). Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan "kebaikan" di sini adalah iman itu sendiri. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam kitabnya Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa iman adalah substansi kebaikan yang paling utama. Tanpa iman, semua amal kebaikan tidak akan bernilai di akhirat.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
> "Kami pernah duduk bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda: 'Siapa di antara kalian yang imannya bertambah hari ini?' Maka seorang laki-laki dari kaum Anshar berkata, 'Wahai Rasulullah, aku tidak suka jika imanku bertambah dan berkurang.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Katakanlah perkataan yang baik, atau diamlah.' Lalu laki-laki itu berkata, 'Wahai Rasulullah, aku tidak suka jika imanku bertambah dan berkurang.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya iman itu bisa bertambah dan berkurang.'" (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dengan sanad yang hasan)
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat pun ada yang belum memahami bahwa iman itu bertingkat. Namun, Nabi ﷺ mengajarkan bahwa iman itu dinamis, bisa naik dan turun. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk selalu berdoa memohon keteguhan iman, sebagaimana doa yang diajarkan dalam Al-Qur'an:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." (QS. Ali Imran [3]: 8)
Kesimpulan Praktis
- Jaga dan Perkuat Kalimat Tauhid: Ucapkan "Laa ilaaha illallah" dengan penuh keyakinan dan amalkan konsekuensinya dalam kehidupan sehari-hari.
- Sadari Bahwa Iman Bisa Naik dan Turun: Jangan pernah merasa puas dengan iman yang ada. Selalu berusaha untuk meningkatkannya dengan ilmu, ibadah, dan taubat.
- Jangan Meremehkan Dosa: Meskipun rahmat Allah luas, janganlah kita bermaksiat dengan alasan akan diampuni. Takutlah akan siksa Allah dan berharaplah hanya kepada rahmat-Nya.
- Perbanyak Doa: Mohonlah kepada Allah agar diteguhkan iman kita hingga akhir hayat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.