Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4371 tentang Sejarah Jumat pertama setelah masjid Nabi di Bahrain

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa shalat Jumat pertama yang dilaksanakan oleh kaum muslimin di luar Madinah adalah di masjid kabilah Abdul Qais, tepatnya di desa Jawatsa (atau Juatsa) di daerah Bahrain. Ini menunjukkan betapa cepatnya syiar Islam menyebar, dan para sahabat sangat bersemangat menegakkan syiar agama, termasuk shalat Jumat, di negeri mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Maghazi, Bab Delegasi Abdul Qais, nomor 4371. Berikut teks haditsnya:

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُعْفِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ عَبْدُ الْمَلِكِ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ ـ هُوَ ابْنُ طَهْمَانَ ـ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، رضى الله عنهما قَالَ: أَوَّلُ جُمُعَةٍ جُمِّعَتْ بَعْدَ جُمُعَةٍ جُمِّعَتْ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي مَسْجِدِ عَبْدِ الْقَيْسِ بِجُوَاثَى. يَعْنِي قَرْيَةً مِنَ الْبَحْرَيْنِ.

Terjemahan: Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, "Jumat pertama yang dilaksanakan setelah Jumat yang dilaksanakan di Masjid Rasulullah ﷺ adalah di masjid Abdul Qais di Jawatsa." Yaitu sebuah desa di Bahrain.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari di tempat lain (nomor 892) dan Imam Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud "setelah Jumat di Masjid Nabawi" adalah setelah shalat Jumat yang pertama kali disyariatkan dan dilaksanakan oleh Nabi ﷺ di Madinah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

  1. Keutamaan Masjid Nabawi dan Shalat Jumat Pertama. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa shalat Jumat pertama yang disyariatkan dan dilaksanakan oleh Nabi ﷺ adalah di Masjid Nabawi di Madinah. Ini adalah pondasi utama syiar Jumat.
  2. Semangat Para Sahabat dalam Menegakkan Syiar. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin dan kitab-kitabnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa para sahabat dari kabilah Abdul Qais sangat bersemangat. Begitu mereka masuk Islam dan kembali ke negeri mereka, hal pertama yang mereka tegakkan adalah shalat Jumat. Ini adalah bukti kecintaan mereka kepada agama dan keinginan kuat untuk segera mengamalkan perintah Allah.
  3. Kapan Waktu Terjadinya. Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Sebagian ulama berpendapat ini terjadi pada tahun ke-9 Hijriah ketika delegasi Abdul Qais datang menghadap Nabi ﷺ. Namun, Imam Ibnu Hajar menguatkan bahwa peristiwa ini terjadi lebih awal, dan hadits ini hanya mengabarkan bahwa Jumat pertama di luar Madinah adalah di Jawatsa. Yang terpenting adalah pelajaran dari hadits ini, bukan penetapan tanggal pastinya.
  4. Pelajaran tentang Urutan Prioritas. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan prinsip penting: ketika seseorang masuk Islam, ia harus segera menegakkan kewajiban-kewajiban utama, dan shalat Jumat adalah salah satu syiar yang agung. Ini menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya berhenti pada keimanan di hati, tetapi harus diwujudkan dalam amal nyata.
  5. Keutamaan Kabilah Abdul Qais. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan kabilah Abdul Qais. Mereka adalah kabilah yang terkenal dengan keimanan dan ketulusan mereka. Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, Nabi ﷺ bersabda kepada delegasi Abdul Qais: "Selamat datang kepada kalian, suatu kaum yang tidak merasa hina dan tidak menyesal." (HR. Al-Bukhari).

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang semangat para sahabat dari kabilah Abdul Qais. Ketika delegasi mereka datang menghadap Nabi ﷺ di Madinah, mereka bertanya tentang iman dan apa yang harus mereka amalkan. Nabi ﷺ bersabda: "Berimanlah kepada Allah, dan bersaksilah bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah seperlima dari harta rampasan." (HR. Al-Bukhari).

Yang menarik, meskipun mereka datang dari tempat yang jauh, mereka tidak menunda-nunda untuk mengamalkan apa yang mereka pelajari. Begitu kembali ke negeri mereka, mereka segera membangun masjid dan menegakkan shalat Jumat di sana. Masjid itu menjadi masjid pertama di luar Madinah yang digunakan untuk shalat Jumat. Ini adalah bukti bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang segera diamalkan.

Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata, "Bukanlah ilmu itu dengan banyak meriwayatkan, tetapi ilmu itu adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati." Semangat para sahabat Abdul Qais menunjukkan bahwa mereka benar-benar memahami ilmu dengan hati, lalu mengamalkannya dengan segera.

Kesimpulan Praktis

  1. Segera amalkan ilmu yang kita pelajari. Jangan menunda-nunda kebaikan, sebagaimana para sahabat Abdul Qais yang segera menegakkan shalat Jumat setelah kembali ke negeri mereka.
  2. Jadikan masjid sebagai pusat kegiatan. Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat dakwah dan pendidikan.
  3. Jaga semangat dalam beribadah. Shalat Jumat adalah syiar Islam yang agung. Hendaknya kita menjaganya dengan penuh perhatian dan keikhlasan.
  4. Teladani para sahabat dalam ketaatan. Mereka adalah generasi terbaik yang langsung mengamalkan perintah Nabi ﷺ tanpa ragu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.