Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kisah mukjizat Nabi ﷺ yang agung, yaitu kisah pasukan ekspedisi ke pantai (Sif Al-Bahr) yang dipimpin oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Di tengah perjalanan, perbekalan mereka habis hingga hanya tersisa satu butir kurma per orang per hari. Kemudian Allah ﷻ menunjukkan kekuasaan-Nya dengan mengirimkan seekor ikan raksasa yang terdampar di pantai, sehingga 300 orang pasukan dapat memakan dagingnya selama 18 hari. Kisah ini mengajarkan kita tentang keutamaan tawakal, kesabaran, keberkahan, dan mukjizat yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perang, Bab Perang Sif Al-Bahr, no. 4360, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma.
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda kutip):
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ وَهْبِ بْنِ كَيْسَانَ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنهما ـ أَنَّهُ قَالَ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بَعْثًا قِبَلَ السَّاحِلِ وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ وَهُمْ ثَلاَثُمِائَةٍ، فَخَرَجْنَا وَكُنَّا بِبَعْضِ الطَّرِيقِ فَنِيَ الزَّادُ فَأَمَرَ أَبُو عُبَيْدَةَ بِأَزْوَادِ الْجَيْشِ، فَجُمِعَ فَكَانَ مِزْوَدَىْ تَمْرٍ، فَكَانَ يَقُوتُنَا كُلَّ يَوْمٍ قَلِيلٌ قَلِيلٌ حَتَّى فَنِيَ، فَلَمْ يَكُنْ يُصِيبُنَا إِلاَّ تَمْرَةٌ تَمْرَةٌ فَقُلْتُ مَا تُغْنِي عَنْكُمْ تَمْرَةٌ فَقَالَ لَقَدْ وَجَدْنَا فَقْدَهَا حِينَ فَنِيَتْ. ثُمَّ انْتَهَيْنَا إِلَى الْبَحْرِ، فَإِذَا حُوتٌ مِثْلُ الظَّرِبِ فَأَكَلَ مِنْهَا الْقَوْمُ ثَمَانَ عَشْرَةَ لَيْلَةً، ثُمَّ أَمَرَ أَبُو عُبَيْدَةَ بِضِلَعَيْنِ مِنْ أَضْلاَعِهِ فَنُصِبَا، ثُمَّ أَمَرَ بِرَاحِلَةٍ فَرُحِلَتْ ثُمَّ مَرَّتْ تَحْتَهُمَا فَلَمْ تُصِبْهُمَا.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. At-Taghabun [64]: 17
إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
"Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah akan melipatgandakannya untukmu dan mengampunimu. Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Penyantun."
Ayat ini menunjukkan bahwa siapa yang mengorbankan hartanya di jalan Allah (seperti pasukan yang mengumpulkan perbekalan mereka), maka Allah akan menggantinya dengan keberkahan yang berlipat ganda.
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk tentang keajaiban ikan tersebut dan pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya. Beliau menukil perkataan para ulama tentang keutamaan Abu Ubaidah dan kejadian mukjizat ini.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Keutamaan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah
Abu Ubaidah adalah salah satu sahabat yang dijamin masuk surga dan dijuluki Amin (kepercayaan) umat ini oleh Nabi ﷺ. Dalam hadits ini, beliau ditunjuk langsung oleh Rasulullah ﷺ sebagai pemimpin pasukan, yang menunjukkan kepercayaan Nabi ﷺ yang sangat besar kepadanya. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa pengangkatan Abu Ubaidah sebagai pemimpin adalah bukti keutamaannya di antara para sahabat.
2. Kisah Kesabaran dan Tawakal Pasukan
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan betapa tingginya kesabaran para sahabat. Mereka rela berbagi makanan yang sangat sedikit, bahkan sampai hanya satu butir kurma per orang per hari. Ini adalah pelajaran tentang itsar (mendahulukan orang lain) dan qana'ah (merasa cukup dengan apa yang ada). Jabir berkata, "Kami mengetahui nilai kurma itu ketika ia telah habis." Ini menunjukkan bahwa nikmat yang kecil pun akan terasa besar nilainya ketika hilang.
3. Mukjizat Ikan Raksasa
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ikan yang mereka temukan adalah ikan bernama al-'Anbar (ikan paus/amber). Ukurannya sangat besar, seperti gunung kecil. Para sahabat memakan dagingnya selama 18 hari. Bahkan dua tulang rusuknya saja bisa dijadikan seperti gerbang besar yang bisa dilewati unta di bawahnya. Ini adalah mukjizat nyata yang Allah perlihatkan kepada pasukan tersebut sebagai balasan atas kesabaran dan tawakal mereka.
4. Pelajaran tentang Kepemimpinan
Abu Ubaidah sebagai pemimpin tidak memakan makanan sendiri, tetapi mengumpulkan semua perbekalan dan membaginya secara adil. Ini adalah contoh kepemimpinan yang amanah dan adil. Beliau tidak memprioritaskan dirinya sendiri, tetapi memikirkan kepentingan seluruh pasukan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam salah satu ceramahnya menyebutkan bahwa pemimpin yang baik adalah yang mengutamakan rakyatnya dan bersikap adil dalam pembagian.
5. Keberkahan dalam Kebersamaan
Ketika perbekalan dikumpulkan, ternyata hanya berjumlah dua kantong kurma untuk 300 orang. Namun dengan keberkahan Allah, mereka bisa bertahan selama berhari-hari. Ini menunjukkan bahwa keberkahan ada dalam kebersamaan dan berbagi, bukan dalam menumpuk harta sendiri. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa keberkahan rezeki datang dari sikap berbagi dan tolong-menolong.
Story Telling
Ada kisah yang sangat terkenal tentang keutamaan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Ketika terjadi perang Uhud, Rasulullah ﷺ terluka dan dua mata rantai besi dari topi perang beliau tertancap di pipi beliau. Abu Ubaidah yang berada di dekat beliau segera mencabut rantai tersebut dengan giginya. Rantai pertama tercabut, namun gigi Abu Ubaidah patah. Rantai kedua juga dicabut dengan gigi yang lain, dan gigi itu pun patah lagi. Maka Abu Ubaidah menjadi orang yang ompong di bagian depan giginya karena membela Rasulullah ﷺ.
Kisah ini menunjukkan pengorbanan dan kecintaan Abu Ubaidah kepada Nabi ﷺ. Maka tidak heran jika Rasulullah ﷺ mempercayakan beliau untuk memimpin pasukan dalam ekspedisi yang penuh ujian ini. Dan Allah ﷻ memberikan kemudahan dan mukjizat kepada pasukan yang dipimpin oleh hamba-Nya yang shalih.
Kesimpulan Praktis
- Tawakal kepada Allah dalam setiap keadaan, terutama saat menghadapi kesulitan. Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang berserah diri kepada-Nya.
- Sabar dan qana'ah dalam menghadapi kekurangan. Para sahabat rela dengan satu butir kurma per hari, dan Allah menggantinya dengan makanan yang melimpah.
- Berbagi dan mengutamakan orang lain (itsar). Abu Ubaidah mengumpulkan semua makanan dan membaginya secara adil, bukan menyimpannya untuk dirinya sendiri.
- Pemimpin yang amanah harus mengutamakan kepentingan yang dipimpinnya, bukan kepentingan pribadi.
- Yakin bahwa pertolongan Allah datang setelah kesabaran. Pasukan ini hampir mati kelaparan, namun Allah mengirimkan ikan raksasa sebagai makanan mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.