Penjelasan Hadits Bukhari No. 4356 tentang Penghancuran berhala Dhu-l-Khalasa oleh Jarir

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan perintah Nabi ﷺ kepada Jarir bin Abdullah al-Bajali رضي الله عنه untuk menghancurkan berhala bernama Dzu-l-Khalashah, yang dijadikan tandingan Ka'bah oleh sebagian kabilah Arab. Jarir melaksanakan perintah itu dengan 150 pasukan berkuda, dan Nabi ﷺ mendoakan keteguhan serta keberkahan bagi pasukan Ahmas. Hadits ini menunjukkan kewajiban menegakkan tauhid dan menghapus kesyirikan, serta keutamaan Jarir bin Abdullah dan kabilah Ahmas.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 256

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Terjemahan: "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Maghazi (Perang), Bab Perang Dzu-l-Khalashah, dari Jarir bin Abdullah al-Bajali رضي الله عنه melalui jalur Qais bin Abi Hazim.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalil tegas tentang bolehnya menghancurkan sarana kesyirikan, dan bahwa Nabi ﷺ mengutus Jarir untuk menghancurkan Dzu-l-Khalashah karena ia dijadikan sebagai tandingan Ka'bah.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Dzu-l-Khalashah adalah sebuah rumah/bangunan yang diagungkan oleh kabilah Khatham dan sekitarnya, yang mereka sebut "Al-Ka'bah Al-Yamaniyah" (Ka'bah-nya Yaman). Ini adalah bentuk kesyirikan karena menjadikan tempat ibadah tandingan bagi Ka'bah yang Allah perintahkan untuk diagungkan. Nabi ﷺ memerintahkan Jarir untuk menghancurkannya.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  1. Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam Kitab Al-Maghazi, menunjukkan bahwa ini bagian dari jihad menegakkan tauhid.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan:
  • Hadits ini menunjukkan keutamaan Jarir bin Abdullah رضي الله عنه.
  • Doa Nabi ﷺ "اللَّهُمَّ ثَبِّتْهُ وَاجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا" adalah doa yang mustajab, dan Jarir menjadi salah satu tokoh yang teguh dalam Islam.
  • Menghancurkan berhala dan sarana kesyirikan adalah bagian dari menegakkan agama.
  1. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya meminta bantuan dalam kebaikan, dan bahwa doa Nabi ﷺ kepada seseorang adalah bukti keutamaan orang tersebut.
  2. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam prinsip-prinsip tauhid menegaskan bahwa menghapus kesyirikan adalah inti dakwah para nabi, dan hadits ini adalah praktik nyata dari prinsip tersebut.
  3. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid menyebutkan hadits-hadits tentang penghancuran berhala sebagai bab tersendiri, menunjukkan pentingnya membersihkan bumi dari kesyirikan.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama membahas apakah penghancuran berhala harus dilakukan oleh pemerintah (imam) atau boleh oleh individu. Pendapat yang kuat menurut dalil: ini adalah wewenang pemimpin atau yang diberi izin, sebagaimana Nabi ﷺ mengutus Jarir secara resmi. Namun jika seseorang melihat kemungkaran, ia mengubahnya sesuai kemampuan dan wewenangnya, sebagaimana kaidah dalam hadits "Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya..." (HR. Muslim).

Kisah Jarir dan doa Nabi ﷺ:

Jarir رضي الله عنه mengaku tidak bisa duduk tegak di atas kuda. Nabi ﷺ memukul dadanya dan mendoakannya. Ini menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ dan kekuatan doa beliau. Setelah itu Jarir menjadi penunggang kuda yang tangguh, dan berhasil menghancurkan Dzu-l-Khalashah.

Keberkahan untuk Ahmas:

Nabi ﷺ mendoakan keberkahan bagi kuda dan pasukan Ahmas lima kali. Ini menunjukkan apresiasi Nabi ﷺ terhadap pasukan yang berjihad di jalan Allah.

Story Telling

Dikisahkan oleh Qais bin Abi Hazim, bahwa Jarir bin Abdullah al-Bajali رضي الله عنه berkata:

Suatu hari, Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku dengan nada permintaan yang penuh kelembutan: "Tidakkah kamu ingin melepaskanku dari Dzu-l-Khalashah?"

Dzu-l-Khalashah adalah sebuah bangunan yang diagungkan di daerah Khatham, yang oleh orang-orang jahiliyah disebut "Ka'bah Yaman". Mereka mengagungkannya seperti mengagungkan Ka'bah di Makkah, bahkan melakukan thawaf di sana. Ini adalah kesyirikan yang harus dihapus.

Jarir pun berangkat dengan 150 pasukan berkuda dari kabilah Ahmas. Namun, Jarir bukanlah penunggang kuda yang mahir. Ia berkata: "Aku tidak bisa duduk tegak di atas kuda." Maka Nabi ﷺ memukul dadanya dengan lembut hingga Jarir melihat bekas jari-jari Nabi ﷺ di dadanya. Lalu Nabi ﷺ berdoa:

"Ya Allah, teguhkanlah dia dan jadikanlah dia sebagai pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk."

Sejak saat itu, Jarir menjadi penunggang kuda yang tangguh. Ia berangkat menuju Dzu-l-Khalashah, membongkar dan membakarnya hingga rata dengan tanah. Kemudian ia mengirim utusan kepada Nabi ﷺ untuk menyampaikan kabar gembira.

Utusan itu berkata: "Demi Dia yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak meninggalkan tempat itu hingga ia seperti unta yang berpenyakit (yakni hancur dan tidak berbekas)."

Mendengar kabar itu, Nabi ﷺ mendoakan keberkahan bagi kuda-kuda Ahmas dan para pasukannya, lima kali.

(Hikmah: Kisah ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah datang melalui doa Nabi ﷺ, dan bahwa kelemahan seseorang bisa berubah menjadi kekuatan dengan doa orang saleh. Juga menunjukkan bahwa menghancurkan kesyirikan adalah bagian dari menegakkan tauhid.)

Kesimpulan Praktis

  1. Tauhid adalah prioritas utama — Menghapus kesyirikan dan menegakkan tauhid adalah inti dakwah para nabi, termasuk Nabi Muhammad ﷺ.
  2. Menghancurkan sarana kesyirikan — Jika ada berhala, tempat ibadah tandingan, atau simbol kesyirikan, maka menghapusnya adalah bagian dari menegakkan agama, dengan tetap memperhatikan wewenang dan cara yang benar.
  3. Doa orang saleh mustajab — Doa Nabi ﷺ kepada Jarir mengubah kelemahannya menjadi kekuatan. Ini mengajarkan kita untuk mencari doa dari orang-orang saleh dan mendoakan kebaikan bagi sesama.
  4. Apresiasi terhadap pejuang agama — Nabi ﷺ mendoakan keberkahan bagi pasukan Ahmas, menunjukkan pentingnya menghargai dan mendoakan mereka yang berjihad di jalan Allah.
  5. Kelemahan bukan penghalang — Jarir yang tidak bisa menunggang kuda menjadi komandan pasukan berkuda setelah doa Nabi ﷺ. Ini mengajarkan bahwa Allah mampu mengubah keadaan seseorang.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?