Penjelasan Hadits Bukhari No. 4319 tentang Rasulullah memberi pilihan tawanan atau harta kepada Hawazin

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan tentang kedermawanan dan kelembutan akhlak Nabi ﷺ ketika delegasi Bani Hawazin yang telah masuk Islam datang meminta kembali harta dan tawanan mereka yang dirampas dalam Perang Hunain. Nabi ﷺ memberikan pilihan kepada mereka antara harta atau tawanan, dan mereka memilih tawanan. Beliau kemudian meminta para sahabat dengan sukarela mengembalikan tawanan tersebut, dan semua sahabat dengan ikhlas menyetujuinya. Hadits ini mengajarkan tentang keutamaan memaafkan, mengutamakan orang lain (itsar), dan kepemimpinan yang bijaksana dalam menyelesaikan konflik.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Firman Allah tentang Perang Hunain:

QS. At-Taubah [9]: 25

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

"Sungguh, Allah telah menolong kamu (Muhammad) di banyak medan perang, dan pada hari Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakanmu, tetapi (jumlah itu) tidak berguna bagimu sedikit pun, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang (lari)."

Hadits Terkait:

Hadits yang sedang kita bahas ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perang, Bab tentang Firman Allah: "Dan pada hari Hunain..." (HR. Al-Bukhari no. 4319), dari sahabat Al-Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Al-Hakam.

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab) dari Urwah bin Az-Zubair, yang keduanya merupakan ulama tabi'in terkemuka. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan ayat ini dengan merujuk pada peristiwa yang sama, dan menyebutkan bahwa pelajaran dari Perang Hunain adalah agar kaum Muslimin tidak berbangga dengan jumlah dan kekuatan, karena kemenangan hanya datang dari Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

1. Latar Belakang Peristiwa

Peristiwa ini terjadi setelah Perang Hunain dan pengepungan Thaif. Kaum Hawazin telah dikalahkan, harta dan tawanan mereka dirampas sebagai ghanimah (rampasan perang). Kemudian delegasi Hawazin datang menghadap Nabi ﷺ dalam keadaan telah masuk Islam, memohon agar harta dan tawanan mereka dikembalikan.

2. Sikap Nabi ﷺ yang Bijaksana

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak langsung memberikan keputusan sepihak, tetapi memberikan pilihan yang adil: antara harta atau tawanan. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus bijaksana dan tidak memaksakan kehendak, tetapi memberikan ruang musyawarah.

3. Kedermawanan Para Sahabat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa-nya menyebutkan bahwa sikap para sahabat yang dengan sukarela mengembalikan tawanan menunjukkan tingginya akhlak mereka. Mereka lebih mengutamakan kepentingan saudara-saudara mereka yang baru masuk Islam daripada kepentingan pribadi. Ini adalah contoh nyata dari itsar (mengutamakan orang lain).

4. Hikmah Penundaan Keputusan

Nabi ﷺ menunda keputusan selama beberapa malam dan meminta para sahabat bermusyawarah melalui pemimpin-pemimpin mereka. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini adalah bentuk kehati-hatian Nabi ﷺ agar keputusan diambil dengan kesepakatan bersama, bukan paksaan. Beliau tidak ingin ada di antara sahabat yang merasa dirugikan atau terpaksa.

5. Pelajaran dari Ayat tentang Perang Hunain

Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan agar manusia tidak sombong dengan kekuatan dan jumlah. Ketika kaum Muslimin merasa bangga dengan jumlah mereka yang besar di Hunain, Allah ingin mengajarkan bahwa kemenangan sejati datang dari pertolongan Allah, bukan dari jumlah pasukan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika delegasi Hawazin datang, salah seorang di antara mereka adalah Syaikh yang sudah lanjut usia. Ia berkata kepada Nabi ﷺ: "Wahai Muhammad, di antara tawanan-tawanan itu terdapat ibu-ibu yang menyusui, bibi-bibi, dan kerabat-kerabat kami. Kami telah tertimpa musibah yang tidak menimpa siapa pun. Maka berbelas kasihanlah kepada kami, semoga Allah memberkahimu."

Nabi ﷺ menjawab dengan penuh kelembutan: "Pilihlah salah satu dari dua: harta atau tawanan." Mereka memilih tawanan. Kemudian Nabi ﷺ berdiri di hadapan kaum Muslimin dan menyampaikan permintaan tersebut. Para sahabat yang hadir—termasuk mereka yang mendapat bagian tawanan—dengan ikhlas mengembalikannya. Bahkan disebutkan bahwa sebagian sahabat yang awalnya enggan, akhirnya menyetujui setelah dimusyawarahkan oleh para pemimpin mereka.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Nabi ﷺ dibangun di atas kasih sayang, musyawarah, dan keikhlasan. Beliau tidak memerintah dengan paksaan, tetapi mengajak dengan kelembutan sehingga hati semua orang menjadi lapang.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan berbangga dengan jumlah dan kekuatan — kemenangan sejati datang dari Allah, sebagaimana pelajaran dari Perang Hunain.
  2. Menjadi pemimpin yang bijaksana — Nabi ﷺ memberikan pilihan dan mengajak musyawarah, tidak memaksakan kehendak.
  3. Melatih jiwa untuk itsar (mengutamakan orang lain) — para sahabat dengan ikhlas mengembalikan tawanan demi saudara mereka yang baru masuk Islam.
  4. Memaafkan dan berlemah lembut kepada yang meminta maaf — Nabi ﷺ menerima kedatangan Hawazin yang baru masuk Islam dengan tangan terbuka.
  5. Keputusan bersama lebih berkah — Nabi ﷺ menunggu kesepakatan semua pihak sebelum memutuskan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?