Penjelasan Hadits Bukhari No. 431 tentang Shalat gerhana dan peringatan tentang dahsyatnya neraka

Penjelasan Hadits Shahih Al-Bukhari No. 431

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, menceritakan bahwa ketika terjadi gerhana matahari, Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat gerhana, lalu setelahnya beliau menyampaikan bahwa beliau diperlihatkan neraka dan tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada itu. Hadits ini mengajarkan kepada kita tentang dahsyatnya neraka, pentingnya shalat gerhana, dan dorongan untuk berlindung dari neraka.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 24

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا وَلَن تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

"Maka jika kamu tidak dapat melakukan(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat melakukan(nya), peliharalah dirimu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Shalat, Bab Siapa yang Shalat di Depannya Ada Tungku atau Api. Sanadnya: Abdullah bin Maslamah → Malik (Imam Malik bin Anas) → Zaid bin Aslam → 'Atha' bin Yasar → Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Hadits ini juga memiliki syawahid (penguat) dari riwayat lain, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Aisyah, dan Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhum dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang shalat gerhana dan diperlihatkannya neraka kepada Nabi ﷺ.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) meriwayatkan hadits ini dalam kitab Shahih-nya, menunjukkan bahwa beliau menilai hadits ini shahih dan berhujjah dengannya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya shalat gerhana dan bahwa Nabi ﷺ diperlihatkan neraka secara hakiki.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa penglihatan Nabi ﷺ terhadap neraka adalah penglihatan yang sebenarnya (bukan mimpi), sebagai bagian dari mukjizat beliau.

Penjelasan Rinci

1. Konteks hadits — shalat gerhana:

Hadits ini terjadi ketika matahari mengalami gerhana pada zaman Nabi ﷺ. Para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa peristiwa gerhana matahari yang dimaksud terjadi pada hari wafatnya Ibrahim, putra Nabi ﷺ, dan sebagian orang mengaitkan gerhana dengan kematian Ibrahim. Maka Nabi ﷺ menegaskan bahwa gerhana bukanlah tanda kematian atau kelahiran seseorang, melainkan salah satu tanda kekuasaan Allah.

2. Shalat gerhana (Shalat Kusuf):

Imam Malik bin Anas dalam Al-Muwaththa' — yang menjadi jalur periwayatan hadits ini — meriwayatkan tata cara shalat gerhana dengan dua rakaat, di mana pada setiap rakaat dilakukan dua kali ruku'. Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal juga berpendapat demikian berdasarkan hadits-hadits shahih lainnya. Imam Abu Hanifah berpendapat shalat gerhana dilakukan seperti shalat biasa dua rakaat, namun pendapat yang lebih kuat menurut dalil adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama) yaitu dua rakaat dengan dua kali ruku' pada setiap rakaat, berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu 'anha dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim.

3. Diperlihatkannya neraka kepada Nabi ﷺ:

Nabi ﷺ bersabda: "Aku telah diperlihatkan neraka, dan aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada pemandangan yang aku lihat hari ini."

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa penglihatan ini adalah penglihatan hakiki yang Allah berikan kepada Nabi ﷺ, bukan sekadar perumpamaan. Ini menunjukkan betapa dahsyatnya azab neraka. Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika membahas ayat-ayat tentang neraka menegaskan bahwa neraka adalah makhluk Allah yang nyata, yang telah diciptakan dan disediakan bagi orang-orang yang durhaka.

Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab Hadi al-Arwah (atau Ruh) dan Darul Masyhur menjelaskan bahwa renungan tentang neraka seharusnya membuat hati seorang mukmin bergetar dan mendorongnya untuk bertaubat serta menjauhi maksiat.

4. Hikmah diperlihatkannya neraka dalam shalat gerhana:

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Allah memperlihatkan neraka kepada Nabi ﷺ pada saat shalat gerhana sebagai peringatan bagi umat manusia. Gerhana adalah tanda kekuasaan Allah, dan neraka adalah tempat azab yang mengerikan. Maka momen gerhana menjadi momen untuk merenungi kebesaran Allah dan azab-Nya, sehingga manusia kembali kepada-Nya dengan taubat dan amal saleh.

5. Sabda "Aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan":

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa ucapan Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwa neraka adalah pemandangan paling mengerikan yang pernah beliau lihat. Ini menjadi peringatan keras bagi umat agar tidak meremehkan dosa dan tidak merasa aman dari azab Allah.

6. Perbedaan pendapat tentang apakah Nabi ﷺ melihat neraka secara langsung:

Sebagian ulama menjelaskan bahwa Nabi ﷺ melihat neraka secara hakiki pada malam Isra' Mi'raj dan juga pada saat shalat gerhana ini. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa penglihatan ini bisa jadi penglihatan langsung (ru'yah bashariyyah) atau penglihatan melalui kasyf (terbuka hijab). Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa itu penglihatan hakiki karena Nabi ﷺ menyatakan "aku telah diperlihatkan" (أُرِيتُ) yang menunjukkan penglihatan yang nyata.

Story Telling

Diceritakan bahwa ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi ﷺ, beliau segera bangkit dan melaksanakan shalat gerhana dengan penuh kekhusyukan. Setelah selesai, beliau berkhutbah di hadapan para sahabat. Dalam khutbahnya, beliau menyampaikan bahwa beliau diperlihatkan neraka dan tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan.

Aisyah radhiyallahu 'anha dalam riwayat lain menceritakan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Aku melihat neraka, dan aku melihat di dalamnya ada orang yang memakan daging manusia..." — menunjukkan bahwa neraka itu nyata dan azabnya mengerikan.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma — perawi hadits ini — adalah seorang sahabat yang sangat muda namun sangat dalam ilmunya. Beliau meriwayatkan hadits ini langsung dari Nabi ﷺ, dan hadits ini menjadi salah satu dalil penting tentang shalat gerhana dan tentang hakikat neraka.

Hikmah: Seorang mukmin hendaknya menjadikan peristiwa gerhana sebagai momen untuk introspeksi, memperbanyak istighfar, dan berlindung kepada Allah dari azab neraka. Nabi ﷺ sendiri berlindung dari neraka dalam doa-doa beliau, sebagaimana dalam hadits: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka."

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat gerhana disyariatkan ketika terjadi gerhana matahari atau bulan, dilakukan dua rakaat dengan dua kali ruku' pada setiap rakaat menurut pendapat yang lebih kuat (jumhur ulama: Malik, Syafi'i, Ahmad).
  2. Neraka adalah nyata dan mengerikan. Nabi ﷺ diperlihatkan neraka dan menyatakan tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan. Ini mendorong kita untuk serius menjauhi dosa dan maksiat.
  3. Perbanyak berlindung dari neraka. Nabi ﷺ mengajarkan doa berlindung dari azab neraka, dan kita hendaknya membiasakan diri membaca doa tersebut.
  4. Gerhana adalah tanda kekuasaan Allah. Ketika terjadi gerhana, hendaknya kita mengingat Allah, berdoa, beristighfar, dan melaksanakan shalat gerhana — bukan mengaitkannya dengan mitos atau takhayul.
  5. Taubat dan amal saleh adalah jalan keselamatan. Ibnul Qayyim menegaskan bahwa mengingat neraka akan mendorong hati untuk bertaubat dan bersungguh-sungguh dalam beramal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?