Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Abdullah bin Tsa'labah bin Shu'air radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang wajahnya pernah diusap langsung oleh Nabi ﷺ pada tahun Fathu Makkah (Pembebasan Makkah). Ini menunjukkan keutamaan besar beliau dan menjadi bukti kasih sayang Nabi ﷺ kepada para sahabatnya. Hadits ini juga menjadi dalil bahwa menyentuh atau mengusap dengan tangan Nabi ﷺ membawa keberkahan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Maghazi (Kitab Peperangan), nomor 4300. Sanadnya: Al-Layts bin Sa'd → Yunus bin Yazid → Ibnu Syihab az-Zuhri → Abdullah bin Tsa'labah bin Shu'air.
Catatan sanad: Al-Layts bin Sa'd dan Az-Zuhri keduanya termasuk ulama dalam daftar rujukan. Al-Layts bin Sa'd adalah ulama Tabi'ut Tabi'in yang terkenal, dan Az-Zuhri adalah Tabi'in senior yang menjadi rujukan dalam hadits dan sirah.
Hadits ini tidak memuat teks ayat Al-Qur'an secara langsung, namun berkaitan dengan peristiwa Fathu Makkah yang Allah sebutkan dalam:
QS. Al-Fath [48]: 1
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata."
QS. An-Nashr [110]: 1-3
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima taubat."
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengusap wajah Abdullah bin Tsa'labah bin Shu'air pada tahun Fathu Makkah. Ini adalah salah satu bentuk kelembutan dan kasih sayang Nabi ﷺ kepada para sahabat. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 8 H ketika kaum Muslimin berhasil membebaskan Makkah tanpa pertumpahan darah yang besar.
Bagaimana ulama memahami hadits ini:
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Abdullah bin Tsa'labah bin Shu'air, karena sentuhan tangan Nabi ﷺ adalah sesuatu yang penuh berkah. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa mengusap wajah dengan tangan orang shalih untuk tabarruk (mencari keberkahan) pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ sendiri, sehingga para sahabat pun berlomba-lomba mendapatkan sentuhan beliau.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits-hadits serupa) menjelaskan bahwa para sahabat selalu berusaha mendapatkan keberkahan dari tubuh, air wudhu, dan sentuhan Nabi ﷺ karena beliau adalah makhluk paling mulia. Namun beliau juga menegaskan bahwa tabarruk dengan benda atau orang tertentu hanya khusus bagi Nabi ﷺ, dan tidak boleh dilakukan kepada selain beliau setelah wafatnya.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan peristiwa Fathu Makkah secara panjang, termasuk momen-momen ketika Nabi ﷺ mengusap beberapa sahabat dan mendoakan mereka. Beliau menegaskan bahwa tahun Fathu Makkah adalah tahun yang penuh berkah bagi kaum Muslimin.
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pada hari Fathu Makkah masuk kota dengan penuh tawadhu, kepala beliau menunduk di atas kendaraannya karena syukur kepada Allah. Beliau juga menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengusap beberapa orang dan mendoakan mereka, yang menjadi tanda kecintaan beliau kepada sahabatnya.
Poin penting:
- Keutamaan Abdullah bin Tsa'labah bin Shu'air — beliau termasuk sahabat yang mendapatkan kehormatan diusap wajahnya oleh Nabi ﷺ.
- Berkah sentuhan Nabi ﷺ — tubuh Nabi ﷺ mengandung keberkahan yang tidak dimiliki manusia biasa. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah berdasarkan banyak hadits shahih.
- Fathu Makkah sebagai peristiwa agung — tahun pembebasan Makkah adalah salah satu momen terbesar dalam sejarah Islam, di mana Nabi ﷺ memaafkan penduduk Makkah yang pernah menyakitinya.
- Tawadhu dan kasih sayang Nabi ﷺ — meskipun dalam posisi sebagai pemimpin yang menang, Nabi ﷺ tetap lembut dan penuh kasih kepada para sahabatnya.
Catatan tentang tabarruk:
Para ulama dalam daftar rujukan — seperti Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa dan Ibnul Qayyim — menjelaskan bahwa tabarruk (mencari berkah) dengan tubuh Nabi ﷺ adalah khusus bagi beliau semasa hidupnya. Setelah wafatnya, tidak boleh bertabarruk dengan kuburan, benda, atau orang tertentu. Ini adalah pemahaman yang ditegaskan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Syeikh Bin Baz, dan Syeikh Al-Utsaimin dalam berbagai fatwa mereka.
Story Telling
Dikisahkan bahwa pada tahun Fathu Makkah, Nabi ﷺ memasuki kota Makkah dengan penuh ketawadhuan. Kepala beliau menunduk di atas tunggangannya sebagai tanda syukur kepada Allah atas kemenangan yang diberikan. Pada saat itu, banyak sahabat yang hadir menyambut beliau, dan di antara mereka ada Abdullah bin Tsa'labah bin Shu'air.
Dalam riwayat ini, disebutkan bahwa Nabi ﷺ mengusap wajah Abdullah bin Tsa'labah. Sentuhan itu bukan sekadar sentuhan biasa — ia adalah sentuhan seorang Nabi yang penuh berkah, yang menjadi kenangan seumur hidup bagi Abdullah bin Tsa'labah dan menjadi kebanggaan bagi keturunannya.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah menyebutkan bahwa Abdullah bin Tsa'labah bin Shu'air adalah sahabat yang dikenal karena keutamaan ini. Beliau termasuk sahabat yang menerima langsung kasih sayang Nabi ﷺ di momen bersejarah tersebut.
Hikmahnya: betapa besar keberkahan berada dekat dengan Nabi ﷺ, dan betapa para sahabat menghargai setiap momen bersama beliau. Kita yang tidak sempat bertemu beliau secara fisik, hendaknya berusaha mengikuti sunnahnya, karena itulah bentuk cinta kita kepada beliau.
Kesimpulan Praktis
- Cintailah Nabi ﷺ dengan mengikuti sunnahnya — karena kita tidak bisa bertemu beliau secara fisik, maka mengikuti ajarannya adalah bukti cinta kita.
- Teladani ketawadhuan Nabi ﷺ — beliau menang dalam Fathu Makkah namun tetap rendah hati dan penuh kasih sayang.
- Pahami bahwa berkah khusus hanya milik Nabi ﷺ — tabarruk dengan tubuh Nabi ﷺ adalah khusus untuk beliau, dan tidak boleh dipraktikkan kepada selain beliau setelah wafatnya.
- Pelajari sirah Nabi ﷺ — peristiwa Fathu Makkah mengandung banyak pelajaran tentang kepemimpinan, pemaafan, dan ketawadhuan.
- Hormati para sahabat Nabi ﷺ — mereka adalah generasi terbaik yang telah berkorban untuk Islam, dan kita wajib mencintai mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.