Penjelasan Hadits Bukhari No. 4266 tentang Ketangguhan Khalid bin Walid dalam Perang Mu'tah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan pengalaman Khalid bin Al-Walid radhiyallahu 'anhu dalam Perang Mu'tah, di mana sembilan pedang patah di tangannya karena dahsyatnya pertempuran, dan hanya sebilah pedang Yaman miliknya yang tetap bertahan. Ini menunjukkan beratnya peperangan di jalan Allah dan keteguhan seorang mujahid. Hadits ini juga menjadi dalil bahwa berperang di jalan Allah membutuhkan kesabaran, pengorbanan, dan tawakal kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Maghazi (Kitab Perang), Bab Perang Mu'tah dari Tanah Syam, nomor 4266. Perawi sahabat: Khalid bin Al-Walid radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Qais bin Abi Hazim.

Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan berjihad dan kesabaran di medan perang:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

QS. Ali 'Imran [3]: 139

Terjemahan: "Dan janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman."

Juga firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

QS. Ali 'Imran [3]: 200

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa dahsyatnya Perang Mu'tah dan betapa gigihnya Khalid bin Al-Walid dalam bertempur hingga sembilan pedang patah di tangannya. Ini juga menjadi bukti keberanian dan keteguhan beliau yang kemudian mendapat gelar "Saifullah" (Pedang Allah).

Penjelasan Rinci

Perang Mu'tah terjadi pada tahun 8 Hijriah di wilayah Syam (Yordania saat ini). Dalam perang ini, Nabi ﷺ mengutus tiga komandan secara berurutan: Zaid bin Haritsah, lalu Ja'far bin Abi Thalib, lalu Abdullah bin Rawahah radhiyallahu 'anhum. Ketika ketiganya gugur syahid, kaum Muslimin sepakat menunjuk Khalid bin Al-Walid sebagai komandan.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Khalid bin Al-Walid berkata: "Sungguh, pada hari Mu'tah, sembilan pedang telah patah di tanganku, dan hanya sebilah pedang Yaman milikku yang tetap bertahan di tanganku."

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan:

  1. Beratnya pertempuran Mu'tah, di mana seorang panglima sekaliber Khalid bin Al-Walid harus berganti pedang berkali-kali karena patah.
  2. Keteguhan dan keberanian Khalid bin Al-Walid yang tidak mundur meski pasukan Muslimin jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding pasukan Romawi.
  3. Bahwa pedang Yaman miliknya yang bernama "Shafihah" adalah pedang yang berkualitas dan tetap bertahan.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa patahnya pedang-pedang tersebut menunjukkan dahsyatnya serangan dan pertahanan dalam pertempuran, serta menunjukkan bahwa Khalid bin Al-Walid benar-benar berada di garis depan.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa dalam Perang Mu'tah, pasukan Muslimin berjumlah sekitar 3.000 orang, sementara pasukan Romawi dan sekutunya berjumlah jauh lebih besar. Meski demikian, kaum Muslimin bertempur dengan gagah berani hingga akhirnya Khalid bin Al-Walid berhasil menyelamatkan pasukan dan menarik mundur secara teratur.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa kesabaran dan keteguhan di medan perang adalah bagian dari iman dan tawakal kepada Allah. Allah menjanjikan kemenangan dan pertolongan bagi hamba-hamba-Nya yang sabar dan bertakwa.

Story Telling

Dikisahkan dalam Shahih Al-Bukhari bahwa ketika Perang Mu'tah berkecamuk, panji perang berada di tangan Zaid bin Haritsah radhiyallahu 'anhu. Beliau bertempur hingga gugur syahid. Kemudian panji diambil oleh Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Beliau bertempur dengan sangat gagah hingga kedua tangannya terputus, namun tetap memegang panji hingga gugur syahid. Kemudian panji diambil oleh Abdullah bin Rawahah radhiyallahu 'anhu, dan beliau pun gugur syahid.

Setelah itu, kaum Muslimin sepakat menunjuk Khalid bin Al-Walid sebagai komandan. Dalam pertempuran yang sangat dahsyat itu, Khalid bin Al-Walid bertempur dengan segenap kekuatannya. Beliau menceritakan bahwa sembilan pedang patah di tangannya karena kerasnya pertempuran, dan hanya sebilah pedang Yaman miliknya yang tetap bertahan.

Nabi ﷺ pernah menyebut Khalid bin Al-Walid sebagai "Saifullah" (Pedang Allah) yang dihunuskan kepada musuh-musuh-Nya. Gelar ini diberikan setelah Perang Mu'tah, sebagai pengakuan atas keberanian dan keteguhannya di medan perang.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa keteguhan di jalan Allah membutuhkan pengorbanan yang besar, baik harta, tenaga, bahkan nyawa. Namun Allah selalu bersama hamba-Nya yang sabar dan bertakwa.

Kesimpulan Praktis

  1. Keteguhan di jalan Allah: Hadits ini mengajarkan kita untuk tetap teguh dan sabar dalam menghadapi ujian, terutama dalam membela agama Allah.
  2. Pengorbanan adalah bagian dari iman: Khalid bin Al-Walid rela kehilangan sembilan pedangnya di medan perang. Ini menunjukkan bahwa pengorbanan harta dan tenaga adalah bagian dari keimanan.
  3. Tawakal dan kesabaran: Meski pasukan Muslimin jauh lebih sedikit, mereka tetap bertempur dengan gagah berani karena tawakal kepada Allah.
  4. Meneladani keberanian salafus shalih: Kita harus meneladani semangat juang para sahabat Nabi ﷺ dalam membela agama Allah, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.
  5. Menghindari ghuluw (berlebihan): Meski kita mengagumi keberanian Khalid bin Al-Walid, kita tidak boleh berlebihan dalam memuji makhluk hingga melampaui batas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?