Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa setelah Khaibar ditaklukkan, seorang wanita Yahudi menghadiahkan domba panggang beracun kepada Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa musuh-musuh Nabi ﷺ tidak berhenti menyakiti beliau meski telah kalah, dan bahwa Allah melindungi Nabi-Nya. Hadits ini juga menjadi dalil tentang bolehnya menerima hadiah, pentingnya berhati-hati terhadap tipu daya, serta tetap teguh dalam menyampaikan kebenaran.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Perang, Bab Domba Beracun di Khaibar, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، حَدَّثَنِي سَعِيدٌ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: لَمَّا فُتِحَتْ خَيْبَرُ أُهْدِيَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ شَاةٌ فِيهَا سُمٌّ
Terjemah: "Ketika Khaibar ditaklukkan, seekor domba yang mengandung racun dihadiahkan kepada Rasulullah ﷺ."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan perlindungan Allah terhadap Nabi-Nya:
QS. Al-Ma'idah [5]: 67
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Terjemah: "Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak engkau lakukan, maka engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir."
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah jaminan Allah kepada Nabi ﷺ bahwa beliau akan dilindungi dari kejahatan manusia, termasuk dari upaya pembunuhan seperti racun di Khaibar.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan Imam Al-Bukhari dari jalur Abdullah bin Yusuf, dari Al-Laits bin Sa'd, dari Sa'id bin Abi Sa'id, dari Abu Hurairah رضي الله عنه. Peristiwa ini terjadi setelah Perang Khaibar tahun 7 H, ketika benteng-benteng Yahudi Khaibar ditaklukkan.
Dalam riwayat lain yang shahih (masih dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim), dijelaskan bahwa wanita Yahudi bernama Zainab binti Al-Harits menghadiahkan domba panggang kepada Nabi ﷺ, dan ia memperbanyak racun pada bagian lengan (kaki depan) domba karena mengetahui bahwa Nabi ﷺ menyukai bagian itu. Ketika Nabi ﷺ hendak memakannya, Allah memberitahu beliau melalui wahyu atau melalui lisan domba itu sendiri, sehingga beliau tidak memakannya. Sebagian sahabat yang sudah makan, seperti Bisy bin Al-Bara', meninggal karena racun tersebut.
Pemahaman para ulama:
- Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam Kitab Perang (Al-Maghazi), menunjukkan bahwa peristiwa ini bagian dari sirah Nabi ﷺ dan termasuk ujian yang beliau alami setelah kemenangan.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan mukjizat Nabi ﷺ, karena Allah memberitahu beliau tentang racun yang tidak diketahui manusia. Beliau juga menyebutkan bahwa ini termasuk bukti kenabian, dan bahwa Nabi ﷺ tidak wafat karena racun tersebut, melainkan tetap menjalankan tugas kenabian hingga sempurna.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan bolehnya menerima hadiah dari non-Muslim selama tidak ada unsur haram yang jelas, dan bahwa Nabi ﷺ tetap bersikap baik serta tidak membalas dendam secara pribadi, meski beliau berhak.
- Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Zad Al-Ma'ad menyebutkan bahwa racun tersebut sempat mempengaruhi Nabi ﷺ, namun Allah menyembuhkan beliau. Beliau juga menegaskan bahwa Nabi ﷺ tetap wafat pada waktunya yang telah ditentukan, dan tidak ada yang dapat mempercepat atau memperlambat ajal.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa peristiwa ini mengandung pelajaran tentang tawakkal kepada Allah, karena Nabi ﷺ tetap berdakwah dan berjihad meski menghadapi berbagai tipu daya, dan Allah senantiasa melindungi beliau.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama berbeda pendapat apakah Nabi ﷺ wafat karena racun Khaibar atau karena sakit biasa. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa Nabi ﷺ tidak wafat karena racun tersebut, karena beliau tetap hidup beberapa tahun setelah peristiwa itu dan menyelesaikan tugas kenabian dengan sempurna. Ini dikuatkan oleh hadits-hadits shahih yang menunjukkan beliau wafat karena sakit yang biasa menimpa manusia.
Story Telling
Dikisahkan bahwa setelah Khaibar ditaklukkan, seorang wanita Yahudi, Zainab binti Al-Harits, ingin membalas kekalahan kaumnya. Ia menyembelih domba, memasaknya, dan menaruh racun yang banyak pada bagian lengan domba, karena ia tahu Nabi ﷺ menyukai bagian itu.
Ketika domba itu dihidangkan, Nabi ﷺ mengambil bagian lengan dan hendak memakannya. Namun Allah melindungi beliau: beliau memberitahu para sahabat untuk berhenti makan. Salah seorang sahabat, Bisy bin Al-Bara', telah makan dan kemudian meninggal syahid karena racun itu.
Nabi ﷺ memanggil Zainab dan bertanya mengapa ia melakukan hal itu. Ia menjawab bahwa ia ingin membunuh Nabi ﷺ. Nabi ﷺ tidak membalas dengan membunuhnya saat itu, tetapi memaafkannya, meski kemudian hukum qishash berlaku bagi Bisy. Peristiwa ini menunjukkan akhlak Nabi ﷺ yang agung, dan bahwa beliau tidak pernah membalas dendam untuk dirinya sendiri.
Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan kisah ini dalam kitab shahih mereka, dan para ulama menjadikannya sebagai dalil tentang mukjizat Nabi ﷺ serta perlindungan Allah terhadap beliau.
Kesimpulan Praktis
- Allah melindungi hamba-Nya yang beriman — sebagaimana Allah melindungi Nabi ﷺ dari racun, Allah juga melindungi orang beriman yang bertawakkal kepada-Nya.
- Boleh menerima hadiah dari non-Muslim selama tidak ada unsur haram, dan tetap berhati-hati.
- Tidak membalas dendam untuk diri sendiri — Nabi ﷺ memberi contoh akhlak mulia meski disakiti.
- Tetap teguh dalam dakwah — ujian dan tipu daya tidak boleh melemahkan semangat menyampaikan kebenaran.
- Ajal tidak dapat dipercepat atau diperlambat — racun tidak membunuh Nabi ﷺ sebelum waktunya, karena ajal sudah ditentukan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.