Bab Perang Hudaibiyah
Shahih
haddatsana alhasanu ibnu ishaqa, haddatsana muhammadu ibnu sabiqin, haddatsana maliku ibnu mighwalin, qala samitu aba hashinin, qala qala abu wailin lamma qadima sahlu ibnu hunayfin min shiffina ataynahu nastakhbiruhu faqala attahimu arraa, falaqad raaytuni yawma abi jandalin walaw astathiu an arudda ala rasuli allahi amrahu laradadtu, waallahu warasuluhu alamu, wama wadhana asyafana ala awatiqina lamrin yufzhiuna ila ashalna ibina ila amrin narifuhu qabla hadza alamri, ma nasuddu minha khushman ila anfajara alayna khushmun ma nadri kayfa nati lahu.
Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Ishaq, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq, telah menceritakan kepada kami Malik bin Mighwal, ia berkata: 'Aku mendengar Abu Hashin berkata: Abu Wail berkata: Ketika Sahl bin Hunaif kembali dari Siffin, kami mendatanginya untuk menanyakan kepadanya. Dia berkata: 'Salahkanlah pendapat kalian. Sesungguhnya aku melihat diriku pada hari Abu Jandal, dan seandainya aku bisa menolak perintah Rasulullah ﷺ, niscaya aku akan menolak dan berperang melawan orang-orang kafir dengan berani. Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui (apa yang lebih baik). Setiap kali kami meletakkan pedang di atas bahu kami untuk suatu perkara yang menakutkan, pedang-pedang kami membawa kami kepada solusi yang mudah sebelum keadaan yang ada saat ini (perselisihan di antara umat Islam). Ketika kami menutup celah di satu sisi, celah lainnya terbuka, dan kami tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.'