Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah riwayat dari Sa'id bin Al-Musayyab tentang peristiwa Bai'at Ridwan di bawah pohon (asy-syajarah) pada tahun Hudaibiyah. Sa'id tersenyum ketika pohon itu disebutkan, lalu mengabarkan bahwa ayahnya, Al-Musayyab bin Hazn, adalah salah satu sahabat yang ikut serta dalam bai'at tersebut. Hadits ini menunjukkan keutamaan para sahabat yang berbai'at di bawah pohon, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an, serta sikap tawadhu' dan kegembiraan para tabi'in ketika mengenang kemuliaan sahabat Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Fath [48]: 18
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
"Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon itu, dan Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat."
Hadits terkait:
Hadits riwayat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu dalam Shahih Muslim, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang para peserta Bai'at Ridwan: "Tidak akan masuk neraka seorang pun dari orang-orang yang berbai'at di bawah pohon." (HR. Muslim, no. 2496)
Kaitan dengan ulama:
Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya. Sa'id bin Al-Musayyab adalah salah satu ulama tabi'in terkemuka yang disebut dalam daftar rujukan, dikenal sebagai sayyidut tabi'in. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan konteks sanad dan makna hadits ini secara rinci.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki sanad yang bersambung: Qabishah meriwayatkan dari Sufyan (ats-Tsauri), dari Thariq bin Abdurrahman, yang berkata bahwa ketika pohon (tempat Bai'at Ridwan) disebutkan di majelis Sa'id bin Al-Musayyab, beliau tersenyum dan berkata: "Ayahku mengabarkan kepadaku, dan sungguh ia menyaksikannya."
Beberapa poin penting dari hadits ini:
- Senyum Sa'id bin Al-Musayyab — Para ulama menjelaskan bahwa senyum ini adalah ekspresi kegembiraan dan kebanggaan karena ayahnya termasuk sahabat yang mendapat keutamaan besar, yaitu diridhai Allah secara langsung dalam Al-Qur'an. Ini juga menunjukkan adab para tabi'in: mereka bergembira dengan kemuliaan sahabat dan tidak iri atau meremehkan.
- Al-Musayyab bin Hazn — Ayah Sa'id adalah sahabat Nabi ﷺ yang ikut dalam Bai'at Ridwan. Sa'id dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan hadits; ia hanya meriwayatkan dari sahabat tertentu, dan ia menyebut ayahnya sebagai sumber yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut. Ini menunjukkan pentingnya periwayatan dari orang yang menyaksikan langsung (musyahadah).
- Keutamaan Bai'at Ridwan — Peristiwa ini terjadi pada tahun 6 H ketika Nabi ﷺ dan para sahabat berangkat ke Makkah untuk umrah, namun dihalangi oleh kaum Quraisy. Nabi ﷺ mengirim Utsman bin Affan sebagai utusan, lalu beredar kabar bahwa Utsman terbunuh. Maka Nabi ﷺ mengambil bai'at dari para sahabat untuk tidak lari dan siap berperang. Bai'at ini terjadi di bawah pohon Samurah di Hudaibiyah. Allah menurunkan ayat yang menyatakan keridhaan-Nya atas mereka.
- Pelajaran tentang pohon tersebut — Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa pohon ini kemudian tidak diketahui lokasi pastinya, dan para ulama berbeda pendapat apakah pohon itu masih ada atau tidak. Namun yang penting adalah keutamaan para sahabat yang berbai'at, bukan tempatnya. Ini mengajarkan agar kita tidak berlebihan dalam mengagungkan tempat-tempat bersejarah hingga menyerupai sikap ghuluw.
- Sikap tawadhu' Sa'id — Meskipun ayahnya termasuk peserta Bai'at Ridwan, Sa'id tidak membanggakan diri secara berlebihan. Ia hanya menyampaikan kabar ini dengan senyum dan ketenangan, menunjukkan bahwa mengenang keutamaan sahabat adalah bagian dari kecintaan kepada mereka, namun tanpa kesombongan.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang Bai'at Ridwan menunjukkan keutamaan besar para sahabat yang ikut serta, dan bahwa mereka semua dijamin masuk surga berdasarkan nash Al-Qur'an dan hadits shahih.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz (yang dikenal sebagai khulafaur rasyidin kelima) mendengar tentang keutamaan para sahabat, beliau sering menangis dan berkata: "Mereka adalah kaum yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya. Kita tidak akan pernah bisa menyamai mereka, meskipun kita beramal seperti amalan mereka, karena mereka berjuang di saat iman masih asing dan Islam masih lemah."
Adapun Sa'id bin Al-Musayyab, beliau dikenal sebagai ulama tabi'in yang paling utama di zamannya. Ketika ayahnya bercerita tentang Bai'at Ridwan, Sa'id mendengarkan dengan penuh hormat. Beliau tidak pernah menggunakan kemuliaan ayahnya untuk kepentingan dunia, tetapi justru menjadikannya motivasi untuk lebih tekun dalam ibadah dan ilmu. Sa'id dikenal sangat zuhud, tidak mau menerima hadiah dari penguasa, dan tetap berpegang pada sunnah meskipun harus menghadapi cobaan.
Hikmah dari kisah ini: kemuliaan orang tua adalah nikmat dari Allah, namun yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga amanah ilmu dan keutamaan itu dengan ketakwaan, bukan dengan kesombongan.
Kesimpulan Praktis
- Cintai para sahabat — Mengingat keutamaan sahabat Nabi ﷺ adalah bagian dari iman. Barangsiapa membenci mereka, maka ia telah menyimpang dari jalan Ahlus Sunnah.
- Jangan ghuluw terhadap tempat — Pohon Bai'at Ridwan bukanlah tempat yang harus diziarahi secara khusus atau diagung-agungkan secara berlebihan. Yang penting adalah meneladani keimanan dan keteguhan para sahabat.
- Teladani sikap Sa'id bin Al-Musayyab — Beliau menyampaikan kabar tentang ayahnya dengan senyum dan ketawadhu'an, bukan dengan kebanggaan kosong. Kita pun hendaknya bersikap sederhana dalam menyebut keutamaan keluarga atau guru kita.
- Amalkan nilai Bai'at Ridwan — Bai'at tersebut adalah janji setia kepada Nabi ﷺ untuk taat dan tidak lari dari kebenaran. Kita pun harus berkomitmen untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.