Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa sebagian orang setelah masa sahabat mencari-cari dan mengkhususkan sebuah pohon bekas tempat bai'at Ridwan untuk shalat di sana, padahal para sahabat sendiri—termasuk ayah Sa'id bin al-Musayyib—tidak lagi mengenalinya dan tidak pernah mengkhususkannya. Sa'id bin al-Musayyib pun menegur dengan sindiran halus: kalian mengaku lebih tahu daripada para sahabat. Pelajarannya: ibadah harus mengikuti tuntunan Nabi ﷺ dan pemahaman sahabat, bukan berdasarkan bekas tempat, perasaan, atau tradisi yang dibuat-buat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, Bab tentang Perang Hudaibiyah (no. 4163), dari Tariq bin Abdurrahman, dari Sa'id bin al-Musayyib (seorang Tabi'in besar yang termasuk dalam daftar rujukan), dari ayahnya al-Musayyib bin Hazn yang termasuk sahabat yang berbai'at di bawah pohon.
Adapun dalil Al-Qur'an yang sangat relevan dengan tema hadits ini adalah larangan mengada-ada dalam agama dan perintah mengikuti jalan orang-orang yang beriman (para sahabat):
QS. Al-Hujurat [49]: 1
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ
Catatan: untuk menghindari kekeliruan harakat, saya sebutkan rujukan ayat yang lebih tepat berikut ini:
QS. Al-Hasyr [59]: 7
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Terjemahan: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya."
QS. At-Taubah [9]: 100
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Terjemahan: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."
Hadits terkait yang menjadi kaidah besar dalam bab ini, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Terjemahan: "Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kaitan dengan ulama: Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan hadits ini sebagai dalil bahwa tidak boleh mengkhususkan tempat-tempat tertentu untuk ibadah hanya karena dianggap memiliki keutamaan, tanpa dalil dari syariat. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan larangan sengaja mendatangi tempat-tempat bekas tertentu untuk shalat dan berdoa, karena hal itu tidak dicontohkan Nabi ﷺ dan para sahabat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama: Bai'at Ridwan adalah peristiwa yang sah dan agung. Bai'at ini terjadi di bawah sebuah pohon saat Perang Hudaibiyah, ketika kaum muslimin berbai'at kepada Rasulullah ﷺ. Allah menyebutkan peristiwa ini dalam QS. Al-Fath [48]: 18:
لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
Terjemahan: "Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon."
Kedua: Para sahabat tidak menjadikan pohon itu sebagai tempat ibadah khusus. Al-Musayyib bin Hazn—yang hadir dan berbai'at—mengatakan bahwa pada tahun berikutnya mereka lupa pohon itu dan tidak dapat mengenalinya. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak pernah berusaha mengabadikan atau mengkhususkan tempat tersebut untuk shalat atau doa. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah bukti bahwa para sahabat memahami bahwa keutamaan ada pada perbuatan bai'at itu sendiri, bukan pada benda atau tempatnya.
Ketiga: Teguran Sa'id bin al-Musayyib. Ucapan beliau: "Para sahabat Muhammad ﷺ tidak mengenalinya; namun kalian mengenalnya; maka kalian lebih tahu" adalah sindiran halus (bukan penghinaan) yang bermakna: bagaimana mungkin kalian mengklaim mengetahui sesuatu yang justru tidak diketahui oleh orang-orang yang hadir dan mengalami peristiwa itu? Ini adalah bantahan terhadap sikap merasa lebih tahu daripada generasi terbaik umat ini.
Keempat: Perbedaan pendapat ulama tentang hukum mengkhususkan tempat bekas. Sebagian ulama dari daftar seperti Ibn Taymiyyah dalam Iqtidha' ash-Shirath al-Mustaqim dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan menegaskan larangan mengkhususkan tempat-tempat tertentu untuk ibadah jika tidak ada dalil, karena itu termasuk pintu menuju kesyirikan dan bid'ah. Imam an-Nawawi juga melarang sengaja mendatangi tempat-tempat bekas para nabi dan orang shalih untuk shalat dan berdoa. Pendapat yang paling kuat dan sesuai dalil adalah pendapat ini, karena hadits di atas secara jelas menunjukkan teguran Sa'id bin al-Musayyib terhadap perbuatan tersebut.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Tariq bin Abdurrahman—seorang Tabi'in—ketika berangkat haji, melewati suatu kaum yang sedang shalat di bawah sebuah pohon. Ia bertanya tentang tempat itu, dan mereka menjawab bahwa itu adalah pohon tempat Rasulullah ﷺ berbai'at Ridwan. Tariq lalu menyampaikan hal ini kepada Sa'id bin al-Musayyib, seorang ulama besar Madinah dan salah satu Tabi'in terkemuka.
Sa'id bin al-Musayyib tidak diam. Beliau mengingatkan bahwa ayahnya sendiri, al-Musayyib bin Hazn, adalah salah satu sahabat yang berbai'at di bawah pohon itu. Namun pada tahun berikutnya, mereka tidak lagi mengenali pohon tersebut. Artinya, para sahabat—yang paling tahu tentang peristiwa itu—tidak pernah menjadikannya tempat ibadah khusus. Maka Sa'id pun berkata dengan sindiran yang dalam: "Para sahabat Muhammad ﷺ tidak mengenalinya, namun kalian mengenalnya; maka kalian lebih tahu."
Hikmahnya: semangat beribadah harus dibimbing dengan ilmu dan ittiba' (mengikuti tuntunan), bukan dengan semangat yang melampaui batas. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif mengingatkan bahwa kesungguhan dalam ibadah harus tetap berada di atas rel sunnah, karena amal yang tidak dicontohkan tidak akan diterima.
Kesimpulan Praktis
- Ibadah harus mengikuti tuntunan Nabi ﷺ dan pemahaman para sahabat, bukan berdasarkan perasaan, tradisi, atau bekas tempat tertentu.
- Tidak boleh mengkhususkan tempat, pohon, batu, atau bangunan tertentu untuk shalat atau doa tanpa dalil dari syariat, meskipun tempat itu memiliki sejarah Islam.
- Keutamaan ada pada amal yang sesuai sunnah, bukan pada benda atau lokasi.
- Hendaklah kita tawadhu dan tidak merasa lebih tahu daripada para sahabat dalam urusan agama.
- Jika ragu tentang suatu amalan, kembalikan kepada Al-Qur'an, hadits shahih, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah yang terpercaya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.