Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4139 tentang Perlindungan Allah kepada Nabi dari bahaya musuh

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kisah nyata yang sangat agung tentang penjagaan Allah ﷻ kepada Nabi-Nya ﷺ. Seorang badui mencoba membunuh beliau saat tidur di bawah pohon, namun ketika Nabi ﷺ menjawab "Allah" saat ditanya siapa yang melindunginya, pedang itu jatuh dari tangan badui tersebut. Sikap Nabi ﷺ yang memaafkan dan tidak menghukumnya adalah pelajaran luar biasa tentang akhlak mulia, pemaafan, dan ketawakkalan kepada Allah. Kisah ini juga menunjukkan bahwa Allah selalu menjaga Rasul-Nya dari segala macam tipu daya musuh.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. Al-Ma'idah [5]: 67

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

"Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu), berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir."

Ayat ini turun berkaitan dengan penjagaan Allah terhadap Rasul-Nya dari manusia, dan kisah badui ini adalah salah satu bukti nyata dari janji Allah tersebut. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa setelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ tidak lagi meminta para sahabat untuk menjaganya, karena Allah sendiri yang menjaganya.

2. Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perang, Bab Perang Bani Mustaliq dari Khuzalah (Perang Muraisi'), no. 4139, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan, dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi yang serupa.

3. Kaitan dengan ulama:

  • Imam Al-Bukhari memuat hadits ini dalam bab Perang Bani Mustaliq, menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi dalam konteks perjalanan perang tersebut.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Nabi ﷺ dan mukjizat beliau, serta penjagaan Allah terhadapnya.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan berbagai faedah dari hadits ini, termasuk tentang keutamaan tawakkal dan pemaafan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits yang agung ini:

1. Tentang Peristiwa dan Konteksnya

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah ﷺ dalam perjalanan kembali dari Perang Bani Mustaliq (Muraisi'). Beliau beristirahat di bawah pohon yang rindang di sebuah lembah yang banyak ditumbuhi pohon berduri (al-'idhah). Para sahabat juga menyebar mencari tempat berteduh.

2. Mukjizat Penjagaan Allah

Peristiwa ini adalah mukjizat nyata yang menunjukkan kebenaran firman Allah dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 67 bahwa Allah menjaga Rasul-Nya dari manusia. Seorang badui datang diam-diam, mengambil pedang Rasulullah ﷺ yang tergantung di pohon, lalu menghunusnya dan bertanya dengan nada mengancam: "Siapa yang akan menyelamatkanmu dariku?"

Jawaban Nabi ﷺ yang tenang dan penuh keyakinan: "Allah" — menunjukkan ketawakkalan yang sempurna. Maka Allah menjatuhkan pedang tersebut dari tangan badui itu. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi bahwa ini adalah salah satu mukjizat beliau ﷺ yang Allah perlihatkan untuk menguatkan hati beliau dan kaum mukminin.

3. Akhlak Mulia Nabi ﷺ: Memaafkan

Yang paling menakjubkan adalah sikap Nabi ﷺ setelah peristiwa itu. Beliau tidak menghukum badui tersebut, tidak membalas, bahkan membiarkannya pergi. Ini adalah akhlak yang sangat agung. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa pemaafan Nabi ﷺ ini adalah bentuk penerapan firman Allah:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

"Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf [7]: 199)

4. Pelajaran tentang Tawakkal

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa tawakkal yang benar bukan berarti meninggalkan sebab, tetapi menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan sebab yang diperbolehkan. Nabi ﷺ tetap menggantung pedangnya (sebab untuk menjaga diri), namun beliau juga yakin sepenuhnya bahwa Allah-lah yang menjaga dan melindungi.

5. Tentang Badui Tersebut

Para ulama menyebutkan bahwa badui ini bernama Ghaurats bin Al-Harits. Setelah peristiwa itu, ia masuk Islam karena melihat langsung keagungan akhlak Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menyebutkan riwayat bahwa badui tersebut kemudian menjadi muslim yang baik. Ini menunjukkan bahwa akhlak mulia adalah dakwah yang paling efektif.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa setelah peristiwa ini, para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang apa yang terjadi. Beliau menceritakan dengan tenang, dan ketika badui itu duduk di hadapan beliau, para sahabat ingin menghukumnya. Namun Rasulullah ﷺ melarang mereka dan membiarkan badui itu pergi dengan selamat.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa setelah kejadian ini, badui tersebut kembali ke kaumnya dan menceritakan apa yang dialaminya. Ia berkata: "Aku telah mendatangi manusia yang paling mulia akhlaknya." Peristiwa ini menjadi sebab masuk Islamnya sebagian kaumnya.

Hikmah yang bisa diambil: Kekuatan iman dan ketenangan hati Nabi ﷺ saat menghadapi maut membuat musuh yang beringas menjadi tunduk. Pemaafan yang tulus lebih mampu meluluhkan hati daripada balas dendam.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa Allah menjaga hamba-hamba-Nya yang beriman — selama kita bertakwa dan bertawakkal kepada-Nya, Allah akan memberikan jalan keluar dari segala kesulitan.
  2. Jadikan tawakkal sebagai senjata utama — setelah melakukan sebab yang diperbolehkan, serahkan hasilnya kepada Allah dengan keyakinan penuh.
  3. Teladani akhlak pemaaf Nabi ﷺ — memaafkan orang yang berbuat buruk kepada kita adalah akhlak mulia yang bisa meluluhkan hati musuh.
  4. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan — kebaikan dan pemaafan adalah cara terbaik untuk berdakwah dan memperbaiki hubungan.
  5. Amalkan ketenangan dalam menghadapi masalah — jawaban Nabi ﷺ yang tenang "Allah" menunjukkan bahwa orang yang yakin kepada Allah tidak akan panik dalam situasi genting.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.