Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ menuju arah Najd. Ini adalah bagian awal dari rangkaian hadits panjang dalam Shahih Al-Bukhari tentang Perang Dzatu Ar-Riqa'. Pelajarannya sederhana namun penting: para sahabat selalu menyertai Nabi ﷺ dalam jihad, dan kita mengambil pelajaran tentang kesetiaan, kesabaran, serta meneladani perjuangan beliau.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Maghazi (Kitab Perang), Bab Ghazwah Dzati Ar-Riqa', dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri), dari Sinan dan Abu Salamah.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ حَدَّثَنِي سِنَانٌ، وَأَبُو سَلَمَةَ أَنَّ جَابِرًا، أَخْبَرَ أَنَّهُ، غَزَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قِبَلَ نَجْدٍ
Terjemahan: "Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhri, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Sinan dan Abu Salamah, bahwa Jabir mengabarkan bahwa ia berperang bersama Rasulullah ﷺ menuju arah Najd."
Ayat yang relevan tentang kewajiban menyertai Rasulullah ﷺ dan berjihad di jalan Allah:
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
QS. Al-Baqarah [2]: 244
Terjemahan: "Dan berperanglah kamu di jalan Allah, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini merupakan bagian dari bab tentang ghazwah (perang) yang dipimpin langsung oleh Nabi ﷺ, dan menunjukkan betapa para sahabat antusias menyertai beliau. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menegaskan pentingnya mengetahui urutan dan konteks ghazwah Nabi ﷺ untuk memahami sirah dan fiqih jihad.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah potongan awal dari hadits yang lebih panjang dalam Shahih Al-Bukhari. Imam Al-Bukhari menempatkannya dalam Kitab Al-Maghazi, bab khusus tentang Perang Dzatu Ar-Riqa'. Dzatu Ar-Riqa' adalah salah satu ghazwah Nabi ﷺ yang terjadi setelah Perang Bani Nadhir dan sebelum Perang Bani Quraizhah, sekitar tahun ke-4 atau ke-5 Hijriah menurut sebagian ulama. Dinamakan "Dzatu Ar-Riqa'" karena para sahabat membalut kaki mereka dengan kain (riqaa') akibat perjalanan jauh dan keras.
Pertama: Makna "Ghazwa" dan "Qibala Najd"
Kata "ghazaa" (غَزَا) berarti beliau ikut berperang secara langsung bersama Nabi ﷺ. Ini menunjukkan kedudukan tinggi Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu sebagai sahabat yang banyak menyertai Nabi ﷺ dalam berbagai peperangan. "Qibala Najd" berarti menuju arah Najd, yaitu wilayah dataran tinggi di timur laut Madinah yang menjadi arah sebagian ekspedisi Nabi ﷺ.
Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa penyebutan arah Najd di sini penting untuk menentukan letak geografis ghazwah ini, dan para ulama berbeda pendapat tentang ghazwah mana yang dimaksud Jabir. Sebagian menyebut Dzatu Ar-Riqa', sebagian menyebut ghazwah lain. Namun yang jelas, Jabir menyebutkan arah Najd sebagai tujuan.
Kedua: Faedah Sanad
Sanad hadits ini: Abu Al-Yaman (Al-Hakam bin Nafi') → Syu'aib bin Abi Hamzah → Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) → Sinan bin Abi Sinan dan Abu Salamah bin Abdurrahman → Jabir bin Abdillah.
Az-Zuhri adalah salah satu ulama Tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan kita. Beliau dikenal sebagai penghimpun hadits dan sirah Nabi ﷺ yang sangat teliti. Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala' memuji Az-Zuhri sebagai "pemimpin ahli hadits di zamannya." Perhatian Az-Zuhri terhadap detail ghazwah menunjukkan pentingnya ilmu sirah dalam memahami Islam.
Ketiga: Pelajaran Jihad dan Ketaatan
Hadits ini mengajarkan bahwa jihad pada masa Nabi ﷺ bukan sekadar teori, melainkan amal nyata yang diikuti para sahabat dengan penuh kesabaran. Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa ghazwah-ghazwah Nabi ﷺ memiliki hikmah yang sangat dalam: menegakkan tauhid, melindungi dakwah, dan melatih para sahabat dalam ketaatan serta pengorbanan.
Imam Ibnul Qayyim juga menegaskan bahwa memahami urutan ghazwah membantu kita memahami tahapan dakwah Nabi ﷺ: dari dakwah rahasia, dakwah terbuka, hijrah, hingga pembentukan masyarakat Islam yang mandiri.
Keempat: Adab dalam Meriwayatkan Sirah
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab khusus, menunjukkan metode beliau yang sangat teliti dalam menyusun kitab Shahih. Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Al-Bukhari sengaja memisahkan riwayat-riwayat tentang ghazwah dalam bab-bab tersendiri agar mudah dipelajari. Ini mengajarkan kepada kita adab dalam menuntut ilmu: tertib, terstruktur, dan tidak mencampuradukkan pembahasan.
Story Telling
Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau ikut serta dalam banyak ghazwah bersama Nabi ﷺ, termasuk Dzatu Ar-Riqa'. Dalam riwayat lain yang masih satu rangkaian dengan hadits ini, Jabir menceritakan detail perjalanan tersebut: bagaimana para sahabat kelelahan, bagaimana mereka shalat khauf (shalat dalam keadaan takut), dan bagaimana Nabi ﷺ mengajarkan kepada mereka kesabaran.
Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengisahkan bahwa dalam ghazwah ini, Nabi ﷺ dan para sahabat menghadapi cuaca yang sangat panas dan perjalanan yang berat. Namun tidak ada keluhan yang keluar dari lisan para sahabat. Mereka justru berlomba-lomba menyertai Rasulullah ﷺ. Inilah teladan kesetiaan yang harus kita renungkan: betapa cintanya para sahabat kepada Nabi ﷺ, sampai mereka rela menempuh perjalanan jauh dan berat demi menemani beliau.
Hikmahnya: cinta kepada Nabi ﷺ bukan hanya ucapan, tetapi dibuktikan dengan amal dan pengorbanan. Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma'ad menyebutkan bahwa salah satu tanda cinta kepada Nabi ﷺ adalah bersemangat dalam menuntut ilmu agama dan mengamalkannya, sebagaimana para sahabat bersemangat menyertai beliau dalam jihad.
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini mengajarkan pentingnya mempelajari sirah Nabi ﷺ, khususnya ghazwah-ghazwah beliau, untuk memahami perjuangan dakwah Islam.
- Kita meneladani kesetiaan para sahabat yang selalu menyertai Nabi ﷺ dalam suka dan duka.
- Jihad tidak selalu berarti perang fisik; pada zaman kita, jihad bisa berupa menuntut ilmu, mendidik keluarga, dan menegakkan tauhid.
- Hendaknya kita membaca sirah Nabi ﷺ dengan bimbingan ulama yang terpercaya, seperti yang dilakukan Imam Al-Bukhari, Ibnu Hajar, Ibnul Qayyim, dan lainnya.
- Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.