Penjelasan Hadits Bukhari No. 4128 tentang Kesulitan pasukan dalam perang Dhatur Riqa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan pengalaman sahabat Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu dalam Perang Dzat ar-Riqa', di mana para sahabat sangat kekurangan kendaraan sehingga enam orang bergantian menaiki satu unta, hingga kaki mereka terluka dan kuku-kuku mereka tanggal. Karena membungkus kaki dengan kain (riqa'), perang itu dinamakan Dzat ar-Riqa'. Pelajaran utamanya adalah kesabaran para sahabat dalam berjihad, kesederhanaan mereka, dan adab Abu Musa yang tidak suka memamerkan amal baiknya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

(QS. Ali 'Imran [3]: 169)

Terjemahan: "Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki."

Ayat ini menunjukkan keutamaan berjihad di jalan Allah, meskipun dalam hadits ini para sahabat tidak gugur, namun mereka menanggung kesulitan besar dalam berjihad.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi (Kitab Perang), Bab Ghazwah Dzat ar-Riqa', dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa beratnya kondisi para sahabat dalam perang tersebut, dan bahwa penamaan "Dzat ar-Riqa'" diambil dari kain-kain (riqa') yang mereka lilitkan pada kaki mereka yang terluka.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menggambarkan kondisi para sahabat dalam salah satu peperangan bersama Nabi ﷺ. Mereka hanya berjumlah enam orang dengan satu unta, sehingga harus bergantian menaikinya. Karena banyak berjalan kaki, kaki mereka menjadi luka dan kuku-kuku mereka tanggal. Untuk melindungi kaki yang terluka, mereka membungkusnya dengan potongan kain (riqa'). Dari sinilah perang tersebut dinamakan "Dzat ar-Riqa'".

Pemahaman ulama:

Imam al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam Kitab al-Maghazi, menunjukkan bahwa beliau memandangnya sebagai bagian dari sejarah perjuangan Nabi ﷺ dan para sahabat.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan beberapa poin penting:

  1. Hadits ini menunjukkan kesabaran luar biasa para sahabat dalam menghadapi kesulitan jihad.
  2. Penamaan perang dengan "Dzat ar-Riqa'" memiliki beberapa pendapat: ada yang mengatakan karena kain yang dililitkan di kaki, ada pula yang mengatakan karena tempat tersebut bernama Riqa'. Namun riwayat Abu Musa ini secara tegas menyebutkan sebab penamaan dari kain yang dililitkan di kaki.
  3. Perkataan Abu Musa di akhir hadits—"Aku tidak suka menyebutkannya"—menunjukkan adab salaf dalam menyembunyikan amal baik. Ini sejalan dengan firman Allah tentang larangan memamerkan amal.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa ini adalah contoh tawadhu' para sahabat, di mana mereka tidak ingin amal kebaikan mereka diketahui orang lain.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa menyembunyikan amal adalah tanda keikhlasan yang tinggi, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah, salah satunya "seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya."

Perbedaan pendapat:

Para ulama berbeda pendapat tentang kapan terjadinya Perang Dzat ar-Riqa'. Sebagian mengatakan terjadi sebelum Perang Badar, sebagian mengatakan setelahnya. Ibnu Hajar al-Asqalani merajihkan bahwa perang ini terjadi setelah Perang Badar berdasarkan konteks riwayat-riwayat lain. Namun yang jelas, hadits ini shahih dan menggambarkan kondisi nyata para sahabat.

Story Telling

Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang mulia. Beliau menceritakan pengalaman ini kepada murid-muridnya, namun kemudian beliau menyesal karena merasa telah memamerkan amal baiknya.

Bayangkan kondisi mereka: enam orang, satu unta, harus bergantian menaikinya. Kaki mereka berdarah, kuku-kuku tanggal, namun semangat mereka tidak pernah surut. Mereka membungkus kaki dengan kain seadanya, dan terus berjalan di jalan Allah.

Ketika Abu Musa menceritakan ini, beliau berkata: "Aku tidak seharusnya menyebutkan ini." Beliau khawatir jika cerita ini membuat orang mengaguminya, padahal amal itu hanya untuk Allah.

Ini adalah pelajaran berharga dari salaf: mereka beramal dengan sungguh-sungguh, namun menyembunyikannya dengan hati-hati. Sebagaimana kata Fudhail bin 'Iyadh: "Amal yang paling baik adalah yang paling tersembunyi."

Kesimpulan Praktis

  1. Bersabar dalam kesulitan: Para sahabat menanggung luka dan kelelahan demi jihad di jalan Allah. Kita pun harus bersabar dalam menjalankan ketaatan.
  2. Sederhana dalam sarana: Mereka hanya punya satu unta untuk enam orang, namun tidak mengeluh. Kesederhanaan bukan penghalang untuk beramal besar.
  3. Sembunyikan amal: Abu Musa menyesal setelah menceritakan amal baiknya. Ini mengajarkan kita untuk tidak memamerkan ibadah dan kebaikan.
  4. Hikmah di balik nama: Perang Dzat ar-Riqa' dinamakan demikian karena kain yang membungkus kaki. Ini menunjukkan bahwa sejarah Islam penuh dengan pengorbanan nyata.
  5. Teladani salaf: Para ulama seperti Ibnu Hajar, an-Nawawi, dan Ibn Rajab telah menjelaskan hadits ini dengan mendalam. Kita harus merujuk kepada pemahaman mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?