Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa tragis di Bi'r Ma'unah, di mana 70 orang sahabat pilihan dari kalangan Anshar yang dikenal sebagai al-Qurra' (para penghafal dan ahli ibadah) dibunuh secara khianat oleh suku-suku yang meminta bantuan mereka. Sebagai respons, Rasulullah ﷺ melakukan qunut (doa kebinasaan) selama sebulan dalam shalat Subuh terhadap suku-suku pengkhianat tersebut. Hadits ini juga mengajarkan tentang keutamaan para sahabat yang ikhlas berjuang, serta bolehnya mendoakan keburukan bagi orang-orang yang menzhalimi kaum muslimin.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perang, Bab Perang Raji' dan Ril serta Dhakwan dan Sumur Ma'una, no. 4090. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Peristiwa ini juga terkait dengan firman Allah tentang orang-orang yang berjuang di jalan-Nya:
QS. Ali 'Imran [3]: 169
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
"Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki."
Penjelasan Ulama:
Peristiwa ini dijelaskan oleh para ulama besar, di antaranya:
- Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menjelaskan detail peristiwa ini dan menyebutkan bahwa para sahabat yang terbunuh itu adalah orang-orang pilihan.
- Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab khusus untuk menunjukkan keutamaan para qurra' (penghafal Al-Qur'an) dan bolehnya qunut untuk mendoakan keburukan atas orang-orang kafir yang berkhianat.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa qunut ini adalah qunut nazilah (qunut karena musibah) yang disyariatkan ketika kaum muslimin tertimpa musibah.
Penjelasan Rinci
Latar Belakang Peristiwa
Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-4 Hijriah, setelah Perang Uhud. Beberapa suku Arab, yaitu Ri'l, Dzakwan, 'Ushayyah, dan Bani Lahyan, datang meminta bantuan kepada Rasulullah ﷺ untuk melawan musuh-musuh mereka. Rasulullah ﷺ mengirimkan 70 orang sahabat pilihan dari kalangan Anshar yang dikenal sebagai al-Qurra'.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mereka disebut al-Qurra' karena mereka adalah para penghafal Al-Qur'an dan ahli ibadah. Mereka adalah orang-orang yang paling baik agamanya di kalangan Anshar.
Pengkhianatan di Bi'r Ma'unah
Ketika rombongan sampai di sumur Ma'unah (terletak di daerah antara Makkah dan Madinah), mereka dikhianati. Suku-suku tersebut justru bekerja sama dengan musuh untuk membunuh para sahabat. Seluruh 70 sahabat gugur sebagai syuhada, kecuali beberapa orang yang sedang pergi untuk keperluan lain.
Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah merinci bahwa yang selamat di antaranya adalah Ka'ab bin Zaid dan Haram bin Milhan yang kemudian juga terbunuh setelah menyampaikan kabar kepada Rasulullah ﷺ.
Qunut Nazilah
Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau sangat sedih dan marah. Beliau kemudian melakukan qunut selama sebulan penuh dalam shalat Subuh, mendoakan kebinasaan atas suku-suku pengkhianat tersebut.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa qunut nazilah ini hukumnya disyariatkan ketika kaum muslimin tertimpa musibah atau bencana. Ini berbeda dengan qunut witir yang hukumnya sunnah. Para ulama berbeda pendapat tentang apakah qunut nazilah dilakukan dalam semua shalat atau hanya shalat Subuh, namun yang masyhur dari sunnah adalah dilakukan dalam shalat Subuh.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa qunut nazilah adalah doa yang dipanjatkan untuk kebaikan kaum muslimin atau keburukan musuh ketika terjadi musibah. Ini adalah sunnah yang dilakukan Rasulullah ﷺ dan para Khulafaur Rasyidin setelah beliau.
Ayat yang Diangkat (Mansukh)
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menyebutkan bahwa dahulu mereka membaca ayat Al-Qur'an tentang para syuhada ini, kemudian ayat tersebut diangkat (dihapus bacaannya). Ayat tersebut berbunyi:
"بَلِّغُوا عَنَّا قَوْمَنَا أَنَّا لَقِينَا رَبَّنَا فَرَضِيَ عَنَّا وَأَرْضَانَا"
"Sampaikan kepada kaum kami bahwa kami telah bertemu Tuhan kami, Dia ridha kepada kami dan kami pun ridha kepada-Nya."
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ini termasuk ayat yang diangkat bacaannya (mansukhut tilawah) namun tetap diamalkan maknanya. Ini menunjukkan bahwa para syuhada tersebut dalam keadaan yang sangat mulia di sisi Allah.
Story Telling
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan bahwa ketika para sahabat yang dikirim ke Bi'r Ma'unah itu berangkat, mereka adalah orang-orang yang sangat mencintai Al-Qur'an dan ibadah. Mereka mengumpulkan kayu bakar di siang hari untuk mencari nafkah, dan di malam hari mereka menghabiskan waktu dengan shalat dan membaca Al-Qur'an.
Di antara mereka ada seorang pemuda yang ketika berangkat, ia menulis surat untuk keluarganya yang isinya: "Aku tidak pernah melihat keadaan yang lebih baik daripada keadaan kami bersama Rasulullah ﷺ. Kami berangkat karena Allah, dan kami ridha dengan apa yang Allah takdirkan untuk kami."
Ketika mereka dikhianati dan dibunuh, salah seorang dari mereka yang masih hidup, yaitu Haram bin Milhan, berkata kepada pembunuhnya: "Allahu Akbar, aku menang!" Karena ia tahu bahwa kematiannya adalah syahadah (mati syahid) di jalan Allah.
Para ulama menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ sangat sedih dengan peristiwa ini. Bahkan disebutkan bahwa beliau selama sebulan penuh mendoakan keburukan atas suku-suku pengkhianat tersebut dalam shalat Subuh.
Hikmah dari kisah ini:
- Keikhlasan para sahabat dalam berjuang di jalan Allah tanpa mengharap balasan dunia.
- Pengkhianatan adalah perbuatan yang sangat tercela dan pelakunya pantas mendapat doa keburukan.
- Kematian syahid adalah kemuliaan yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang beriman.
Kesimpulan Praktis
- Keutamaan para penghafal Al-Qur'an dan ahli ibadah - Para sahabat yang dikirim ini adalah orang-orang pilihan yang menggabungkan antara bekerja mencari nafkah di siang hari dan beribadah di malam hari.
- Bolehnya qunut nazilah - Ketika kaum muslimin tertimpa musibah atau dizhalimi, seorang pemimpin boleh mendoakan keburukan atas orang-orang yang menzhalimi.
- Pengkhianatan adalah perbuatan tercela - Kisah ini mengajarkan bahwa pengkhianatan terhadap perjanjian adalah dosa besar yang pelakunya mendapat murka Allah.
- Kemuliaan mati syahid - Para sahabat yang terbunuh di Bi'r Ma'unah adalah syuhada yang Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah.
- Kesabaran dalam menghadapi musibah - Rasulullah ﷺ tidak membalas dengan cara yang melampaui batas, tetapi dengan doa dan kesabaran.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.