Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, menjelaskan besarnya kemarahan Allah terhadap dua golongan: (1) orang yang dibunuh langsung oleh Nabi ﷺ di jalan Allah, dan (2) kaum yang melukai wajah Nabi ﷺ hingga berdarah pada Perang Uhud. Ini menunjukkan betapa beratnya dosa menyakiti Nabi ﷺ, sekaligus menunjukkan bahwa meski Nabi terluka, Allah tetap menolong agama-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini terdapat dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Maghazi (Perang), Bab "Apa yang Menimpa Nabi ﷺ dari Luka pada Hari Uhud", nomor 4074. Perawinya: Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Adapun ayat yang berkaitan dengan Perang Uhud dan ujian yang menimpa Nabi ﷺ serta para sahabat:
QS. Ali 'Imran [3]: 140
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Dan janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman."
QS. Ali 'Imran [3]: 144
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
"Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."
QS. At-Taubah [9]: 128 — sebagai penegasan kedudukan Nabi ﷺ yang sangat mulia:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin."
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menyatakan bahwa kemarahan Allah sangat besar terhadap dua kelompok:
- Orang yang dibunuh langsung oleh Nabi ﷺ di jalan Allah — ini merujuk pada mereka yang tewas di tangan Nabi ﷺ dalam peperangan membela agama Allah, seperti sebagian tokoh Quraisy yang memerangi Islam dengan keras. Mereka bukan hanya memerangi agama, tetapi juga menantang dan menyakiti Nabi secara langsung, sehingga kemurkaan Allah atas mereka sangat berat.
- Kaum yang melukai wajah Nabi ﷺ hingga berdarah — ini merujuk pada peristiwa Perang Uhud, ketika sebagian kaum Quraisy (dipimpin oleh pasukan yang dipimpin Abu Sufyan) berhasil melukai wajah Nabi ﷺ. Dalam riwayat lain di Shahih Al-Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa gigi Nabi ﷺ patah dan wajah beliau terluka, hingga beliau mengusap darah dari wajahnya sambil bersabda: "Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui."
Pemahaman ulama:
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besar dosa menyakiti Nabi ﷺ, karena beliau adalah makhluk paling mulia. Beliau juga menyebutkan bahwa ungkapan "kemarahan Allah semakin keras" menunjukkan tingkatan murka yang paling berat, bukan sekadar kemarahan biasa.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits-hadits serupa tentang Perang Uhud) menjelaskan bahwa peristiwa terlukanya Nabi ﷺ adalah ujian dari Allah untuk mengangkat derajat beliau dan para sahabat, sekaligus menjadi pelajaran bahwa kemenangan tidak selalu datang seketika, tetapi membutuhkan kesabaran dan ketaatan.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan tafsirnya menyebutkan bahwa Perang Uhud adalah ujian besar bagi kaum muslimin. Kekalahan sebagian pasukan disebabkan oleh ketidaktaatan sebagian sahabat yang meninggalkan posisi mereka. Namun, Nabi ﷺ tetap memaafkan dan mendoakan kebaikan bagi kaumnya, menunjukkan akhlak beliau yang paling mulia.
Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa meskipun Nabi ﷺ terluka pada Perang Uhud, hal itu tidak mengurangi kedudukan beliau di sisi Allah. Justru sebaliknya, Allah meninggikan derajat beliau dan menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran bagi umat Islam tentang pentingnya kesabaran, ketaatan kepada pemimpin, dan tidak meninggalkan perintah Rasulullah ﷺ.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat-ayat tentang Uhud mengajarkan bahwa ujian adalah sunnatullah bagi orang beriman, dan bahwa kesabaran serta ketaatan adalah kunci pertolongan Allah.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama berbeda pendapat tentang siapa yang secara spesifik dimaksud "orang yang dibunuh oleh Nabi ﷺ." Sebagian menyebutkan bahwa ini merujuk pada tokoh-tokoh tertentu yang tewas di tangan Nabi ﷺ dalam perang, seperti pada Perang Badar dan Uhud. Namun, inti maknanya tetap sama: bahwa memerangi Nabi ﷺ dan menyakitinya adalah dosa yang sangat besar. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa hadits ini bersifat umum, mencakup semua yang memerangi Nabi ﷺ dan menyakitinya, dengan penekanan khusus pada peristiwa Uhud.
Story Telling
Pada Perang Uhud, kaum muslimin awalnya hampir meraih kemenangan. Namun, ketika sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka karena tergiur harta rampasan, pasukan Quraisy berbalik menyerang. Dalam kekacauan itu, Nabi ﷺ terluka: wajah beliau berdarah, gigi beliau patah, dan beliau terjatuh ke dalam lubang.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa saat itu, para sahabat berusaha melindungi Nabi ﷺ. Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu 'anhu menggunakan tubuhnya sebagai tameng hingga tangannya terluka parah. Sementara Nabi ﷺ, meskipun dalam keadaan terluka, tetap mengusap darah dari wajahnya dan bersabda: "Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui."
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Ya Allah, janganlah Engkau hukum kaumku, karena mereka tidak mengetahui." Ini menunjukkan betapa mulianya akhlak Nabi ﷺ, bahkan dalam keadaan terluka beliau tetap mendoakan kebaikan bagi orang yang menyakitinya.
Hikmah: Peristiwa ini mengajarkan bahwa ujian dan luka fisik tidak mengurangi kedudukan seseorang di sisi Allah. Justru kesabaran dan akhlak mulia dalam menghadapi ujian itulah yang meninggikan derajat. Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam memaafkan dan mendoakan kebaikan bagi orang yang berbuat zalim.
Kesimpulan Praktis
- Menyakiti Nabi ﷺ adalah dosa besar. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah sangat murka terhadap orang yang menyakiti Nabi ﷺ, baik secara fisik maupun dengan melanggar sunnah beliau.
- Ujian adalah bagian dari perjalanan dakwah. Perang Uhud mengajarkan bahwa kemenangan tidak selalu datang seketika, tetapi membutuhkan kesabaran, ketaatan, dan tawakkal kepada Allah.
- Teladani akhlak Nabi ﷺ. Meskipun terluka dan disakiti, Nabi ﷺ tetap memaafkan dan mendoakan kebaikan bagi kaumnya. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan.
- Taat kepada pemimpin adalah kunci kemenangan. Kekalahan di Uhud disebabkan oleh ketidaktaatan sebagian pasukan. Ini mengajarkan pentingnya mendengar dan taat kepada perintah Rasulullah ﷺ dan pemimpin selama dalam kebaikan.
- Jangan meremehkan dosa menyakiti orang beriman. Jika menyakiti Nabi ﷺ saja mendatangkan murka Allah yang sangat besar, maka menyakiti orang beriman juga merupakan dosa yang berat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.