Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4073 tentang Kemurkaan Allah atas yang menyakiti Nabi dan membunuh di jalan-Nya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang dua hal yang menyebabkan murka Allah SWT sangat besar. Pertama, murka Allah kepada kaum yang menyakiti Nabi-Nya ﷺ, sebagaimana yang terjadi pada Perang Uhud ketika gigi beliau patah. Kedua, murka Allah kepada orang yang dibunuh oleh Rasulullah ﷺ di jalan Allah, yaitu orang-orang kafir yang memerangi beliau. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan Nabi ﷺ di sisi Allah, dan betapa besar dosa orang yang berani menyakiti beliau.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perang, Bab "Apa yang Menimpa Nabi ﷺ pada Hari Uhud", nomor 4073, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab Hadits:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ هَمَّامٍ، سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ فَعَلُوا بِنَبِيِّهِ ـ يُشِيرُ إِلَى رَبَاعِيَتِهِ ـ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى رَجُلٍ يَقْتُلُهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي سَبِيلِ اللَّهِ "

Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Sangat keraslah murka Allah terhadap suatu kaum yang berbuat (menyakiti) Nabi-Nya - sambil menunjuk kepada gigi taringnya (yang patah) - dan sangat keraslah murka Allah terhadap seorang lelaki yang dibunuh oleh Rasulullah ﷺ di jalan Allah."

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

"Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknat mereka di dunia dan di akhirat, dan menyediakan bagi mereka azab yang menghinakan." (QS. Al-Ahzab [33]: 57)

Ayat ini sangat relevan karena secara tegas menjelaskan akibat buruk bagi orang-orang yang menyakiti Rasulullah ﷺ, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat di atas (QS. Al-Ahzab: 57) adalah ancaman keras bagi siapa saja yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, baik dengan perkataan maupun perbuatan.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman) menegaskan bahwa menyakiti Rasulullah ﷺ termasuk dosa besar yang menyebabkan pelakunya mendapat laknat dan azab yang menghinakan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki dua bagian penting yang perlu dipahami:

Pertama: Murka Allah kepada kaum yang menyakiti Nabi-Nya ﷺ

Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa murka Allah sangat keras terhadap kaum yang menyakiti beliau. Saat mengucapkan kalimat ini, beliau menunjuk ke arah gigi taringnya yang patah. Ini merujuk pada peristiwa Perang Uhud, ketika para sahabat tidak menaati perintah beliau untuk tetap bertahan di bukit, sehingga pasukan musuh berhasil menyerang dari belakang. Dalam peristiwa itu, gigi depan Rasulullah ﷺ patah, wajah beliau terluka, dan beliau jatuh ke dalam lubang.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan betapa besar penderitaan yang dialami Nabi ﷺ di jalan Allah. Namun, beliau tetap sabar dan tidak mendoakan keburukan kepada kaumnya. Ini adalah pelajaran agung tentang kesabaran dan kelembutan Nabi ﷺ.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "kaum yang menyakiti Nabi-Nya" adalah orang-orang musyrik Quraisy yang memerangi beliau di Uhud. Mereka adalah orang-orang kafir yang memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Kedua: Murka Allah kepada orang yang dibunuh oleh Rasulullah ﷺ di jalan Allah

Bagian kedua hadits ini menjelaskan bahwa Allah sangat murka kepada orang-orang kafir yang terbunuh dalam peperangan melawan Rasulullah ﷺ. Mereka mati dalam keadaan kafir dan memerangi Allah serta Rasul-Nya, sehingga mereka berhak mendapatkan murka Allah.

Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam Syarh Kitab At-Tauhid menjelaskan bahwa orang-orang kafir yang memerangi Rasulullah ﷺ dan terbunuh dalam keadaan kafir adalah seburuk-buruk makhluk. Mereka mati dalam keadaan dimurkai Allah, dan tempat kembali mereka adalah neraka.

Pelajaran dari Peristiwa Uhud:

Perang Uhud adalah ujian besar bagi kaum Muslimin. Awalnya kaum Muslimin hampir menang, tetapi karena sebagian pemanah tidak menaati perintah Rasulullah ﷺ untuk tetap di atas bukit, pasukan berkuda musuh berhasil menyerang dari belakang. Akibatnya, banyak sahabat yang gugur, termasuk Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Nabi ﷺ.

Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ melihat pamannya Hamzah terbunuh dan jasadnya dimutilasi oleh Hindun binti Utbah, beliau sangat sedih. Namun, beliau tetap bersabar dan tidak melampaui batas dalam membalas.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Fiqh As-Sirah menegaskan bahwa peristiwa Uhud mengajarkan pentingnya ketaatan kepada pemimpin dan bahaya maksiat (melanggar perintah) yang berakibat fatal.

Story Telling

Dikisahkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa pada Perang Uhud, gigi depan Rasulullah ﷺ patah dan wajah beliau terluka. Beliau bersabda:

"Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melukai wajah Nabi mereka, padahal ia mengajak mereka kepada Allah?"

Maka turunlah firman Allah:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

"Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, atau Allah menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim." (QS. Ali 'Imran [3]: 128)

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if Al-Ma'arif menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai pelajaran bahwa urusan memberi hidayah dan azab sepenuhnya milik Allah. Nabi ﷺ hanyalah penyampai risalah. Ini mengajarkan kita untuk tidak berputus asa terhadap hidayah orang lain, dan tidak pula melampaui batas dalam membalas kejahatan.

Hikmah dari kisah ini: Betapa sabarnya Nabi ﷺ menghadapi ujian yang sangat berat. Beliau tidak membalas dengan keburukan, tetapi justru mendoakan kebaikan untuk kaumnya. Ini adalah akhlak mulia yang harus kita teladani dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan Praktis

  1. Menjauhi segala bentuk menyakiti Nabi ﷺ, baik dengan perkataan, perbuatan, maupun ejekan. Ini termasuk dosa besar yang mendatangkan murka Allah.
  2. Meneladani kesabaran Nabi ﷺ dalam menghadapi ujian dan cobaan. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi dengan kesabaran dan doa.
  3. Menjauhi sebab-sebab kekalahan, seperti tidak menaati pemimpin dan perintah Allah. Peristiwa Uhud mengajarkan bahwa maksiat dan perselisihan membawa kehancuran.
  4. Menghormati para sahabat yang berjuang bersama Nabi ﷺ dan gugur di jalan Allah. Mereka adalah generasi terbaik umat ini.
  5. Menjaga lisan dan tulisan dari perkataan yang dapat menyakiti orang lain, apalagi menyakiti Nabi ﷺ dan para ulama pewaris nabi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.