Penjelasan Hadits Bukhari No. 4067 tentang Kekalahan pasukan Muslim di Perang Uhud

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa Perang Uhud, ketika Nabi ﷺ menempatkan Abdullah bin Jubair sebagai komandan pasukan pemanah. Ketika sebagian pasukan meninggalkan posisi mereka karena tergiur harta rampasan, musuh menyerang dari belakang dan pasukan Muslim pun kalah. Di tengah kekacauan itu, Rasulullah ﷺ tetap memanggil mereka dari belakang, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an. Pelajaran utamanya adalah wajibnya taat kepada perintah pemimpin selama tidak maksiat, dan bahayanya melanggar arahan karena kepentingan duniawi.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

Allah ﷻ berfirman:

إِذْ تُصْعِدُونَ وَلَا تَلْوُونَ عَلَىٰ أَحَدٍ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ فَأَثَابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ لِّكَيْلَا تَحْزَنُوا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَا أَصَابَكُمْ ۗ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

QS. Ali 'Imran [3]: 153

Terjemahan ringkas: "(Ingatlah) ketika kamu lari mendaki dan tidak menoleh kepada siapa pun, sedang Rasul (Muhammad) memanggilmu dari belakang. Karena itu, Allah memberi balasan kepadamu dengan kesedihan demi kesedihan, agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dan tidak (pula) terhadap apa yang menimpamu. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perang, dari sahabat Al-Bara' bin 'Azib رضي الله عنهما. Al-Bukhari meriwayatkan melalui jalur 'Amr bin Khalid, dari Zuhair, dari Abu Ishaq, dari Al-Bara' bin 'Azib.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil penempatan komandan pasukan pemanah di Uhud dan sebab kekalahan.
  • Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan ayat 153 surah Ali 'Imran berkaitan langsung dengan peristiwa ini.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan pentingnya ketaatan kepada pemimpin dalam medan perang.

Penjelasan Rinci

Konteks Perang Uhud:

Perang Uhud terjadi pada tahun ke-3 Hijriah. Nabi ﷺ menempatkan sekitar lima puluh pasukan pemanah di bukit (Jabal ar-Rumah) di bawah komando Abdullah bin Jubair رضي الله عنه. Perintah Nabi ﷺ sangat jelas: jangan tinggalkan posisi ini, apapun yang terjadi, sampai aku beri perintah.

Sebab kekalahan:

Ketika pasukan Muslim awalnya berhasil mendesak musuh, sebagian besar pasukan pemanah melihat harta rampasan (ghanimah) dan meninggalkan posisi mereka karena mengira perang telah selesai. Khalid bin Walid (saat itu masih di pihak Quraisy) memanfaatkan celah itu dan menyerang dari belakang. Akibatnya, pasukan Muslim terpecah dan banyak yang gugur, termasuk Abdullah bin Jubair dan Hamzah bin Abdul Muththalib رضي الله عنه.

Makna "Rasul memanggil dari belakang":

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ketika pasukan Muslim berlarian mendaki bukit, Rasulullah ﷺ tetap berdiri di medan dan memanggil mereka: "Kemarilah kepadaku, aku Rasulullah!" Namun karena kekacauan, banyak yang tidak mendengar atau tidak menoleh. Inilah yang Allah gambarkan dalam QS. Ali 'Imran [3]: 153.

Pelajaran dari Ibnu Hajar al-Asqalani:

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan:

  1. Wajibnya taat kepada komandan selama tidak memerintahkan maksiat.
  2. Bahaya meninggalkan posisi karena ambisi duniawi.
  3. Kekalahan Uhud bukan karena lemahnya strategi Nabi ﷺ, tetapi karena pelanggaran sebagian pasukan.

Pelajaran dari Ibnul Qayyim:

Dalam Zadul Ma'ad, Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ujian di Uhud adalah bentuk pendidikan Allah kepada para sahabat agar mereka memahami bahwa kemenangan datang dari ketaatan, bukan sekadar jumlah atau kekuatan.

Perbedaan pendapat ulama:

Sebagian ulama seperti Al-Waqidi (di luar daftar rujukan) menyebut jumlah pemanah 50 orang. Namun riwayat shahih dari Al-Bukhari dan Muslim tidak menyebutkan angka pasti. Yang paling kuat adalah riwayat Al-Bukhari yang menyebutkan penempatan Abdullah bin Jubair sebagai komandan tanpa angka pasti.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa ketika pasukan Muslim mulai kalah dan berlarian, Anas bin Nadhr رضي الله عنه (paman Anas bin Malik) berdiri dan berkata: "Wahai kaum, mengapa kalian lari?" Mereka menjawab: "Rasulullah ﷺ telah gugur!" Anas bin Nadhr berkata: "Jika Rasulullah ﷺ benar-benar gugur, maka apa gunanya hidup setelah beliau? Matilah kalian dengan cara yang mulia!" Ia pun bertempur hingga syahid. Dalam tubuhnya ditemukan lebih dari delapan puluh luka bekas sabetan pedang dan tusukan tombak.

Hikmah: Kesetiaan kepada Rasulullah ﷺ dan agama Allah harus melebihi kecintaan kepada dunia. Ketika banyak yang tergoda harta, sebagian sahabat memilih tetap teguh di medan perang.

Kesimpulan Praktis

  1. Taat kepada pemimpin dalam hal yang bukan maksiat adalah kewajiban, terutama dalam keadaan darurat.
  2. Jangan tergiur harta duniawi hingga melupakan perintah Allah dan Rasul-Nya.
  3. Kekalahan bukan akhir segalanya — Allah mendidik umat melalui ujian agar kembali taat.
  4. Rasulullah ﷺ tetap memanggil umatnya meski mereka lari — ini menunjukkan kasih sayang beliau yang luar biasa.
  5. Perbanyak istighfar dan muhasabah atas kelalaian kita, sebagaimana para sahabat bertaubat setelah Uhud dan Allah menerima taubat mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?