Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan keistimewaan besar yang Allah berikan kepada Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu. Pada Perang Uhud, Rasulullah ﷺ secara khusus mengucapkan, "Tebusan bagimu ayahku dan ibuku" (فدَاكَ أَبِي وَأُمِّي) sebagai bentuk doa, pujian, dan rasa cinta beliau kepada Sa'd yang saat itu dengan gagah berani memanah musuh dan membela Nabi. Ini adalah pujian tertinggi dari seorang nabi kepada sahabatnya, yang menunjukkan kedudukan Sa'd yang mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat
- Perawi: Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Sa'id bin al-Musayyib.
- Kitab: Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, Bab “Ketika dua kelompok dari kalian ingin mundur” (Q.S. Ali Imran: 152–155), no. 4056.
- Teks Arab (dengan harakat lengkap):
<p dir="rtl">حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، قَالَ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ، قَالَ: سَمِعْتُ سَعْدًا، يَقُولُ: جَمَعَ لِيَ النَّبِيُّ ﷺ أَبَوَيْهِ يَوْمَ أُحُدٍ.</p>
- Terjemahan: “Rasulullah ﷺ menyebutkan kedua orang tuanya untukku pada hari Uhud.”
Maksud “menyebutkan kedua orang tua” adalah beliau bersabda: “Fidāka abī wa ummī” (Tebusan bagimu ayahku dan ibuku).
Penjelasan Ulama
- Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa ucapan “fidāka abī wa ummī” merupakan bentuk pujian dan penghargaan tertinggi dari seorang nabi, karena orang tua adalah orang yang paling mulia bagi seseorang. Ini menunjukkan betapa besar jasa Sa'd pada hari Uhud.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari) mengomentari hadits ini dengan menyebutkan bahwa Sa'd pada hari itu memanah musuh dengan panahnya, dan Nabi ﷺ membantunya dengan mengarahkan busur. Saat Sa'd memanah, Nabi ﷺ bersabda, “Panahlah, wahai Sa‘d, tebusan bagimu ayahku dan ibuku.” Beliau juga menambahkan bahwa hadits ini adalah dalil tentang keutamaan Sa'd bin Abi Waqqash, dan ia termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.
- Imam al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab yang membahas firman Allah Q.S. Ali Imran ayat 152–155 tentang mundurnya sebagian pasukan pada Perang Uhud. Hal ini mengisyaratkan bahwa di tengah kekacauan itu, Sa'd bin Abi Waqqash adalah salah satu yang tetap teguh dan berjuang di sisi Nabi.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Sa'id bin al-Musayyib (seorang Tabi'in besar) dari Sa'd bin Abi Waqqash. Sa'd adalah salah satu sahabat yang paling awal masuk Islam, dan dikenal sebagai ahli memanah. Pada Perang Uhud, ia bersama beberapa sahabat lain bertahan di samping Nabi ﷺ setelah banyak pasukan mundur akibat tersebar isu kematian beliau.
Yang dimaksud dengan “جَمَعَ لِي النَّبِيُّ أَبَوَيْهِ” bukanlah secara fisik mengumpulkan kedua orang tua Nabi (karena keduanya sudah wafat saat itu), melainkan ungkapan kiasan. Sebagian ulama (seperti Imam al-Khattabi dan al-Harbi dalam Fathul Bari) mengatakan maknanya adalah: “Beliau menyebut keduanya dalam rangka mendoakanku, yaitu dengan berkata: 'Fidāka abī wa ummī'.” Atau: “Beliau menjadikan kedua orang tuanya sebagai tebusan untukku.”
Ungkapan “fidāka abī wa ummī” adalah tradisi orang Arab untuk menunjukkan kecintaan dan pengorbanan, bahwa seseorang rela kehilangan orang yang paling berharga (orang tua) demi menyelamatkan atau menghormati orang lain. Dalam Islam, ungkapan ini bukanlah bentuk syirik, tetapi doa dan pujian yang biasa diucapkan oleh manusia biasa. Namun, ketika Nabi ﷺ mengucapkannya kepada seorang sahabat, itu menjadi tanda keistimewaan yang luar biasa.
Keutamaan Sa'd bin Abi Waqqash
- Beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin surga (al-‘asyarah al-mubasyarun).
- Do'a Nabi ﷺ untuknya selalu mustajab. Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari no. 3724 bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Wahai Sa‘d, panahlah, tebusan bagimu ayahku dan ibuku.” Sa'ad meriwayatkan bahwa sejak saat itu, setiap kali ia memanah musuh, panahnya selalu tepat sasaran.
- Ia adalah panglima perang dalam penaklukan Persia (Qadisiyyah) dan masih hidup hingga masa Khalifah Umar dan Utsman.
Para ulama seperti Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah menyebutkan bahwa Perang Uhud adalah ujian berat karena banyak sahabat yang gugur dan sebagian lari. Namun Allah memuliakan Sa'd dengan pujian dari lisan Nabi ﷺ sebagai bentuk penghiburan dan pengakuan atas keteguhannya.
Story Telling
Kisah Singkat dari Perang Uhud (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
Ketika pasukan Muslimin mulai kocar-kacir, hanya segelintir sahabat yang bertahan di sekeliling Nabi ﷺ. Di antaranya adalah Sa'd bin Abi Waqqash, Thalhah bin 'Ubaidillah, dan beberapa orang Anshar. Nabi ﷺ berdiri di atas bukit Uhud, sementara musuh menyerbu dari berbagai arah. Beliau bersabda kepada Sa'd: “Panahlah, wahai Sa‘d, tebusan bagimu ayahku dan ibuku!”
Sa'd kemudian mengambil anak panah, dan setiap kali ia lepaskan, beliau berkata: “Panahlah, tebusan bagimu ayahku dan ibuku.” Tidak ada seorang pun yang mendengar Nabi ﷺ mengucapkan “fidāka abī wa ummī” kepada sahabat lain kecuali kepada Sa'd.
Ibnu Hajar menambahkan: “Hadits ini menunjukkan bahwa kecintaan Nabi ﷺ kepada Sa'd sangat besar. Dan ini menjadi bukti bahwa di saat genting, beliau memberikan semangat secara langsung kepada para sahabat yang setia.”
Kesimpulan Praktis
- Ikhlas dan sabar dalam berjuang di jalan Allah, meskipun banyak orang mundur dan kalah, akan mendatangkan kemuliaan di sisi Allah dan Rasul-Nya.
- Doa dan pujian dari orang shalih terutama dari Nabi ﷺ adalah keberkahan besar. Kita dianjurkan untuk mendoakan kebaikan kepada sesama.
- Keutamaan Sa'd bin Abi Waqqash patut diteladani, terutama keberaniannya dalam membela agama meski menghadapi risiko besar.
- Pentingnya bersandar kepada Allah bukan pada jumlah atau kekuatan, karena kemenangan sejati adalah keteguhan iman.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.