Penjelasan Hadits Bukhari No. 4006 tentang Nafkah untuk keluarga bernilai sedekah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa nafkah yang dikeluarkan seorang suami untuk istri, anak, dan keluarganya yang menjadi tanggungannya, tidaklah sia-sia. Justru, pengeluaran tersebut bernilai ibadah dan dicatat sebagai sedekah di sisi Allah ﷻ. Ini adalah kabar gembira bagi para pencari nafkah, bahwa rezeki yang mereka cari dengan susah payah bisa menjadi ladang pahala yang besar jika diniatkan karena Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini adalah sabda Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari sahabat Abu Mas'ud Al-Badri radhiyallahu 'anhu. Teks haditsnya adalah:

حَدَّثَنَا مُسْلِمٌ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَدِيٍّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ، سَمِعَ أَبَا مَسْعُودٍ الْبَدْرِيَّ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ ‏"‏ نَفَقَةُ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ صَدَقَةٌ ‏"‏

Artinya: "Nafkah seorang laki-laki untuk keluarganya adalah sedekah." (HR. Al-Bukhari, no. 4006)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1002) dari jalur yang berbeda, dengan lafaz yang semakna. Ini menunjukkan kekuatan dan keautentikan hadits ini.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang keutamaan memberi nafkah kepada keluarga. Berikut beberapa poin penting dari pemahaman para ulama dalam daftar rujukan kita:

  1. Makna "Nafkah" dan "Ahli": Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "nafkah" di sini adalah pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Adapun "ahli" (keluarga) adalah orang-orang yang menjadi tanggungan wajib nafkahnya, seperti istri, anak-anak, dan orang tua yang membutuhkan.
  2. Pahala Sedekah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa pahala sedekah di sini bukan hanya sekadar pahala memberi, tetapi pahala karena telah menunaikan kewajiban dan perintah Allah ﷻ. Beliau berkata, "Ketika seorang suami memberi nafkah kepada keluarganya dengan niat untuk menunaikan perintah Allah dan Rasul-Nya, serta untuk menjaga kehormatan keluarganya, maka ia akan mendapatkan pahala sedekah."
  3. Niat adalah Kunci: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menekankan bahwa nilai ibadah dari nafkah ini sangat bergantung pada niat. Jika seorang suami memberi nafkah hanya karena gengsi, terpaksa, atau tanpa mengharap pahala, maka ia tidak mendapatkan pahala sedekah. Namun, jika ia berniat karena Allah, menjaga keluarga, dan mengharap ridha-Nya, maka ia akan mendapat pahala yang besar.
  4. Keutamaan Mencari Rezeki Halal: Hadits ini juga menunjukkan bahwa bekerja mencari rezeki yang halal untuk keluarga adalah amalan yang sangat mulia. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Daud 'alaihissalam makan dari hasil usahanya sendiri." (HR. Al-Bukhari). Ini sejalan dengan hadits yang sedang kita kaji, bahwa bekerja dan membelanjakan hasilnya untuk keluarga adalah bagian dari jihad di jalan Allah.
  5. Prioritas Nafkah: Hadits ini juga mengajarkan prioritas. Sebelum bersedekah kepada orang lain di luar keluarga, seorang laki-laki wajib mendahulukan nafkah keluarganya. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa sedekah yang paling utama adalah yang diberikan kepada orang yang menjadi tanggungan kita, karena hal itu menggabungkan dua kebaikan: silaturahmi (kepada keluarga) dan sedekah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Mas'ud Al-Badri radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah seorang sahabat yang mulia. Suatu hari, beliau sedang mencambuk budaknya. Tiba-tiba ia mendengar suara dari belakangnya, "Ketahuilah wahai Abu Mas'ud, Allah lebih mampu menguasaimu daripada kamu menguasai budak ini." Beliau menoleh dan ternyata itu adalah Rasulullah ﷺ. Abu Mas'ud pun berkata, "Wahai Rasulullah, dia merdeka karena Allah." Nabi ﷺ bersabda, "Kalau saja kamu tidak melakukannya, niscaya api akan menyentuhmu." (HR. Muslim).

Kisah ini menunjukkan betapa lembutnya hati para sahabat dalam menerima nasihat Nabi ﷺ. Mereka sangat takut kepada Allah dan segera memperbaiki diri. Hikmah yang bisa kita ambil adalah bahwa seorang mukmin sejati adalah yang selalu siap mendengar dan taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, termasuk dalam hal memperlakukan keluarga dan orang-orang di bawah tanggungannya dengan baik.

Kesimpulan Praktis

Dari hadits ini, ada beberapa poin yang bisa kita amalkan:

  1. Niatkan Setiap Pengeluaran untuk Keluarga sebagai Ibadah: Sebelum membelanjakan uang untuk kebutuhan rumah tangga, perbaharui niat bahwa ini adalah bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
  2. Dahulukan Keluarga: Pastikan kebutuhan keluarga terpenuhi sebelum bersedekah kepada orang lain di luar tanggungan.
  3. Jangan Remehkan Pengeluaran Kecil: Sekecil apa pun pengeluaran untuk istri dan anak, jika diniatkan karena Allah, akan bernilai pahala.
  4. Cari Rezeki yang Halal: Pastikan sumber nafkah yang kita berikan kepada keluarga berasal dari usaha yang halal dan baik, agar keberkahan mengalir kepada seluruh anggota keluarga.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?