Penjelasan Hadits Bukhari No. 4 tentang Wahyu pertama turun dan perintah berdakwah kepada Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan momen penting setelah jeda wahyu (fatratul wahyi). Ketika Nabi ﷺ sedang berjalan, beliau melihat Malaikat Jibril dalam wujud aslinya yang agung duduk di kursi antara langit dan bumi. Peristiwa ini membuat beliau merasa takut dan pulang meminta diselimuti. Allah kemudian menurunkan surat Al-Muddatstsir, yang berisi perintah untuk berdakwah dan memperingatkan manusia. Ini menandai dimulainya kembali wahyu dengan semangat baru dan menjadi titik awal dakwah Islam secara terang-terangan.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ ١ قُمْ فَاَنْذِرْ ٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ٤ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ٥

"Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu. Dan bersihkanlah pakaianmu. Dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji." (QS. Al-Muddatstsir [74]: 1-5)

2. Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Awal Wahyu, Bab "Bagaimana Awal Mula Turunnya Wahyu", dari Jabir bin Abdillah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 161) dengan redaksi yang serupa.

3. Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan secara panjang lebar tentang hadits ini, termasuk makna "fatratul wahyi" (jeda wahyu) dan hikmah di baliknya.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga memberikan penjelasan tentang peristiwa ini, menekankan bahwa rasa takut Nabi ﷺ adalah hal yang wajar karena melihat malaikat dalam wujud aslinya yang sangat agung.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa setelah wahyu pertama turun di Gua Hira (QS. Al-'Alaq: 1-5), terjadi jeda wahyu selama beberapa waktu. Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa masa jeda ini adalah untuk menguatkan hati Nabi ﷺ dan menghilangkan rasa cemas yang beliau rasakan setelah pengalaman pertama yang luar biasa di Gua Hira.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa jeda wahyu ini adalah hikmah dari Allah untuk memberikan ketenangan kepada Nabi ﷺ, sekaligus mempersiapkan beliau untuk tugas besar yang akan diemban. Ini juga menjadi ujian kesabaran bagi beliau.

Dalam hadits ini, Jabir bin Abdillah menceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ sedang berjalan, beliau mendengar suara dari langit. Saat beliau mengangkat pandangan, beliau melihat Malaikat Jibril duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah wujud Jibril yang sangat besar dan agung, yang menyebabkan Nabi ﷺ merasa takut. Rasa takut ini adalah reaksi alami manusia ketika melihat makhluk yang luar biasa besarnya.

Yang menarik, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam syarahnya menyebutkan bahwa meskipun Nabi ﷺ sudah pernah bertemu Jibril sebelumnya, namun melihat wujud asli Jibril yang sangat besar ini tetap membuat beliau kagum dan takut. Ini menunjukkan kebesaran ciptaan Allah dan betapa agungnya tugas yang diemban para malaikat.

Setelah kejadian itu, Nabi ﷺ pulang dan meminta istrinya, Khadijah radhiyallahu 'anha, untuk menyelimutinya. Saat itulah Allah menurunkan surat Al-Muddatstsir. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa surat ini turun sebagai jawaban atas kondisi Nabi ﷺ yang sedang berselimut karena ketakutan. Allah memanggil beliau dengan panggilan yang lembut, "Wahai orang yang berselimut," kemudian memberikan perintah yang jelas: "Bangunlah, lalu berilah peringatan!"

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perintah "Qum fa andzir" (Bangunlah, lalu berilah peringatan) adalah titik awal dakwah secara terang-terangan. Sebelumnya, dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Setelah turunnya surat ini, Nabi ﷺ mulai berdakwah secara terbuka kepada masyarakat Quraisy.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif menjelaskan bahwa setelah peristiwa ini, wahyu mulai turun secara beruntun dan teratur. Ini menandakan bahwa masa-masa persiapan telah selesai, dan kini Nabi ﷺ memasuki fase dakwah yang lebih intensif.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 4) bahwa setelah turunnya wahyu pertama di Gua Hira, Nabi ﷺ pulang dengan gemetar kepada Khadijah dan berkata, "Selimuti aku, selimuti aku." Khadijah kemudian menyelimuti beliau hingga rasa takutnya reda.

Setelah itu, Khadijah membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal, sepupunya yang beragama Nasrani dan menguasai kitab-kitab suci. Waraqah berkata, "Ini adalah An-Namus (Jibril) yang pernah turun kepada Musa. Duhai, sekiranya aku masih muda dan hidup pada masa kenabianmu. Duhai, sekiranya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu." Nabi ﷺ bertanya, "Apakah mereka akan mengusirku?" Waraqah menjawab, "Ya. Tidak ada seorang pun yang datang membawa seperti yang engkau bawa kecuali akan dimusuhi. Jika aku masih hidup sampai masa itu, aku akan menolongmu dengan pertolongan yang sekuat-kuatnya."

Namun, tidak lama kemudian Waraqah wafat. Dan jeda wahyu pun terjadi. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan bagaimana Allah mempersiapkan Nabi ﷺ melalui orang-orang terdekatnya, dan bagaimana rasa takut yang dialami Nabi ﷺ adalah hal yang wajar dan manusiawi, bukan celaan.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa dalam berdakwah, rasa takut dan khawatir adalah hal yang manusiawi. Namun, Allah selalu memberikan kekuatan dan pertolongan-Nya. Yang penting adalah ketaatan dan kesiapan untuk menjalankan perintah Allah meskipun hati merasa takut.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa setiap ujian dan rasa takut dalam dakwah adalah bagian dari proses. Nabi ﷺ sendiri merasakan takut, namun Allah selalu menenangkan hatinya.
  2. Jeda dan keterlambatan bukan berarti kegagalan. Fatratul wahyi mengajarkan bahwa ada masa-masa persiapan yang Allah berikan sebelum tugas besar dimulai.
  3. Perintah untuk berdakwah adalah tugas setiap muslim sesuai kemampuannya. Surat Al-Muddatstsir mengajarkan kita untuk berani menyampaikan kebenaran, meskipun dimulai dari hal yang kecil.
  4. Rasa takut kepada Allah dan makhluk-Nya yang agung adalah tanda keimanan. Namun, jangan sampai rasa takut itu menghalangi kita untuk taat.
  5. Setelah kesulitan, pasti ada kemudahan. Setelah jeda wahyu, wahyu turun dengan deras dan beruntun. Ini pelajaran bahwa kesabaran akan berbuah kebaikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?