Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan keutamaan para sahabat yang mengikuti Baiat Aqabah. Rafi' bin Malik radhiyallahu 'anhu lebih membanggakan keikutsertaannya dalam Baiat Aqabah daripada seandainya ia ikut serta dalam Perang Badar. Ini menunjukkan bahwa Baiat Aqabah adalah peristiwa yang sangat agung, karena menjadi pintu masuk Islamnya penduduk Madinah dan cikal bakal berdirinya Daulah Islamiyah di sana. Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa para malaikat turut hadir dan memberikan kesaksian atas kemuliaan para peserta Baiat Aqabah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. At-Taubah [9]: 100
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."
Hadits terkait:
Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perang, Bab Kesaksian Para Malaikat di Badar, no. 3993. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bab ini menunjukkan keutamaan para peserta Baiat Aqabah, dan bahwa para malaikat turut menyaksikan peristiwa tersebut. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa Baiat Aqabah adalah salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Islam karena menjadi fondasi hijrah Nabi ﷺ ke Madinah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini datang dari jalur Mu'adz bin Rifa'ah bin Rafi'. Mu'adz menceritakan bahwa ayahnya, Rifa'ah, adalah seorang pejuang Badar. Sedangkan kakeknya, Rafi' bin Malik, adalah salah seorang dari 70 orang yang berbaiat kepada Nabi ﷺ di Aqabah.
Rafi' bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata kepada putranya: "Tidaklah aku merasa lebih bahagia jika aku ikut serta dalam Perang Badar daripada aku ikut serta dalam Baiat Aqabah."
Perkataan ini bukan berarti meremehkan keutamaan Perang Badar. Justru sebaliknya, ini menunjukkan betapa agungnya Baiat Aqabah di mata beliau. Ada beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
Pertama: Keutamaan Baiat Aqabah
Baiat Aqabah terjadi sebelum hijrah, ketika sekelompok penduduk Madinah datang menemui Nabi ﷺ di Aqabah (dekat Mina) pada musim haji. Mereka berjanji untuk melindungi Nabi ﷺ dan menerima Islam. Peristiwa ini menjadi pintu masuk Islamnya penduduk Madinah dan persiapan hijrah.
Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa Baiat Aqabah terjadi dua kali: Baiat Aqabah pertama (baiat wanita) dan Baiat Aqabah kedua (baiat perang). Baiat Aqabah kedua inilah yang diikuti oleh 70 orang laki-laki dan 2 orang wanita dari Madinah.
Kedua: Kesaksian Para Malaikat
Judul bab dalam Shahih Al-Bukhari adalah "Bab Kesaksian Para Malaikat di Badar". Ini menunjukkan bahwa para malaikat turut hadir dan menyaksikan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa malaikat hadir di Badar untuk membantu kaum muslimin, dan juga hadir di Aqabah sebagai saksi atas baiat yang dilakukan para sahabat.
Ketiga: Urgensi Persiapan Sebelum Perjuangan
Baiat Aqabah adalah persiapan sebelum hijrah dan sebelum Perang Badar. Ini mengajarkan bahwa kemenangan tidak datang secara tiba-tiba, tetapi melalui persiapan yang matang. Para sahabat mempersiapkan diri dengan iman, persaudaraan, dan kesiapan berkorban.
Imam Ibnu Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa strategi Nabi ﷺ dalam membangun masyarakat Islam dimulai dari pembinaan iman dan persaudaraan, kemudian baru berjihad melawan musuh. Baiat Aqabah adalah bagian dari pembinaan tersebut.
Keempat: Keutamaan Menjadi Pelopor
Rafi' bin Malik termasuk golongan as-sabiqun al-awwalun (orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam). Mereka memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Imam As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga yang kekal.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Baiat Aqabah kedua terjadi pada tahun ke-13 kenabian, ketika 70 orang laki-laki dan 2 orang wanita dari Madinah datang menemui Nabi ﷺ. Mereka berbaiat untuk mendengar dan taat, berinfak di jalan Allah, beramar ma'ruf nahi mungkar, dan melindungi Nabi ﷺ sebagaimana mereka melindungi keluarga mereka sendiri.
Saat baiat itu terjadi, Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi ﷺ) hadir dan berkata kepada mereka: "Wahai kaum Khazraj, kalian telah mengetahui kedudukan Muhammad di antara kami. Kami telah melindunginya dari kaum kami. Jika kalian mampu menepati janji ini, maka silakan. Namun jika kalian akan menelantarkannya setelah hijrah, maka tinggalkanlah dia sekarang."
Mereka menjawab: "Kami akan menepatinya, dan kami akan melindunginya sebagaimana kami melindungi anak-anak kami sendiri."
Maka Nabi ﷺ pun membaiat mereka. Setelah itu, setan berteriak dari puncak Aqabah memperingatkan kaum Quraisy, namun para sahabat tetap teguh pada baiat mereka. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah yang sangat agung, yang kemudian membawa kepada hijrah dan berdirinya negara Islam di Madinah.
Kesimpulan Praktis
- Menghormati para sahabat - Kita wajib mencintai dan menghormati seluruh sahabat Nabi ﷺ, terutama mereka yang memiliki keutamaan besar seperti peserta Badar dan peserta Baiat Aqabah.
- Meneladani semangat persiapan - Baiat Aqabah mengajarkan pentingnya persiapan yang matang dalam setiap perjuangan, baik persiapan iman, ilmu, maupun persaudaraan.
- Menjadi pelopor kebaikan - Sebagaimana para sahabat menjadi pelopor Islam di Madinah, kita pun hendaknya menjadi pelopor kebaikan di lingkungan kita masing-masing.
- Menjaga janji dan komitmen - Baiat adalah janji yang agung. Kita harus menjaga komitmen kita kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kepada sesama muslim.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.