Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa para pemuka dan cendekiawan Yahudi di Madinah memiliki pengaruh besar terhadap kaumnya. Jika saja sepuluh dari pemimpin mereka beriman kepada Nabi ﷺ, maka seluruh komunitas Yahudi akan mengikuti mereka. Ini mengajarkan pentingnya peran pemimpin dan ulama dalam membimbing masyarakat, serta menunjukkan bahwa keengganan mereka untuk beriman adalah karena kesombongan dan kedengkian, bukan karena kurangnya bukti kenabian.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
- Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Para Ansar, Bab Kedatangan Yahudi kepada Nabi ketika tiba di Madinah, no. 3941.
- Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Penjelasan Ulama:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (7/200) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "sepuluh orang Yahudi" adalah para pemuka dan rahib mereka yang memiliki pengaruh. Beliau berkata, "Maksudnya adalah para pemimpin dan ulama mereka, karena orang-orang awam mengikuti mereka dalam perkara agama."
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/105) menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya pengaruh pemimpin dan orang-orang yang diikuti dalam suatu kaum. Beliau berkata, "Ini adalah dalil bahwa orang-orang awam mengikuti para pemuka mereka dalam urusan agama, baik dalam kebenaran maupun kebatilan."
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin (1/215) menjelaskan bahwa hadits ini juga mengandung mukjizat Nabi ﷺ, karena apa yang beliau kabarkan terbukti benar. Beliau berkata, "Nabi ﷺ mengabarkan bahwa jika sepuluh pemuka Yahudi beriman, niscaya seluruh Yahudi akan beriman. Ini adalah berita ghaib yang menunjukkan kebenaran kenabian beliau."
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau menyampaikan sabda Nabi ﷺ yang berbunyi: "Seandainya hanya sepuluh orang Yahudi (di antara pemimpin mereka) yang percaya kepadaku, pasti semua Yahudi akan percaya kepadaku."
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
- Pengaruh Pemimpin dan Ulama: Hadits ini menunjukkan bahwa masyarakat awam cenderung mengikuti pemimpin dan ulama mereka. Jika para pemuka Yahudi beriman, maka orang-orang Yahudi lainnya akan mengikuti karena mereka adalah panutan. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi.
- Kesombongan dan Kedengkian Yahudi: Hadits ini juga mengungkapkan bahwa penyebab utama keengganan Yahudi untuk beriman bukanlah karena kurangnya bukti, melainkan karena kesombongan dan kedengkian para pemimpin mereka. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 89:
وَلَمَّا جَآءَهُمْ كِتَٰبٌ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا۟ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُوا۟ كَفَرُوا۟ بِهِۦ ۚ فَلَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ
"Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, tetapi setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar."
Ayat ini menunjukkan bahwa mereka telah mengetahui kebenaran Nabi Muhammad ﷺ dari kitab suci mereka, namun mereka tetap mengingkarinya karena kesombongan.
- Mukjizat Kenabian: Hadits ini juga merupakan salah satu mukjizat Nabi ﷺ, karena beliau mengabarkan sesuatu yang belum terjadi dan terbukti kebenarannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh al-Utsaimin, ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ diberi ilmu tentang hal-hal ghaib oleh Allah.
- Peringatan bagi Umat Islam: Hadits ini juga menjadi peringatan bagi umat Islam agar tidak mengikuti pemimpin yang sesat. Sebagaimana Yahudi mengikuti pemimpin mereka dalam kekufuran, maka umat Islam harus berhati-hati dalam memilih pemimpin dan ulama yang diikuti.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi sangat taat kepada pemimpin dan rahib mereka. Mereka tidak berani menyelisihi pendapat para pemuka mereka, meskipun mereka tahu bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah yang disebutkan dalam Taurat.
Suatu hari, seorang Yahudi bernama Abdullah bin Salam—seorang pemuka dan rahib Yahudi yang sangat dihormati—datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya tentang beberapa hal. Setelah mendapat jawaban yang meyakinkan, ia pun menyatakan keislamannya. Namun, ia berkata kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah kaum yang suka berdusta. Jika mereka tahu aku masuk Islam, mereka akan menuduhku dengan keburukan." Maka Nabi ﷺ menyuruhnya bersembunyi, lalu memanggil para pemuka Yahudi dan bertanya tentang kedudukan Abdullah bin Salam di antara mereka. Mereka menjawab, "Dia adalah pemimpin kami dan putra pemimpin kami, alim kami dan putra alim kami." Setelah itu, Abdullah bin Salam keluar dan menyatakan keislamannya di hadapan mereka. Maka mereka pun berkata, "Dia adalah seburuk-buruk orang dan putra seburuk-buruk orang." (HR. Bukhari no. 3911)
Kisah ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh pemimpin Yahudi. Jika seorang pemuka seperti Abdullah bin Salam masuk Islam, maka akan banyak yang mengikutinya. Namun, karena kesombongan dan kedengkian, mereka justru menolak kebenaran.
Kesimpulan Praktis
- Pentingnya memilih pemimpin dan ulama yang shalih, karena mereka akan membawa kebaikan bagi masyarakat.
- Jangan mudah mengikuti pemimpin tanpa ilmu, karena bisa terjerumus dalam kesesatan.
- Hendaknya kita menjadi pemimpin yang baik, agar orang lain mengikuti kita dalam kebaikan.
- Yakinlah bahwa Islam adalah agama yang benar, meskipun banyak orang yang menolaknya karena kesombongan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.