Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan kedatangan Nabi ﷺ ke Madinah, beliau tinggal sementara di Bani Amr bin Auf selama 14 malam, lalu pindah ke rumah Abu Ayyub al-Anshari. Kemudian beliau membangun Masjid Nabawi di atas tanah milik Bani Najjar, yang mereka serahkan tanpa meminta bayaran, hanya mengharap pahala dari Allah. Hadits ini mengajarkan keikhlasan, kedermawanan, dan semangat berkorban untuk agama.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dan dicatat oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Ansar, Bab Kedatangan Nabi ﷺ dan Para Sahabat di Madinah (no. 3932).
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan hijrah dan pertolongan Allah:
وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
QS. Al-Anfal [8]: 72
Terjemahan: "Dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu sebagiannya menjadi pelindung bagi sebagian yang lain."
Ayat ini menunjukkan pujian Allah kepada kaum Ansar yang menerima dan menolong Nabi ﷺ serta para Muhajirin.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
1. Kedatangan Nabi ﷺ dan Tinggal di Bani Amr bin Auf
Anas bin Malik menceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau turun di bagian atas Madinah, di perkampungan Bani Amr bin Auf (wilayah Quba). Beliau tinggal di sana selama 14 malam. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini menunjukkan Nabi ﷺ tidak langsung masuk ke pusat kota, tetapi singgah terlebih dahulu di Quba, yang kemudian menjadi tempat berdirinya Masjid Quba — masjid pertama yang dibangun dalam Islam.
2. Kedatangan Bani Najjar dan Turun di Rumah Abu Ayyub
Setelah 14 malam, Nabi ﷺ mengutus seseorang kepada pemuka Bani Najjar. Mereka datang dengan pedang terhunus sebagai tanda penghormatan dan kesiapan membela Nabi ﷺ. Anas menggambarkan: "Seolah-olah aku melihat Rasulullah ﷺ di atas untanya, Abu Bakar membonceng di belakangnya, dan para pemuka Bani Najjar mengelilinginya hingga beliau turun di halaman rumah Abu Ayyub."
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa turunnya Nabi ﷺ di rumah Abu Ayyub al-Anshari adalah bentuk penghormatan Allah kepada Abu Ayyub, dan menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak memaksakan diri untuk memilih tempat, tetapi membiarkan untanya yang berjalan hingga berhenti di tempat yang Allah kehendaki.
3. Shalat di Mana Saja dan di Kandang Domba
Anas berkata: "Nabi ﷺ biasa shalat di mana saja saat shalat tiba, dan beliau shalat di tempat penggembalaan domba." Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan bolehnya shalat di tempat yang suci secara umum, dan bahwa Nabi ﷺ belum memiliki masjid tetap pada saat itu. Ini juga menunjukkan kesederhanaan dan keluwesan syariat Islam.
4. Pembangunan Masjid Nabawi dan Keikhlasan Bani Najjar
Nabi ﷺ kemudian memerintahkan pembangunan masjid. Beliau mengutus kepada pemuka Bani Najjar dan menawarkan untuk membeli kebun mereka. Mereka menjawab: "Tidak! Demi Allah, kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allah."
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ini adalah contoh puncak keikhlasan dan kedermawanan kaum Ansar. Mereka tidak menjual tanah untuk dunia, tetapi mengharap pahala dari Allah. Ini sejalan dengan firman Allah:
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
QS. Al-Insan [76]: 9
Terjemahan: "Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu hanya karena mengharap wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih."
5. Isi Kebun dan Perintah Nabi ﷺ
Di kebun itu terdapat tiga hal: kuburan orang musyrik, tanah yang tidak rata (berlubang), dan pohon kurma. Nabi ﷺ memerintahkan agar kuburan digali (dibongkar), tanah diratakan, dan pohon kurma dipotong. Batang-batang pohon diatur sebagai dinding menghadap kiblat, dan batu-batu digunakan untuk pintu masjid.
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa membongkar kuburan musyrik diperbolehkan karena mereka bukan ahli kubur yang harus dihormati, dan tanah itu akan digunakan untuk masjid. Ini juga menunjukkan bahwa masjid harus dibangun di atas tanah yang suci dan bersih.
6. Syair Para Sahabat
Para sahabat mengangkat batu sambil bersyair:
اللَّهُمَّ إِنَّهُ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُ الآخِرَهْ فَانْصُرِ الأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَهْ
"Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka berikanlah kemenangan kepada Ansar dan Muhajirin."
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini menunjukkan semangat para sahabat dalam bekerja, dan bahwa mereka menyadari bahwa kebaikan sejati adalah kebaikan akhirat. Syair ini juga merupakan doa untuk kemenangan Islam.
Story Telling
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, yang saat itu masih muda dan menjadi pelayan Nabi ﷺ, menceritakan kisah ini dengan penuh kenangan. Ia mengatakan: "Seolah-olah aku melihat Rasulullah ﷺ di atas untanya, Abu Bakar membonceng di belakangnya, dan para pemuka Bani Najjar mengelilinginya."
Bayangkan suasana Madinah saat itu. Kaum Ansar — penduduk asli Madinah — menyambut Nabi ﷺ dan para Muhajirin dengan penuh cinta. Mereka tidak hanya memberikan tempat tinggal, tetapi juga menyerahkan tanah kebun terbaik mereka untuk dibangun masjid, tanpa meminta bayaran. Mereka berkata: "Kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allah."
Ini adalah pelajaran tentang keikhlasan. Bani Najjar bisa saja meminta harga tinggi, tetapi mereka memilih untuk mengharap pahala Allah. Mereka tahu bahwa apa yang mereka berikan untuk agama Allah akan diganti dengan yang lebih baik di akhirat.
Kesimpulan Praktis
- Ikhlas dalam beramal: Bani Najjar menyerahkan tanahnya hanya untuk Allah. Kita pun hendaknya beramal tanpa mengharap pujian manusia.
- Kedermawanan untuk agama: Kaum Ansar memberikan harta dan tempat tinggal untuk perjuangan Islam. Ini contoh bagi kita untuk mendukung dakwah dan pendidikan agama.
- Kesederhanaan Nabi ﷺ: Beliau shalat di kandang domba dan membangun masjid dengan sederhana. Kita hendaknya tidak berlebihan dalam urusan dunia.
- Kerja sama dalam kebaikan: Para sahabat bergotong royong membangun masjid sambil bersyair. Ini menunjukkan pentingnya kebersamaan dalam amal saleh.
- Doa dan semangat akhirat: Syair para sahabat mengingatkan bahwa kebaikan sejati adalah kebaikan akhirat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.