Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan pengorbanan Asma` binti Abu Bakr radhiyallahu 'anha ketika mempersiapkan bekal perjalanan hijrah Nabi ﷺ dan ayahnya, Abu Bakr. Karena tidak memiliki tali pengikat, ia membelah ikat pinggangnya menjadi dua. Peristiwa ini menunjukkan keikhlasan, kecerdasan, dan kesabaran wanita salaf dalam mendukung dakwah. Dari sinilah ia mendapat julukan "Dzāt an-Niṭāqain" (pemilik dua ikat pinggang).
---
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari ayahnya (Urwah bin az-Zubair) dan dari Fatimah binti al-Mundzir, dari Asma` radhiyallahu 'anha, ia berkata:
> صَنَعْتُ سُفْرَةً لِلنَّبِيِّ ﷺ وَأَبِي بَكْرٍ حِينَ أَرَادَا الْمَدِينَةَ، فَقُلْتُ لأَبِي: مَا أَجِدُ شَيْئًا أَرْبُطُهُ إِلَّا نِطَاقِي. قَالَ: فَشُقِّيهِ. فَفَعَلْتُ، فَسُمِّيتُ ذَاتَ النِّطَاقَيْنِ.
Maknanya: "Aku membuat bekal perjalanan untuk Nabi ﷺ dan Abu Bakr ketika keduanya hendak menuju Madinah. Aku berkata kepada ayahku (Abu Bakr), 'Aku tidak mendapatkan sesuatu untuk mengikatnya kecuali ikat pinggangku.' Ia berkata, 'Belahlah menjadi dua.' Maka aku pun melakukannya, dan karena itulah aku dijuluki 'Dzāt an-Niṭāqain' (pemilik dua ikat pinggang)."
Komentar Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fath al-Bari, syarah Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa "nitaq" adalah ikat pinggang atau tali yang digunakan untuk mengikat pakaian di pinggang. Beliau menukil keterangan Ibnu at-Tin bahwa Asma` membelah kain ikat pinggangnya menjadi dua bagian; satu untuk mengikat wadah air, satu lagi untuk mengikat wadah makanan. Tindakan ini menunjukkan sikap tawakkal dan ikhlash dalam membantu urusan dakwah.
- Imam an-Nawawi (dalam Tahdzib al-Asma` wa al-Lughat) menyebutkan bahwa julukan ini menjadi kemuliaan bagi Asma` di dunia dan akhirat.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar juga meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah bahwa Asma` merasa bangga dengan julukan itu, karena berkaitan langsung dengan pelayanan kepada Nabi ﷺ dan Abu Bakr dalam peristiwa hijrah yang agung.
---
Penjelasan Rinci
1. Konteks Hijrah dan Peran Wanita
Ketika Rasulullah ﷺ dan Abu Bakr radhiyallahu 'anhu memutuskan untuk hijrah, mereka mempersiapkan segala sesuatunya dengan penuh kerahasiaan. Asma` yang saat itu masih muda (belum genap 10 tahun dari sebagian riwayat) dengan cekatan menyiapkan bekal (sufrah) untuk kedua orang mulia itu. Dalam kondisi terbatas, ia tidak memiliki tali atau kain untuk mengikat bekal tersebut. Lalu ia bertanya kepada ayahnya, dan Abu Bakr memberikan solusi sederhana: belahlah sabuk pinggangmu menjadi dua.
2. Makna "Nitaq" dan Pelajaran dari Pembelahan
"An-Nitaq" secara bahasa berarti ikat pinggang atau kain yang diikatkan di pinggang. Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Asma` memiliki kain selempang atau selendang yang digunakan untuk mengikat pinggangnya. Dengan membelahnya, ia rela kehilangan satu fungsi pakaiannya demi keperluan yang lebih besar. Imam Ibnul Jauzi (dalam Kasyf al-Masykil) menekankan bahwa tindakan ini menunjukkan tanaqush adh-dhat (merendahkan diri) di jalan Allah, sebagaimana para sahabat tidak segan menggunakan barang pribadi untuk membantu dakwah.
3. Julukan "Dzāt an-Niṭāqain" sebagai Kehormatan
Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A'lamin Nubala` menyebutkan bahwa Asma` adalah salah satu wanita yang paling cerdas dan dermawan. Julukan ini diabadikan oleh sejarah, menunjukkan bahwa pengorbanan kecil atas nama Allah akan diangkat menjadi kemuliaan yang abadi. Al-Hasan al-Bashri biasa menyebutkan kisah ini sebagai teladan bagi kaum mukminin, bahwa Allah mengganti apa yang diniatkan karena-Nya dengan pahala yang berlipat.
---
Story Telling
Kisah Asma` dan Kecerdasannya Saat Hijrah
Suatu malam, ketika kegelapan mulai menyelimuti Makkah, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakr keluar dari rumah menuju Gua Tsur. Sebelum itu, Asma` telah menyiapkan kantong kulit berisi kurma dan tepung. Ia tidak memiliki tali untuk mengikat kedua kantong tersebut. Dengan sigap ia membelah ikat pinggangnya—yang merupakan satu-satunya aksesoris penahan pakaiannya—menjadi dua bagian. Seutas ia gunakan untuk mengikat kantong air, dan seutas lagi untuk mengikat kantong makanan. Rasulullah ﷺ dan Abu Bakr pun berangkat, dan Asma` tetap teguh menjaga rahasia serta terus mengirimkan berita kepada mereka di gua melalui Abdullah bin Zubair yang masih kecil.
Ketika Abu Bakr kembali setelah hijrah, ia tersenyum mendengar julukan yang disematkan orang kepada putrinya. Urwah bin az-Zubair—keponakan Asma` yang meriwayatkan hadits ini—berkata, "Julukan itu tidak akan hilang dari Asma` hingga hari Kiamat, sebagai tanda cinta dan pengorbanannya."
---
Kesimpulan Praktis
- Gemar berkorban untuk agama – Seperti Asma`, kita diajarkan untuk rela mengorbankan barang pribadi demi membantu dakwah, sekecil apa pun bentuknya.
- Cerdas dalam mencari solusi – Dalam kondisi terbatas, tetaplah kreatif dan tidak mengeluh. Belajar dari Asma` yang membelah ikat pinggangnya.
- Menjaga rahasia dan amanah – Asma` merahasiakan rencana hijrah, padahal ia masih remaja. Ini pelajaran penting bagi kita dalam menjaga kepercayaan.
- Penghargaan terhadap peran perempuan – Islam memuliakan perempuan yang berperan aktif dalam kebaikan, bukan hanya di rumah, tetapi juga di medan dakwah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.