Penjelasan Hadits Bukhari No. 3903 tentang Hijrah Nabi dan lama tinggal di Mekah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu riwayat shahih yang menjelaskan dua fakta penting dalam sirah (perjalanan hidup) Nabi ﷺ: pertama, lama beliau berdakwah di Mekah setelah menerima wahyu adalah tiga belas tahun; kedua, usia beliau saat wafat adalah enam puluh tiga tahun. Ini adalah informasi dasar yang disepakati oleh para ulama dan menjadi fondasi untuk memahami fase-fase dakwah Rasulullah ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Ansar, Bab Hijrah Nabi ﷺ dan Para Sahabat ke Madinah, nomor 3903. Perawinya adalah sahabat mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Dalil lain yang menguatkan dari Al-Qur'an, Allah ﷻ berfirman tentang fase dakwah yang penuh kesabaran:

> وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا ۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِن نَّبَإِ الْمُرْسَلِينَ

> "Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) kaum mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada seorang pun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepada kamu sebagian dari berita rasul-rasul itu." (QS. Al-An'am [6]: 34)

Ayat ini menggambarkan bahwa kesabaran para nabi dalam menghadapi kaumnya adalah sunnatullah, dan Nabi ﷺ adalah teladan terbesar dalam kesabaran tersebut selama tiga belas tahun di Mekah.

Kaitan dengan ulama: Riwayat ini juga disebutkan oleh para ulama pakar sirah dan hadits. Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam An-Nubala menegaskan kesepakatan (ijma') ulama bahwa masa kenabian beliau di Mekah adalah tiga belas tahun dan usia wafat beliau adalah enam puluh tiga tahun.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung faedah ilmiah yang sangat penting:

  1. Penetapan Lama Dakwah di Mekah: Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengabarkan bahwa setelah beliau ﷺ menerima wahyu pertama di Gua Hira, beliau tinggal dan berdakwah di Mekah selama tiga belas tahun. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa masa ini terbagi menjadi dua fase: fase sirr (sembunyi-sembunyi) selama tiga tahun, kemudian fase jahr (terang-terangan) selama sepuluh tahun. Ini menunjukkan betapa panjang dan beratnya ujian dakwah di Mekah, penuh dengan penolakan, ejekan, dan penyiksaan, namun beliau ﷺ tetap sabar dan istiqamah.
  2. Penetapan Usia Wafat: Hadits ini juga menetapkan bahwa Rasulullah ﷺ wafat pada usia enam puluh tiga tahun. Ini adalah pendapat yang masyhur dan dipegang oleh jumhur (mayoritas) ulama. Imam Al-Bukhari sendiri meriwayatkan beberapa hadits yang menguatkan angka ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Shahih Al-Bukhari menjelaskan bahwa penetapan usia ini penting untuk memahami urutan peristiwa sejarah dan juga untuk membantah riwayat-riwayat lemah yang menyebutkan usia lain.
  3. Hikmah di Balik Angka Ini: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya seringkali mengaitkan peristiwa sejarah dengan pelajaran. Dari hadits ini, kita belajar bahwa perjuangan menegakkan kebenaran membutuhkan kesabaran yang panjang. Tiga belas tahun adalah waktu yang sangat lama untuk berdakwah di tengah penolakan, namun hasilnya adalah terbentuknya generasi sahabat yang tangguh dan siap membangun peradaban Islam di Madinah. Ini mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa dalam melihat hasil dakwah atau kebaikan yang kita lakukan.

Story Telling

Ada satu kisah yang sangat menggambarkan kondisi dakwah di akhir periode Mekah, yaitu kisah Thaif. Ketika dakwah di Mekah semakin berat dan beliau kehilangan dua orang pelindung utamanya, yaitu paman beliau Abu Thalib dan istrinya Khadijah radhiyallahu 'anha, beliau pergi ke Thaif untuk mencari dukungan. Namun, penduduk Thaif menolak dengan sangat kasar. Mereka mengusir beliau dan menyuruh anak-anak serta budak-budak mereka untuk melempar beliau dengan batu hingga kedua tumit beliau berdarah.

Di saat yang paling sulit itu, beliau ﷺ berdoa dengan doa yang sangat terkenal, yang menunjukkan keteguhan dan kepasrahan seorang hamba kepada Rabb-nya. Beliau tidak berdoa untuk kebinasaan mereka, tetapi justru berdoa:

> "Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, sedikitnya dayaku, dan hinanya diriku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Penyayang, Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Rabbku. Kepada siapakah Engkau akan menyerahkan diriku? Kepada orang asing yang akan menyambutku dengan kasar, atau kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Jika Engkau tidak sedang murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Sungguh, afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan menjadi baik dengannya urusan dunia dan akhirat, dari murka-Mu turun kepadaku, atau kebencian-Mu menimpaku. Milik-Mulah segala urusan sampai Engkau ridha. Tiada daya dan upaya kecuali dengan-Mu."

Kisah ini menunjukkan bahwa tiga belas tahun dakwah di Mekah adalah masa pembentukan jiwa yang luar biasa. Kesabaran beliau ﷺ bukanlah kesabaran yang pasif, tetapi kesabaran yang aktif, penuh doa, dan tawakal kepada Allah. Dari sini, kita belajar bahwa ujian terberat pun akan berbuah pertolongan jika kita tetap berpegang teguh kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah pada kebenaran sejarah: Hadits ini mengajarkan kita untuk meyakini bahwa dakwah Nabi ﷺ di Mekah berlangsung selama tiga belas tahun dan beliau wafat pada usia enam puluh tiga tahun. Ini adalah bagian dari iman kepada berita-berita shahih.
  2. Teladani kesabaran: Panjangnya masa dakwah di Mekah mengajarkan kita untuk bersabar dalam berdakwah, mendidik anak, atau memperbaiki diri. Jangan mudah putus asa jika hasil belum terlihat.
  3. Istiqamah dalam kebenaran: Meskipun menghadapi penolakan, Nabi ﷺ tetap istiqamah. Kita pun harus tetap teguh di atas Al-Qur'an dan Sunnah meskipun lingkungan sekitar tidak mendukung.
  4. Perbanyak doa dan tawakal: Sebagaimana Nabi ﷺ berdoa di saat tersulit, kita pun harus senantiasa bersandar kepada Allah dalam setiap urusan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?