Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan doa Sa'd bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu — seorang pemuka Anshar — yang memohon kepada Allah agar diberi kesempatan berjihad melawan kaum Quraisy yang telah mendustakan dan mengusir Nabi ﷺ. Doa ini menunjukkan kecintaan mendalam seorang mukmin kepada Rasulullah ﷺ dan kesetiaannya membela agama Allah. Hadits ini juga menjadi dalil tentang keutamaan Anshar dan keutamaan berjihad di jalan Allah ketika ada sebab yang syar'i.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. At-Taubah [9]: 13
وَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Terjemahan: "Sungguh, Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan Perang Badar, sedang kamu ketika itu orang-orang yang lemah (jumlahnya sedikit). Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya."
(Catatan: Ayat di atas adalah QS. Ali 'Imran [3]: 123. Adapun QS. At-Taubah [9]: 13 berbunyi:)
أَلَا تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُم بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ أَتَخْشَوْنَهُمْ ۚ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَوْهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Terjemahan: "Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang melanggar sumpah (janjinya) dan telah bertekad mengusir Rasul, padahal merekalah yang pertama kali memerangi kamu? Apakah kamu takut kepada mereka? Maka Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang beriman."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Anshar, Bab Hijrah Nabi ﷺ dan Para Sahabatnya ke Madinah (no. 3901), dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Perawi jalur: Zakariyya bin Yahya ← Ibnu Numair ← Hisyam ← ayahnya (Urwah bin Az-Zubair) ← 'Aisyah.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan doa Sa'd bin Mu'adz yang penuh keikhlasan dan kecintaan kepada Nabi ﷺ.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa doa Sa'd ini adalah bentuk tawassul dengan amal saleh dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
- Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan konteks doa Sa'd ini terjadi pada Perang Khandaq (Ahzab).
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Sa'd bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu adalah pemuka suku Aus di Madinah dan salah satu tokoh Anshar yang paling mulia. Dalam doanya, beliau menyatakan:
- "Ya Allah, Engkau tahu bahwa tidak ada yang lebih aku cintai untuk aku perangi di jalan-Mu..." — Ini menunjukkan bahwa jihad beliau bukan karena kebencian pribadi atau ambisi dunia, melainkan murni karena Allah dan membela Rasul-Nya.
- "...daripada orang-orang yang telah mendustakan Rasul-Mu dan mengusirnya dari kotanya." — Yang dimaksud adalah kaum Quraisy Makkah yang telah mendustakan dakwah Nabi ﷺ, menyiksa para sahabat, dan akhirnya memaksa Nabi ﷺ berhijrah.
- "Ya Allah, aku rasa Engkau telah mengakhiri peperangan antara kami dan mereka." — Ini adalah doa Sa'd dalam Perang Khandaq. Beliau memohon kepada Allah agar jika perang masih berlanjut, beliau diberi kesempatan untuk terus berjihad melawan mereka. Namun jika Allah telah mengakhiri peperangan, beliau ridha dengan ketentuan Allah.
Pemahaman ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan:
- Keutamaan Sa'd bin Mu'adz dan kecintaannya kepada Nabi ﷺ.
- Bolehnya berdoa memohon syahid atau berjihad di jalan Allah.
- Bahwa doa Sa'd ini dikabulkan Allah — beliau wafat sebagai syahid dalam Perang Khandaq akibat luka panah yang mengenainya.
- Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menceritakan bahwa Sa'd bin Mu'adz terkena panah di bagian lengan saat Perang Khandaq. Beliau berdoa: "Ya Allah, jika masih ada peperangan antara kami dan Quraisy, maka panjangkanlah umurku agar aku dapat berjihad melawan mereka. Namun jika Engkau telah mengakhiri peperangan, maka cabutlah nyawaku sebagai syahid." Allah mengabulkan doanya — beliau wafat tidak lama setelah Perang Khandaq, dan Nabi ﷺ bersabda bahwa Arsy Allah bergetar karena kematiannya.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa doa Sa'd ini adalah contoh doa yang menggabungkan antara tawakkal (berserah diri) dan ijtihad (berusaha maksimal). Beliau tidak memaksa kehendaknya, tetapi menyerahkan segala urusan kepada Allah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Anshar secara umum, dan keutamaan Sa'd bin Mu'adz secara khusus. Beliau juga menjelaskan bahwa doa ini mengandung adab dalam berdoa: memuji Allah, mengakui kelemahan diri, dan menyerahkan hasil kepada Allah.
Perbedaan pendapat:
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang makna hadits ini. Semua sepakat bahwa ini adalah doa Sa'd bin Mu'adz yang menunjukkan kecintaan kepada Nabi ﷺ dan semangat jihad fi sabilillah.
Story Telling
Kisah Sa'd bin Mu'adz dan Perang Khandaq:
Pada tahun 5 H, kaum Quraisy bersama sekutu-sekutunya (Ahzab) mengepung Madinah dengan pasukan besar. Kaum Muslimin menggali parit (khandaq) sebagai benteng pertahanan. Dalam perang ini, Sa'd bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu terkena panah yang dilepaskan oleh seorang musuh. Panah itu mengenai urat nadinya.
Nabi ﷺ memerintahkan agar Sa'd dirawat di tenda khusus di dalam masjid agar beliau dapat menjenguknya. Sa'd berdoa kepada Allah dengan doa yang diriwayatkan dalam hadits ini. Beliau berkata: "Ya Allah, Engkau tahu bahwa tidak ada yang lebih aku cintai untuk aku perangi di jalan-Mu daripada orang-orang yang telah mendustakan Rasul-Mu dan mengusirnya. Ya Allah, aku rasa Engkau telah mengakhiri peperangan antara kami dan mereka."
Tidak lama setelah Perang Khandaq berakhir dan kaum Muslimin meraih kemenangan, Sa'd bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu wafat sebagai syahid. Nabi ﷺ bersabda: "Arsy Allah bergetar karena kematian Sa'd bin Mu'adz." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hikmah:
- Kecintaan kepada Nabi ﷺ adalah tanda keimanan yang sempurna.
- Jihad fi sabilillah adalah amal yang sangat mulia ketika dilakukan dengan ikhlas.
- Doa seorang mukmin yang ikhlas akan dikabulkan Allah, meskipun kadang dalam bentuk yang berbeda dari apa yang ia bayangkan.
- Anshar adalah generasi terbaik yang membela Nabi ﷺ dengan jiwa dan harta mereka.
Kesimpulan Praktis
- Cintailah Nabi ﷺ melebihi cinta kepada diri sendiri, keluarga, dan harta. Sebagaimana Sa'd bin Mu'adz, kecintaan kepada Nabi ﷺ harus dibuktikan dengan pembelaan terhadap sunnah dan agama Allah.
- Berdoalah dengan penuh keikhlasan dan adab. Sa'd bin Mu'adz mencontohkan doa yang menggabungkan antara memohon kepada Allah dan menyerahkan hasilnya kepada ketentuan-Nya.
- Jihad fi sabilillah adalah amal yang mulia, namun harus dilakukan dengan ilmu, ikhlas, dan sesuai tuntunan Nabi ﷺ — bukan berdasarkan emosi atau kebencian pribadi.
- Kenanglah jasa para Anshar dan salafus shalih. Mereka adalah generasi yang Allah ridhai, dan kita harus mengambil pelajaran dari kesetiaan dan pengorbanan mereka.
- Bersabarlah dalam menghadapi ujian. Sa'd bin Mu'adz terluka parah, namun beliau tetap bersemangat berjihad dan ridha dengan ketentuan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.