Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 3891 tentang Bai'at Aqabah oleh Jabir dan keluarganya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah riwayat dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu yang menyatakan bahwa beliau, ayahnya (Abdullah bin Amr bin Haram), dan pamannya termasuk di antara para peserta Bai'at Aqabah. Bai'at Aqabah adalah perjanjian setia antara Nabi ﷺ dengan sekelompok penduduk Madinah (Yatsrib) sebelum hijrah, yang menjadi tonggak awal terbentuknya masyarakat Islam di Madinah. Hadits ini menunjukkan keutamaan para sahabat yang hadir dalam bai'at tersebut, serta kepedulian Jabir untuk menegaskan kedudukan ayahnya yang gugur di Perang Uhud sebagai salah satu peserta bai'at yang mulia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Para Ansar, Bab Kedatangan Para Ansar kepada Nabi ﷺ di Mekkah dan Bai'at Aqabah, no. 3891.

Teks Arab hadits:

حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى، أَخْبَرَنَا هِشَامٌ، أَنَّ ابْنَ جُرَيْجٍ، أَخْبَرَهُمْ قَالَ عَطَاءٌ قَالَ جَابِرٌ أَنَا وَأَبِي، وَخَالِي، مِنْ أَصْحَابِ الْعَقَبَةِ.

Terjemahan: "Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Musa, telah mengabarkan kepada kami Hisyam, bahwa Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada mereka, bahwa 'Atha berkata: Jabir berkata: 'Aku, ayahku, dan pamanku termasuk di antara para peserta Bai'at Aqabah.'"

Kaitan dengan ulama dalam daftar:

  • Imam Al-Bukhari (w. 256 H) memuat hadits ini dalam Al-Jami' ash-Shahih sebagai bukti keutamaan para peserta Bai'at Aqabah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "pamanku" dalam riwayat ini adalah saudara ibu Jabir, yaitu Zaid bin Amr bin Haram atau Ya'la bin Amr (ada perbedaan riwayat). Beliau juga menegaskan bahwa ayah Jabir, Abdullah bin Amr bin Haram, adalah salah satu dari dua belas naqib (pemimpin) yang dipilih pada Bai'at Aqabah kedua.
  • Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim juga menyebutkan keutamaan para peserta Bai'at Aqabah, dan bahwa mereka termasuk golongan yang disebut dalam firman Allah tentang orang-orang yang menolong agama-Nya.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taubah [9]: 100)

Para ulama dari kalangan Mujahid dan Qatadah (sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya) menjelaskan bahwa ayat ini mencakup para sahabat Ansar yang beriman dan berhijrah membantu Nabi ﷺ, termasuk para peserta Bai'at Aqabah yang menjadi cikal bakal kaum Ansar.

Penjelasan Rinci

1. Latar Belakang Bai'at Aqabah

Bai'at Aqabah terjadi dalam dua tahap:

  • Bai'at Aqabah Pertama (tahun 12 kenabian): Melibatkan 12 orang dari Yatsrib yang berjanji untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak, dan tidak berdusta. Ini disebut juga Bai'at Wanita karena tidak ada kewajiban berperang di dalamnya.
  • Bai'at Aqabah Kedua (tahun 13 kenabian): Melibatkan 73 laki-laki dan 2 perempuan dari Yatsrib. Mereka berjanji untuk melindungi Nabi ﷺ sebagaimana melindungi keluarga mereka sendiri, termasuk siap berperang. Dari bai'at ini, Nabi ﷺ memilih 12 naqib (pemimpin) dari kalangan mereka.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa ayah Jabir, Abdullah bin Amr bin Haram, adalah salah satu dari 12 naqib tersebut. Adapun paman Jabir yang dimaksud, beliau menukil dari riwayat lain bahwa namanya adalah Zaid bin Amr bin Haram (saudara kandung ayah Jabir) atau Ya'la bin Umayyah (paman dari jalur ibu). Namun yang lebih kuat menurut Ibnu Hajar adalah Zaid bin Amr, karena ia termasuk peserta Bai'at Aqabah.

2. Keutamaan Para Peserta Bai'at Aqabah

Para ulama dari kalangan Salaf seperti Al-Hasan al-Bashri dan Sa'id bin al-Musayyib (sebagaimana dinukil dalam kitab-kitab sirah) menyebutkan bahwa para peserta Bai'at Aqabah memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Mereka adalah orang-orang yang pertama kali membuka jalan bagi hijrah Nabi ﷺ dan menjadi penolong agama Allah di Madinah.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah menyebutkan bahwa Bai'at Aqabah adalah salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Islam, karena dari sinilah lahir generasi Ansar yang dipuji Allah dalam banyak ayat, seperti QS. Al-Hasyr [59]: 9 tentang orang-orang yang menempati kota Madinah dan beriman sebelum kedatangan Muhajirin.

3. Hikmah Pernyataan Jabir

Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu dengan tegas menyatakan bahwa ayahnya termasuk peserta Bai'at Aqabah. Ini penting karena ayahnya, Abdullah bin Amr bin Haram, gugur dalam Perang Uhud dalam keadaan syahid. Dengan menyebutkan hal ini, Jabir ingin menegaskan bahwa ayahnya termasuk orang-orang yang memiliki keutamaan besar di sisi Allah, bukan sekadar orang yang ikut berperang.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa menyebut kebaikan orang tua yang telah wafat adalah bagian dari berbakti kepada keduanya, selama hal itu benar dan tidak berlebihan. Ini juga menunjukkan kecintaan Jabir kepada ayahnya dan kebanggaannya terhadap amal saleh ayahnya.

4. Pelajaran dari Sanad Hadits

Sanad hadits ini melalui 'Atha bin Abi Rabah (w. 114 H), seorang tabi'in besar dan mufti Mekkah pada zamannya. Beliau adalah murid dari banyak sahabat, termasuk Ibnu Abbas dan Jabir. Ibnu Hajar dalam Tahdzib at-Tahdzib menyebutkan bahwa 'Atha adalah seorang yang tsiqah (terpercaya), faqih, dan banyak meriwayatkan hadits. Ini menunjukkan bahwa hadits ini memiliki sanad yang kuat dan dapat diterima.

Story Telling

Dikisahkan bahwa ketika Perang Uhud terjadi, Abdullah bin Amr bin Haram (ayah Jabir) ikut serta dalam barisan kaum muslimin. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada keluarganya, "Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku akan mati syahid." Ia pun keluar dengan penuh semangat, dan benar saja, ia gugur di medan Uhud dalam keadaan syahid.

Setelah perang usai, Jabir bin Abdillah mencari ayahnya di antara para syuhada. Ia menemukan jasad ayahnya telah dimutilasi oleh kaum musyrikin. Jabir pun menangis dan berusaha mengangkat jasad ayahnya, tetapi para sahabat lain melarangnya karena jenazah tersebut telah banyak berubah. Maka Rasulullah ﷺ pun memerintahkan agar Abdullah bin Amr dikuburkan di tempatnya gugur.

Dalam riwayat lain, Jabir menceritakan bahwa ayahnya termasuk salah satu dari 12 naqib yang dipilih Nabi ﷺ pada Bai'at Aqabah. Ini menunjukkan bahwa ayahnya bukan hanya seorang pejuang biasa, tetapi juga tokoh penting yang berjasa dalam menegakkan Islam di Madinah. (Kisah ini disebutkan secara global dalam kitab-kitab sirah seperti Sirah Ibnu Hisyam dan Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir).

Hikmah: Kematian syahid adalah kemuliaan, tetapi kemuliaan yang lebih besar adalah ketika seseorang telah berjuang untuk Islam sejak awal, seperti para peserta Bai'at Aqabah. Mereka adalah orang-orang yang menanam benih kebaikan, lalu generasi setelahnya menuai hasilnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Meneladani semangat para Ansar dalam menolong agama Allah, baik dengan harta, jiwa, maupun tenaga.
  2. Berbangga dengan amal saleh orang tua yang telah wafat adalah hal yang baik, selama disertai kejujuran dan tidak berlebihan.
  3. Menjaga sejarah Islam dengan mempelajari sirah Nabi ﷺ dan para sahabat, agar kecintaan kita kepada mereka semakin bertambah.
  4. Bersungguh-sungguh dalam berjuang di jalan Allah sesuai kemampuan kita masing-masing, karena setiap orang memiliki ladang amal yang berbeda.
  5. Mendoakan para sahabat dan memohonkan ampunan untuk mereka, sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam QS. Al-Hasyr [59]: 10.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.