Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 3890 tentang Bai'at Aqabah dan kehadiran para sahabat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu bukti keutamaan para sahabat Anshar, khususnya mereka yang menghadiri Bai'at Al-'Aqabah. Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma mengabarkan bahwa dua pamannya ikut hadir dalam peristiwa bersejarah tersebut. Ini menunjukkan bahwa Bai'at Al-'Aqabah adalah peristiwa agung yang menjadi fondasi berdirinya Daulah Islam di Madinah, dan para peserta bai'at ini memiliki kedudukan mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Anshar, Bab Kedatangan Para Anshar kepada Nabi ﷺ di Makkah dan Bai'at Al-'Aqabah, no. 3890.

Teks Hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ كَانَ عَمْرٌو يَقُولُ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنهما ـ يَقُولُ: شَهِدَ بِي خَالاَىَ الْعَقَبَةَ. قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ: أَحَدُهُمَا الْبَرَاءُ بْنُ مَعْرُورٍ.

Terjemahan:

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, ia berkata: "Amr berkata: Aku mendengar Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma berkata: 'Dua pamanku ikut hadir dalam Bai'at Al-'Aqabah.'" Abu Abdillah (Al-Bukhari) berkata: "Ibnu 'Uyainah berkata: 'Salah satu dari keduanya adalah Al-Bara' bin Ma'rur.'"

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak kamu lihat. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ahzab [33]: 9)

Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu mengingat nikmat Allah dalam perjuangan, sebagaimana para Anshar mengingat keutamaan mereka dalam Bai'at Al-'Aqabah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa Bai'at Al-'Aqabah terjadi dalam dua tahap:

  1. Bai'at Al-'Aqabah Pertama (tahun 12 kenabian): Terjadi dengan 12 orang dari Yatsrib (Madinah). Mereka berbai'at untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak, dan tidak berdusta. Ini dikenal dengan Bai'atun Nisa' atau bai'at seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an (QS. Al-Mumtahanah [60]: 12).
  2. Bai'at Al-'Aqabah Kedua (tahun 13 kenabian): Terjadi dengan 73 laki-laki dan 2 wanita dari Yatsrib. Mereka berbai'at untuk melindungi Nabi ﷺ sebagaimana mereka melindungi keluarga mereka sendiri. Inilah yang dikenal dengan Bai'atul Harb (bai'at perang).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan Nihayah menjelaskan bahwa Bai'at Al-'Aqabah adalah tonggak sejarah yang sangat penting. Melalui bai'at inilah Allah mempersiapkan negeri Madinah sebagai tempat hijrah dan pusat dakwah Islam. Para peserta bai'at ini adalah orang-orang pilihan yang Allah kehendaki menjadi penolong agama-Nya.

Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Jabir bin Abdillah karena ia menyebutkan bahwa kedua pamannya termasuk peserta Bai'at Al-'Aqabah. Ini adalah bentuk kebanggaan yang terpuji terhadap kebaikan dan keutamaan para pendahulu yang mulia.

Adapun Al-Bara' bin Ma'rur radhiyallahu 'anhu, beliau adalah salah satu pembesar Anshar dari Bani Salamah. Beliau termasuk orang yang pertama kali berbai'at dan memiliki semangat yang tinggi dalam membela Islam. Diriwayatkan bahwa beliau berwasiat agar sepertiga hartanya disedekahkan, dan Nabi ﷺ membenarkan wasiat tersebut.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa menyebutkan keutamaan para sahabat dan berbangga dengan mereka adalah perkara yang baik, selama tidak disertai kesombongan. Ini karena para sahabat adalah generasi terbaik umat ini, dan Allah telah meridhai mereka.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memuji para sahabat yang berbai'at kepada Rasulullah ﷺ, sebagaimana firman-Nya:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

"Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon." (QS. Al-Fath [48]: 18)

Ini menunjukkan bahwa bai'at kepada Rasulullah ﷺ adalah perbuatan yang dicintai Allah dan menjadi sebab keridhaan-Nya.

Story Telling

Dikisahkan bahwa ketika rombongan Anshar pertama kali datang kepada Nabi ﷺ di Makkah, mereka mendengar dakwah beliau dan langsung tersentuh hatinya. Salah seorang dari mereka, yaitu Al-Bara' bin Ma'rur radhiyallahu 'anhu, memiliki semangat yang luar biasa. Ketika ia kembali ke Madinah, ia bertekad untuk menghadap Ka'bah dalam shalatnya, padahal saat itu kiblat masih ke Baitul Maqdis. Ia melakukan itu karena ia yakin bahwa Ka'bah adalah kiblat Nabi Ibrahim 'alaihissalam.

Ketika hal ini disampaikan kepada Nabi ﷺ, beliau tidak menyalahkannya secara keras, dan Allah kemudian menurunkan wahyu untuk memindahkan kiblat ke Ka'bah. Ini menunjukkan bahwa semangat Al-Bara' bin Ma'rur dalam mencari kebenaran adalah semangat yang terpuji, dan Allah mengabulkan keinginannya melalui syariat yang diturunkan kepada Nabi-Nya.

Al-Bara' bin Ma'rur juga dikenal dengan kedermawanannya. Ia berwasiat sepertiga hartanya untuk disedekahkan, dan Nabi ﷺ membenarkan wasiat tersebut. Ini menunjukkan bahwa para sahabat Anshar memiliki jiwa pengorbanan yang tinggi, baik dengan harta maupun jiwa mereka untuk membela agama Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Meneladani semangat para Anshar dalam membela agama Allah dengan harta dan jiwa mereka.
  2. Berbangga dengan kebaikan para pendahulu adalah hal yang terpuji, selama tidak disertai kesombongan dan merendahkan orang lain.
  3. Bai'at dan janji setia kepada pemimpin dalam kebaikan adalah bagian dari ajaran Islam yang agung.
  4. Mengingat sejarah perjuangan para sahabat akan menumbuhkan kecintaan kepada mereka dan kepada Nabi ﷺ.
  5. Bersungguh-sungguh dalam mencari kebenaran, sebagaimana Al-Bara' bin Ma'rur yang bersemangat mencari kiblat yang benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.