Penjelasan Hadits Bukhari No. 3886 tentang Penggambaran Baitul Maqdis saat Isra

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa ketika kaum Quraisy mendustakan peristiwa Isra' Mi'raj, Nabi ﷺ diberi pertolongan oleh Allah dengan diperlihatkan Baitul Maqdis secara langsung di hadapan beliau, sehingga beliau dapat menggambarkan ciri-cirinya kepada mereka dengan sangat tepat. Ini adalah bukti kebenaran kenabian dan tanda kekuasaan Allah yang meneguhkan hati Nabi ﷺ serta menjadi hujjah bagi orang-orang yang menentang.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Isra' [17]: 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Manaqib Al-Anshar, Bab Hadits Isra, dari sahabat Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu 'anhuma. Sanadnya: Yahya bin Bukair → Al-Laits → 'Uqail → Ibnu Syihab (Az-Zuhri) → Abu Salamah bin 'Abdurrahman → Jabir bin 'Abdullah.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan mukjizat Nabi ﷺ berupa diperlihatkannya Baitul Maqdis secara langsung, bukan sekadar dalam mimpi.
  • Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan tafsirnya menegaskan bahwa peristiwa Isra' Mi'raj terjadi dengan jasad dan ruh Nabi ﷺ dalam keadaan sadar.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil kuat bahwa Isra' terjadi dengan tubuh dan ruh sekaligus.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari (karyanya) menekankan hikmah pertolongan Allah kepada Nabi-Nya saat didustakan.

Penjelasan Rinci

Konteks hadits:

Peristiwa ini terjadi setelah Nabi ﷺ kembali dari Isra' Mi'raj. Ketika beliau menceritakan pengalaman tersebut kepada kaum Quraisy, mereka menolak dan mendustakannya, bahkan meminta bukti berupa deskripsi Baitul Maqdis. Saat itu, Nabi ﷺ belum pernah melihat Baitul Maqdis secara fisik sebelumnya. Maka Allah memperlihatkan Baitul Maqdis di hadapan beliau saat beliau berdiri di Al-Hijr (dekat Ka'bah), sehingga beliau dapat menggambarkan setiap detailnya dengan akurat.

Pemahaman ulama:

  1. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa kata "فَجَلَّى اللَّهُ لِي" (fa jallā Allāhu lī) berarti Allah menampakkan dan memperjelas. Ini menunjukkan bahwa penampakan tersebut adalah mukjizat yang diberikan Allah secara langsung, bukan ilusi atau mimpi. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa Isra' terjadi dalam keadaan terjaga.
  2. Ibnu Katsir menegaskan bahwa peristiwa Isra' Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar Nabi ﷺ. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, beliau menyebutkan bahwa ketika Quraisy mendustakan, Allah meneguhkan Nabi-Nya dengan memperlihatkan Baitul Maqdis secara nyata. Ini juga menjadi jawaban atas keraguan sebagian orang yang menganggap Isra' hanya mimpi.
  3. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa hadits ini adalah dalil yang sangat jelas bahwa Isra' terjadi dengan jasad dan ruh Nabi ﷺ, bukan hanya ruh saja. Karena jika hanya mimpi, tidak perlu Allah memperlihatkan Baitul Maqdis secara langsung untuk menjawab pendustaan Quraisy.
  4. Ibnu Rajab al-Hanbali menekankan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang bagaimana Allah menolong hamba-Nya yang berdakwah di jalan-Nya. Ketika Nabi ﷺ didustakan, Allah tidak membiarkan beliau sendirian, tetapi memberikan pertolongan berupa mukjizat yang nyata.
  5. Az-Zuhri (perawi dalam sanad ini) adalah salah satu ulama Tabi'in yang meriwayatkan hadits ini. Beliau dikenal sebagai penghimpun hadits-hadits penting, dan riwayat ini menunjukkan betapa beliau sangat memperhatikan detail peristiwa Isra'.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat apakah Isra' terjadi dengan jasad dan ruh atau hanya ruh saja. Namun, mayoritas ulama dari daftar yang disebutkan (Ibnu Hajar, Ibnu Katsir, An-Nawawi, Ibnu Rajab) sepakat bahwa Isra' terjadi dengan jasad dan ruh dalam keadaan terjaga, berdasarkan hadits ini dan ayat Al-Qur'an. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur ulama Ahlus Sunnah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa setelah Nabi ﷺ menceritakan peristiwa Isra' Mi'raj, kaum Quraisy semakin keras mendustakan beliau. Mereka berkata, "Jika engkau benar, maka gambarkan kepada kami Baitul Maqdis!" Saat itu, Nabi ﷺ berada di Al-Hijr, dekat Ka'bah. Allah kemudian memperlihatkan Baitul Maqdis di hadapan beliau, sehingga beliau dapat menggambarkan setiap sudutnya dengan sangat detail. Bahkan, ketika mereka bertanya tentang sesuatu yang belum beliau perhatikan, Allah menampakkannya saat itu juga. Melihat hal ini, sebagian orang yang sebelumnya ragu menjadi yakin, namun sebagian yang lain tetap dalam pendustaan. (Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah).

Hikmahnya: Allah selalu menolong hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya. Ketika Nabi ﷺ dihadapkan pada pendustaan yang berat, Allah memberikan pertolongan yang nyata. Ini mengajarkan kita untuk tetap teguh dan tawakkal kepada Allah dalam menghadapi ujian.

Kesimpulan Praktis

  1. Percaya kepada mukjizat Nabi ﷺ: Isra' Mi'raj adalah mukjizat besar yang wajib diimani, termasuk penampakan Baitul Maqdis kepada Nabi ﷺ.
  2. Teguh dalam kebenaran: Ketika didustakan, Nabi ﷺ tetap tenang dan Allah menolongnya. Kita pun harus teguh dalam kebenaran meski dihadapkan pada penolakan.
  3. Yakin pada pertolongan Allah: Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya. Pertolongan bisa datang dengan cara yang tidak terduga.
  4. Meneladani kesabaran Nabi ﷺ: Dalam menghadapi pendustaan, Nabi ﷺ tidak membalas dengan kasar, tetapi tetap berdakwah dengan lembut dan sabar.
  5. Mempelajari sirah Nabi ﷺ: Kisah ini mengajarkan kita untuk terus mempelajari sejarah Nabi ﷺ dan mengambil pelajaran darinya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?