Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kepada kita tentang keutamaan akhlak Nabi ﷺ yang sangat mulia, yaitu menghargai dan mendoakan kebaikan, bahkan kepada seorang raja non-Arab yang bukan Muslim secara lahiriah di mata sebagian orang, namun Allah ﷻ telah menakdirkan keislaman dan kebaikan hatinya. Peristiwa ini juga menunjukkan disyariatkannya shalat ghaib (shalat jenazah untuk mayit yang tidak berada di tempat) atas seorang Muslim yang meninggal di negeri lain, dan ini adalah kekhususan bagi umat Nabi Muhammad ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Ansar, Bab Kematian Raja Najasyi, no. 3877, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu. Lafadznya:
حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ، حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ حِينَ مَاتَ النَّجَاشِيُّ " مَاتَ الْيَوْمَ رَجُلٌ صَالِحٌ، فَقُومُوا فَصَلُّوا عَلَى أَخِيكُمْ أَصْحَمَةَ "
Makna ringkas: Ketika Raja Najasyi (Ashamah) wafat di negerinya (Habasyah/Ethiopia), Nabi ﷺ mengabarkan kabar kematiannya kepada para sahabat di Madinah, lalu memerintahkan mereka untuk berdiri dan menyalatkan jenazahnya (shalat ghaib) sebagai penghormatan dan doa untuknya.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Peristiwa ini berkaitan erat dengan firman Allah ﷻ tentang keadilan dan tidak menzalimi orang yang baik, serta tentang ukhuwah Islamiyah yang tidak dibatasi oleh suku, ras, atau negara. Di antaranya:
QS. Al-Hujurat [49]: 10
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."
Ayat ini menguatkan sabda Nabi ﷺ yang menyebut Najasyi sebagai "saudara kalian" (أَخِيكُمْ), karena ikatan persaudaraan yang hakiki adalah persaudaraan iman, bukan nasab atau kebangsaan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Siapakah An-Najasyi?
An-Najasyi adalah gelar bagi raja Habasyah (Ethiopia). Nama aslinya adalah Ashamah bin Abjar (أَصْحَمَةُ). Beliau adalah seorang raja yang adil dan bijaksana. Ketika kaum Muslimin pertama kali hijrah ke Habasyah karena tekanan Quraisy, beliau menerima mereka dengan baik dan menolak permintaan utusan Quraisy untuk menyerahkan para sahabat. Bahkan beliau masuk Islam secara sembunyi-sembunyi setelah mendengar bacaan Al-Qur'an dan dialog para sahabat. Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan kisah keislamannya berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih.
2. Makna "Raja yang Saleh" dan "Saudara Kalian"
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' Fatawa-nya menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menyebutnya "saudara kalian" karena ikatan iman. Ini menunjukkan bahwa keislaman An-Najasyi telah tetap dan beliau wafat di atas Islam. Meskipun para sahabat tidak melihat langsung keislamannya, wahyu dari Allah ﷻ telah mengabarkan hal itu kepada Nabi ﷺ. Ini adalah dalil bahwa seseorang dinilai berdasarkan apa yang tampak dan yang telah ditetapkan syariat, dan Nabi ﷺ mendapat kabar dari Allah tentang keimanannya.
3. Disyariatkannya Shalat Ghaib
Peristiwa ini menjadi dalil utama bagi jumhur ulama (mayoritas) tentang disyariatkannya shalat ghaib, yaitu shalat jenazah yang dilakukan atas seorang Muslim yang meninggal di tempat lain dan tidak sempat dishalatkan di tempat kematiannya. Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan mayoritas ulama berpendapat bolehnya shalat ghaib berdasarkan hadits ini. Adapun Imam Abu Hanifah dan sebagian ulama berpendapat bahwa shalat ghaib hanya khusus bagi Nabi ﷺ untuk An-Najasyi, karena tidak ada riwayat bahwa Nabi ﷺ atau para sahabat melakukannya untuk selain An-Najasyi. Namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur, karena hukum asal perintah Nabi ﷺ adalah umum dan tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa shalat ghaib tetap disyariatkan bagi yang tidak sempat menshalatkan jenazahnya, dengan syarat jenazah tersebut belum dishalatkan di tempatnya.
4. Keutamaan Akhlak Nabi ﷺ
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa mulianya akhlak Nabi ﷺ. Beliau tidak melupakan kebaikan An-Najasyi yang telah berjasa melindungi para sahabatnya. Beliau mengabarkan kematiannya, memujinya sebagai orang saleh, dan menyalatkannya sebagai bentuk penghormatan dan balas budi. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya menepati janji, menghargai kebaikan, dan tidak melupakan jasa orang lain, meskipun orang tersebut berada di negeri yang jauh.
5. Keadilan dan Tidak Berprasangka Buruk
Peristiwa ini juga mengajarkan agar kita tidak menilai seseorang hanya dari penampilan atau latar belakangnya. An-Najasyi adalah seorang raja non-Arab yang tinggal di negeri yang jauh, namun Allah ﷻ memuliakannya dengan keislaman. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya sering menekankan bahwa kemuliaan di sisi Allah adalah dengan iman dan takwa, bukan dengan nasab atau kebangsaan.
Story Telling
Ada kisah yang sangat menyentuh tentang keislaman An-Najasyi. Ketika para sahabat hijrah ke Habasyah, utusan Quraisy (Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah) datang membawa hadiah-hadiah untuk para pembesar Habasyah agar mereka mau menyerahkan para sahabat. Namun An-Najasyi menolak dengan tegas dan berkata, "Aku tidak akan menyerahkan orang-orang yang telah meminta perlindungan kepadaku dan memilih negeriku."
Beliau lalu memanggil para sahabat dan bertanya tentang agama mereka. Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berdiri dan menjelaskan tentang ajaran Islam, hingga akhirnya beliau membacakan ayat-ayat dari surat Maryam. Mendengar bacaan itu, An-Najasyi menangis hingga jenggotnya basah, lalu berkata, "Sesungguhnya ini dan apa yang dibawa oleh Musa berasal dari satu sumber cahaya yang sama." Beliau menolak hadiah Quraisy dan membiarkan para sahabat tinggal dengan aman di negerinya. Bahkan ketika Ja'far membacakan ayat tentang Isa 'alaihissalam, An-Najasyi berkata, "Demi Allah, Isa tidak lebih dari apa yang telah kalian katakan."
Kisah ini menunjukkan bahwa hidayah Allah ﷻ bisa datang kepada siapa saja yang hatinya jujur mencari kebenaran, meskipun ia seorang raja di negeri yang jauh. Dan Nabi ﷺ tidak pernah melupakan kebaikan orang yang telah berjasa kepada umatnya.
Kesimpulan Praktis
- Menghargai kebaikan orang lain, siapa pun dia, tanpa memandang suku, ras, atau status sosial.
- Mendoakan kebaikan untuk saudara seiman, meskipun mereka berada di tempat yang jauh.
- Meyakini bahwa ikatan persaudaraan yang paling kuat adalah ikatan iman, bukan ikatan darah atau kebangsaan.
- Bolehnya shalat ghaib bagi seorang Muslim yang meninggal di tempat lain dan belum dishalatkan di sana, menurut pendapat jumhur ulama.
- Tidak berprasangka buruk terhadap seseorang yang lahiriahnya baik, karena urusan hati dan keimanan seseorang adalah hak Allah ﷻ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.