Penjelasan Hadits Bukhari No. 3870 tentang Terbelahnya bulan pada zaman Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan salah satu mukjizat besar Nabi ﷺ, yaitu terbelahnya bulan menjadi dua bagian pada zaman beliau masih hidup di Makkah. Peristiwa ini disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai tanda kekuasaan Allah dan bukti kenabian Muhammad ﷺ. Para ulama Ahlus Sunnah menetapkannya sebagai mukjizat yang benar-benar terjadi secara indrawi, bukan kiasan.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil Al-Qur'an — QS. Al-Qamar [54]: 1

Teks Arab (berharakat lengkap):

اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

Terjemahan: "Telah dekat (datangnya) hari Kiamat dan telah terbelah bulan."

Dalil Hadits lain yang menguatkan:

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه, bahwa beliau berkata:

انْشَقَّ الْقَمَرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِرْقَتَيْنِ

Terjemahan: "Bulan terbelah pada masa Rasulullah ﷺ menjadi dua bagian." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang terbelahnya bulan mutawatir makna, diriwayatkan banyak sahabat seperti Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Jubair bin Muth'im, dan lainnya.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi di Makkah sebelum hijrah, dan menjadi jawaban atas tantangan kaum Quraisy yang meminta bukti kenabian.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa para ulama sepakat (ijma') atas terjadinya peristiwa ini.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

Hadits riwayat Ibnu Abbas رضي الله عنهما ini secara ringkas menyatakan bahwa bulan pernah terbelah pada zaman Rasulullah ﷺ. Meski redaksinya singkat, hadits ini dikuatkan oleh banyak riwayat lain yang menjelaskan detail kejadiannya.

Latar belakang peristiwa:

Menurut penjelasan Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar, kaum musyrikin Quraisy menantang Nabi ﷺ untuk menunjukkan mukjizat. Mereka berkata, "Jika engkau benar-benar nabi, belahlah bulan menjadi dua." Maka Nabi ﷺ berdoa kepada Allah, dan bulan pun terbelah menjadi dua bagian yang terpisah — satu bagian di atas gunung dan satu bagian lainnya di sisi lain. Nabi ﷺ lalu bersaksi, "Saksikanlah!" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  1. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa peristiwa ini termasuk mukjizat hissiyyah (indrawi) yang disaksikan langsung oleh banyak orang, sehingga tidak bisa ditakwil sebagai kiasan.
  2. Ibnu Katsir menegaskan bahwa peristiwa ini terjadi di Makkah, dan sebagian ulama menyebutkan bahwa sebagian penduduk Mekkah saat itu melihatnya, meskipun sebagian kaum musyrikin tetap menolak dan menyebutnya sebagai "sihir".
  3. Imam an-Nawawi menyatakan bahwa hadits ini termasuk dalil kuat atas kenabian Muhammad ﷺ, dan umat Islam wajib meyakininya.

Perbedaan pendapat:

Sebagian kecil kalangan menyebutkan bahwa ayat "وَانْشَقَّ الْقَمَرُ" bisa dipahami sebagai tanda akan datangnya Kiamat (bukan peristiwa yang sudah terjadi). Namun pendapat yang rajih (kuat) menurut Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan Imam an-Nawawi adalah bahwa peristiwa terbelahnya bulan sudah benar-benar terjadi pada zaman Nabi ﷺ, karena dikuatkan oleh hadits-hadits shahih yang banyak dan tidak mungkin diabaikan.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه — sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim — bahwa ketika penduduk Makkah menantang Nabi ﷺ, beliau berdoa kepada Allah, lalu bulan terbelah menjadi dua. Ibnu Mas'ud berkata:

لَقَدْ رَأَيْتُ الْقَمَرَ فِرْقَتَيْنِ

"Sungguh aku melihat bulan terbelah menjadi dua bagian."

Salah satu bagian berada di atas gunung Abu Qubais dan bagian lain di sisi lainnya. Nabi ﷺ kemudian bersabda:

اشْهَدُوا

"Saksikanlah."

Hikmah: Peristiwa ini mengajarkan bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas oleh hukum alam. Mukjizat bukanlah sihir, melainkan bukti kebenaran para nabi. Namun hidayah bukanlah hasil mukjizat semata — hati yang keras tetap bisa menolak kebenaran meski telah melihat tanda yang jelas.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini bahwa terbelahnya bulan adalah mukjizat Nabi ﷺ yang benar-benar terjadi, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan Imam an-Nawawi.
  2. Jadikan peristiwa ini sebagai penguat iman, bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
  3. Hindari takwil yang melemahkan makna hadits tanpa dalil yang kuat.
  4. Ambil pelajaran bahwa hidayah adalah karunia Allah — bukan sekadar melihat mukjizat. Maka perbanyaklah doa agar hati tetap teguh di atas petunjuk.
  5. Sampaikan kisah ini kepada keluarga dan anak-anak sebagai bagian dari sirah Nabi ﷺ yang menumbuhkan kecintaan kepada beliau.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?