Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan mukjizat besar Nabi ﷺ: terbelahnya bulan menjadi dua bagian, sehingga Gunung Hira' terlihat di celah antara keduanya. Peristiwa ini terjadi ketika orang-orang Mekkah menantang beliau untuk menunjukkan tanda kenabian. Mukjizat ini disebutkan dalam Al-Qur'an dan diriwayatkan secara mutawatir (banyak jalur) oleh para ulama, sehingga tidak ada keraguan tentang kebenarannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Qamar [54]: 1
اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
Terjemahan: "Telah dekat datangnya hari Kiamat dan telah terbelah bulan."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Anshar, Bab Terbelahnya Bulan, dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه, melalui jalur Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan).
Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih-nya dari beberapa sahabat seperti Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan Anas bin Malik.
Kaitan dengan ulama:
- Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (Tabi'in) adalah perawi hadits ini dari Anas bin Malik.
- Imam Al-Bukhari meriwayatkannya dalam kitab shahihnya.
- Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa peristiwa ini adalah mukjizat yang disepakati oleh para ulama.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini termasuk dalil kuat terbelahnya bulan.
Penjelasan Rinci
Makna hadits:
Orang-orang kafir Mekkah meminta Nabi ﷺ menunjukkan bukti kenabian yang nyata. Sebagai jawaban, Allah memperlihatkan mukjizat terbelahnya bulan menjadi dua bagian. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri bulan terbelah, dan di antara dua belahan itu tampak Gunung Hira' (gunung di dekat Mekkah tempat Nabi ﷺ menerima wahyu pertama).
Pemahaman para ulama:
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi di Mekkah sebelum hijrah, dan merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi ﷺ. Beliau menyebutkan bahwa para ulama sepakat (ijma') tentang terjadinya peristiwa ini berdasarkan banyak riwayat shahih.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan:
- Kebenaran kenabian Muhammad ﷺ.
- Bahwa mukjizat bisa terjadi dengan izin Allah.
- Bahwa orang-orang Mekkah yang menyaksikan tetap ada yang menolak, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain bahwa sebagian mereka berkata, "Ini sihir."
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa terbelahnya bulan adalah mukjizat yang mutawatir, diriwayatkan oleh banyak sahabat dengan jalur yang beragam, sehingga tidak bisa diingkari kecuali oleh orang yang sombong.
Qatadah bin Di'amah as-Sadusi sebagai perawi hadits ini adalah seorang Tabi'in yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Beliau dikenal sebagai ahli tafsir dan hadits yang tsiqah (terpercaya).
Perbedaan pendapat:
Sebagian kecil ulama di luar daftar kami ada yang mencoba menakwilkan (menafsirkan ulang) peristiwa ini sebagai "akan terbelah" (bukan sudah terjadi). Namun, mayoritas ulama Ahlus Sunnah dari daftar kami — seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan an-Nawawi — menegaskan bahwa peristiwa ini benar-benar terjadi secara fisik di masa Nabi ﷺ, berdasarkan hadits-hadits shahih yang banyak.
Story Telling
Dikisahkan bahwa setelah Nabi ﷺ diutus, orang-orang Quraisy Mekkah semakin keras menentang beliau. Suatu hari mereka berkumpul dan berkata, "Wahai Muhammad, jika engkau benar-benar seorang nabi, tunjukkan kepada kami sebuah tanda!"
Mereka meminta sesuatu yang tidak bisa dilakukan manusia biasa. Maka Nabi ﷺ berdoa kepada Allah, dan Allah memperlihatkan mukjizat yang menakjubkan: bulan di langit terbelah menjadi dua bagian. Orang-orang Mekkah melihat dengan mata kepala sendiri, dan di antara dua belahan bulan itu, Gunung Hira' tampak jelas.
Sebagian dari mereka yang beriman langsung membenarkan. Namun, sebagian yang keras kepala berkata, "Ini pasti sihir." Padahal, sebagaimana kata para ulama, sihir tidak bisa mempengaruhi semua orang yang melihat di tempat yang berbeda-beda. Peristiwa ini disaksikan oleh banyak orang di berbagai tempat, sehingga tidak mungkin hanya ilusi.
Hikmah: Mukjizat tidak akan bermanfaat bagi hati yang sudah tertutup oleh kesombongan. Sebaliknya, orang yang beriman akan semakin bertambah keyakinannya.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah pada mukjizat Nabi ﷺ — Terbelahnya bulan adalah bukti nyata kenabian Muhammad ﷺ yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits shahih.
- Jangan ragu pada hadits shahih — Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari jalur yang terpercaya, dan disepakati oleh para ulama.
- Ambil pelajaran dari sikap orang Mekkah — Jangan menjadi orang yang menolak kebenaran karena kesombongan, tetapi jadilah orang yang tunduk pada dalil.
- Perkuat iman dengan mempelajari mukjizat Nabi ﷺ — Semakin kita mengenal Nabi ﷺ, semakin cinta dan taat kita kepada beliau.
- Sampaikan dengan lembut — Ketika menjelaskan mukjizat ini kepada orang lain, sampaikan dengan adab dan tanpa perdebatan kasar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.