Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan salah satu momen penting dalam perjalanan Islamnya Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Saat itu, Umar baru saja masuk Islam dan berada di rumahnya dalam keadaan takut karena ancaman kaum Quraisy. Kemudian datanglah Al-Ash bin Wail As-Sahmi, seorang tokoh Quraisy yang terpandang, yang memberikan perlindungan (jiwar) kepadanya. Dengan perlindungan itu, orang-orang Quraisy yang hendak mencelakai Umar pun mundur. Kisah ini menunjukkan bagaimana Allah menjaga hamba-Nya yang baru beriman, dan juga menunjukkan tradisi perlindungan (jiwar) yang berlaku di masyarakat Arab saat itu, yang kemudian diakui oleh Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Ansar, Bab Islamnya Umar bin Khattab, no. 3864. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah.
Kisah ini juga dikuatkan oleh riwayat lain yang menyebutkan bahwa setelah Umar masuk Islam, kaum Quraisy marah besar. Namun, karena adanya perlindungan dari Al-Ash bin Wail, mereka tidak berani menyerangnya. Peristiwa ini terjadi sebelum hijrah ke Habasyah dan sebelum hijrah ke Madinah.
Kaitan dengan Ulama:
- Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Umar bin Khattab dan bagaimana Allah memudahkan jalannya. Beliau juga menjelaskan bahwa Al-Ash bin Wail adalah salah satu tokoh Quraisy yang dihormati, dan perlindungannya menjadi sebab keselamatan Umar.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (meskipun hadits ini di Bukhari, namun beliau membahas konsep jiwar dalam kitabnya) menjelaskan bahwa memberikan perlindungan kepada orang yang teraniaya adalah perbuatan terpuji yang diakui dalam Islam, selama tidak digunakan untuk melindungi dari kebenaran.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan beberapa pelajaran penting:
- Keadaan Umar Setelah Masuk Islam: Umar digambarkan berada di rumahnya dalam keadaan khaa-ifan (takut). Ini menunjukkan bahwa meskipun Umar adalah sosok yang kuat dan pemberani, namun ancaman pembunuhan dari seluruh kaum Quraisy adalah hal yang serius. Ini juga menunjukkan bahwa iman tidak menghilangkan rasa takut secara instan, tetapi iman memberikan ketenangan hati dan keyakinan bahwa Allah akan menolong hamba-Nya.
- Peran Al-Ash bin Wail: Al-Ash bin Wail adalah seorang tokoh terpandang dari Bani Sahm. Meskipun ia belum masuk Islam, ia memiliki hubungan persekutuan (hilahf) dengan keluarga Umar di masa jahiliyah. Datangnya Al-Ash untuk menanyakan keadaan Umar dan kemudian memberikan perlindungan menunjukkan bahwa ada nilai-nilai kesetiaan dan kehormatan yang masih dijunjung tinggi di kalangan Quraisy, bahkan terhadap orang yang baru saja "menyimpang" dari agama mereka.
- Makna Perlindungan (Jiwar): Dalam tradisi Arab, jiwar adalah sebuah ikrar perlindungan yang sangat dihormati. Jika seorang tokoh memberikan perlindungan kepada seseorang, maka orang lain tidak boleh mengganggunya. Ini adalah bentuk "keamanan" yang diakui secara sosial. Al-Ash bin Wail menggunakan pengaruhnya ini untuk melindungi Umar. Ini menunjukkan bahwa Allah bisa menggunakan siapa saja, bahkan orang yang belum beriman, untuk menolong hamba-Nya yang beriman.
- Reaksi Kaum Quraisy: Ketika orang-orang Quraisy yang marah itu mendengar pernyataan Al-Ash, mereka langsung mundur. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh dan wibawa Al-Ash di mata mereka. Ini juga menunjukkan bahwa Allah telah menetapkan sebab-sebab keselamatan bagi Umar.
Pandangan Ulama:
- Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu bukti nyata bagaimana Allah menjaga Umar. Beliau juga mencatat bahwa peristiwa ini terjadi setelah Umar masuk Islam, dan sebelum hijrah ke Habasyah. Ini menunjukkan bahwa dakwah Islam berjalan secara bertahap dan Allah selalu memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya.
- Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan kisah ini dalam sirah Umar bin Khattab. Beliau menegaskan bahwa masuk Islamnya Umar adalah salah satu peristiwa besar yang menguatkan kaum muslimin di Makkah.
Story Telling
Ada kisah yang lebih lengkap tentang masuk Islamnya Umar. Suatu malam, Umar keluar dengan membawa pedangnya dengan niat untuk membunuh Rasulullah ﷺ. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah yang memberitahunya bahwa adiknya, Fatimah, dan suaminya, Sa'id bin Zaid, telah masuk Islam. Umar pun bergegas ke rumah adiknya dan mendapati mereka sedang membaca Al-Qur'an. Marah, ia memukul Sa'id, namun ketika melihat darah di wajah adiknya, hatinya luluh. Ia kemudian meminta untuk melihat lembaran Al-Qur'an yang sedang mereka baca. Setelah membacanya, hatinya tersentuh dan ia langsung masuk Islam.
Kisah ini menunjukkan bahwa hidayah Allah bisa datang melalui berbagai jalan. Umar yang awalnya sangat memusuhi Islam, akhirnya menjadi salah satu pilar terkuat Islam. Dan hadits yang kita bahas ini menunjukkan bagaimana Allah kemudian menjaga Umar setelah ia beriman. Perlindungan dari Al-Ash bin Wail adalah salah satu bentuk penjagaan Allah yang nyata.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah pada Pertolongan Allah: Ketika kita berada di jalan kebenaran, Allah tidak akan membiarkan kita sendirian. Dia akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan, sebagaimana Dia selamatkan Umar.
- Hargai Nilai-Nilai Kebaikan: Meskipun Al-Ash belum beriman, ia tetap menghormati ikatan persekutuan dan memberikan perlindungan. Ini mengajarkan kita untuk tetap berbuat baik dan menghargai nilai-nilai luhur selama tidak bertentangan dengan syariat.
- Jangan Takut pada Ancaman: Ketika kita sudah berpegang teguh pada kebenaran, janganlah kita gentar dengan ancaman atau intimidasi. Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat baik.
- Doa: Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.