Penjelasan Hadits Bukhari No. 3859 tentang Pohon memberitahu Nabi tentang jin pendengar Al-Qur'an

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa pada malam para jin mendengarkan Al-Qur'an dari Nabi ﷺ, yang memberitahukan kedatangan mereka kepada beliau bukanlah manusia, melainkan sebuah pohon. Ini menunjukkan bahwa jin adalah makhluk yang benar-benar ada, dan bahwa alam gaib dapat dibuka Allah kepada siapa yang Dia kehendaki. Kita wajib mengimani keberadaan jin tanpa berlebihan, tanpa takut berlebihan, dan tanpa mendatangi tukang ramal.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Jinn [72]: 1

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

Terjemahan: "Katakanlah (Muhammad), 'Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur'an), lalu mereka berkata, "Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan."'"

QS. Al-Ahqaf [46]: 29

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ

Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur'an. Ketika mereka menghadirinya, mereka berkata, 'Diamlah kalian (untuk mendengarkan).' Maka ketika (bacaan) itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Manaqib al-Anshar, Bab Dzikr al-Jinn, dari jalur Ma'n bin Abdurrahman dari ayahnya, dari Masruq, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa pemberitahuan kedatangan jin kepada Nabi ﷺ terjadi melalui perantara pohon, bukan melalui manusia.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menjawab sebuah pertanyaan penting: bagaimana Nabi ﷺ mengetahui bahwa ada sekelompok jin yang datang mendengarkan bacaan Al-Qur'an beliau pada malam itu? Jawabannya, sebagaimana disampaikan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, adalah bahwa sebuah pohon memberitahukan hal itu kepada beliau. Ini adalah salah satu bentuk mukjizat dan karunia Allah kepada Nabi-Nya, di mana benda mati dapat berbicara dengan izin Allah.

Pemahaman para ulama dalam daftar:

  1. Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) memasukkan hadits ini dalam Shahih-nya pada bab khusus tentang penyebutan jin, menunjukkan bahwa beliau memandang penting penetapan keberadaan jin dan interaksi mereka dengan Nabi ﷺ sebagai bagian dari aqidah.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa pohon tersebut berbicara dan memberitahu Nabi ﷺ tentang kedatangan jin. Beliau juga menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada malam ketika Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an di hadapan para jin, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Jinn dan Al-Ahqaf. Ibnu Hajar menegaskan bahwa ini adalah bagian dari tanda-tanda kenabian.
  3. Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits-hadits serupa menegaskan bahwa keberadaan jin adalah perkara yang disepakati (ijma') oleh Ahlus Sunnah, berdasarkan Al-Qur'an dan hadits-hadits mutawatir.
  4. Ibnu Katsir (wafat 774 H) dalam tafsirnya ketika menafsirkan QS. Al-Jinn dan Al-Ahqaf menyebutkan riwayat-riwayat tentang peristiwa ini, termasuk riwayat dari Abdullah bin Mas'ud, dan beliau menegaskan kebenaran peristiwa ini sebagai bagian dari berita gaib yang wajib diimani.
  5. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (wafat 1376 H) dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa peristiwa jin mendengarkan Al-Qur'an adalah bukti bahwa Al-Qur'an memiliki pengaruh yang sangat besar, sampai-sampai jin pun terpengaruh dan beriman karenanya.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama membahas apakah pohon tersebut benar-benar berbicara dengan kata-kata, ataukah pemberitahuan itu melalui cara lain yang Allah berikan kepada Nabi ﷺ. Namun yang paling kuat, sesuai zhahir hadits, adalah bahwa pohon itu memang memberitahukan dengan cara yang Allah kehendaki, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa tidak ada kebutuhan untuk menakwil hadits ini, karena mukjizat Nabi ﷺ memang mencakup berbicaranya benda mati, sebagaimana telah tetap dalam hadits-hadits lain seperti rintihan batang kurma.

Story Telling

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling mengetahui Al-Qur'an. Suatu ketika, Masruq bin al-Ajda' — seorang tabi'in yang mulia — bertanya kepada Abdullah bin Mas'ud tentang peristiwa malam ketika jin mendengarkan Al-Qur'an. Beliau bertanya, "Siapa yang memberitahu Nabi ﷺ tentang kedatangan jin malam itu?"

Abdullah bin Mas'ud menjawab dengan jawaban yang singkat namun penuh makna: "Sebuah pohon yang memberitahukan mereka kepada beliau."

Bayangkanlah — seorang Nabi yang mulia sedang berada di suatu tempat, lalu sebuah pohon dari alam ini menjadi saksi dan pemberi kabar bahwa makhluk gaib telah datang untuk mendengarkan wahyu Allah. Ini adalah penghormatan Allah kepada Nabi-Nya, dan sekaligus pelajaran bagi kita bahwa alam ini tidaklah kosong dari makhluk-makhluk yang tidak terlihat oleh mata kita.

Masruq sendiri adalah tabi'in yang dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Beliau tidak menerima begitu saja, tetapi bertanya langsung kepada orang yang menyaksikan dan mendengar dari Nabi ﷺ. Ini mengajarkan kepada kita adab dalam menuntut ilmu — bertanya kepada ahlinya, dan tidak berbicara tanpa ilmu.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada yang gaib: Kita wajib mengimani keberadaan jin sebagai makhluk Allah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih.
  2. Tidak takut berlebihan: Keberadaan jin bukan alasan untuk takut berlebihan atau mendatangi dukun dan tukang ramal. Perlindungan hanya kepada Allah, dengan membaca Al-Qur'an, dzikir, dan doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ.
  3. Kemuliaan Al-Qur'an: Peristiwa ini menunjukkan betapa besar pengaruh Al-Qur'an, sampai jin pun terpengaruh. Maka hendaknya kita lebih serius dalam membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an.
  4. Mukjizat Nabi ﷺ: Berbicaranya pohon kepada Nabi ﷺ adalah bukti kenabian beliau. Kita mengimaninya tanpa menakwil atau mengingkarinya.
  5. Adab menuntut ilmu: Sebagaimana Masruq bertanya kepada Abdullah bin Mas'ud, hendaknya kita bertanya kepada ulama yang terpercaya dan tidak berbicara tentang agama tanpa ilmu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?