Penjelasan Hadits Bukhari No. 3853 tentang Sujud Nabi saat membaca An-Najm dan penolakan seorang musyrik

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ membaca surat An-Najm dan bersujud tilawah, hampir semua yang hadir ikut bersujud — termasuk kaum musyrikin — kecuali satu orang yang sombong, yang mengambil kerikil dan bersujud di atasnya sebagai bentuk penghinaan. Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه kemudian melihat orang itu mati dalam keadaan kafir. Pelajarannya: kesombongan menolak kebenaran adalah jalan menuju kesesatan, dan sujud kepada Allah adalah inti ketundukan seorang hamba.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Ansar, Bab Apa yang Dihadapi Nabi ﷺ dan Para Sahabatnya dari Kaum Musyrikin di Mekah (no. 3853), dari jalur Sulaiman bin Harb ← Syu'bah ← Abu Ishaq ← Al-Aswad ← Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه.

Hadits senada juga diriwayatkan Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim dari jalur yang sama, dan Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya.

Adapun dalil Al-Qur'an yang sangat relevan dengan makna hadits ini adalah firman Allah tentang orang-orang yang menolak sujud karena kesombongan:

QS. Al-A'raf [7]: 206

وَإِنَّ الَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ

"Dan sesungguhnya orang-orang yang di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah-Nya, dan mereka bertasbih kepada-Nya, dan hanya kepada-Nya mereka bersujud."

Dan firman Allah tentang akibat kesombongan:

QS. Al-A'raf [7]: 146

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ

"Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku."

Penjelasan Rinci

Konteks hadits: Peristiwa ini terjadi di Mekah, sebelum hijrah, ketika Nabi ﷺ masih menghadapi tekanan dan permusuhan kaum Quraisy. Beliau membaca surat An-Najm (surat ke-53) di hadapan orang banyak. Ketika sampai pada ayat sajdah (ayat 62: فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا), beliau bersujud. Seluruh hadirin — Muslim maupun musyrik — ikut bersujud, karena pengaruh bacaan Al-Qur'an yang sangat kuat dan karena kebenaran yang tidak bisa mereka tolak saat itu.

Makna "seorang lelaki yang mengambil segenggam kerikil": Menurut penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, lelaki ini adalah Umayyah bin Khalaf — salah satu tokoh Quraisy yang paling keras memusuhi Islam. Ia menolak sujud langsung ke tanah karena kesombongan, lalu mengambil kerikil dan sujud di atasnya sebagai bentuk penghinaan dan penolakan terhadap perintah sujud. Ucapannya "هَذَا يَكْفِينِي" ("ini cukup bagiku") adalah ungkapan penolakan yang sombong — seolah ia berkata, "Aku tidak akan sujud seperti kalian, cukup bagiku sujud di atas kerikil ini."

Pandangan para ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa hal penting:

  1. Disyariatkannya sujud tilawah ketika membaca ayat sajdah.
  2. Bahwa Al-Qur'an memiliki pengaruh yang sangat kuat sampai-sampai orang musyrik pun ikut sujud ketika mendengarnya.
  3. Bahwa kesombongan adalah penghalang terbesar dari keimanan.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa peristiwa ini menunjukkan mukjizat Nabi ﷺ, di mana bacaan beliau mampu menggetarkan hati manusia, dan juga menunjukkan betapa kerasnya hati orang yang menolak kebenaran karena kesombongan.

Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa kesombongan (kibr) adalah dosa pertama yang dilakukan makhluk — yaitu Iblis — dan merupakan akar dari segala kehancuran. Orang yang sombong menolak kebenaran bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau tunduk.

Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa peristiwa sujudnya kaum musyrikin bersama Nabi ﷺ dalam surat An-Najm adalah salah satu kejadian yang menunjukkan keagungan Al-Qur'an, dan bahwa orang yang menolak tetap dalam kesesatan karena pilihannya sendiri.

Tentang kematian Umayyah bin Khalaf: Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه bersumpah bahwa ia melihat lelaki itu (Umayyah bin Khalaf) mati dalam keadaan kafir. Umayyah bin Khalaf terbunuh dalam Perang Badar oleh Bilal bin Rabah رضي الله عنه dan beberapa sahabat. Ini menunjukkan bahwa kesombongan yang terus dipelihara akan berujung pada kesudahan yang buruk.

Hikmah penting: Hadits ini mengajarkan bahwa sujud adalah simbol ketundukan total kepada Allah. Orang yang menolak sujud karena kesombongan — meskipun secara lahir ia "sujud" dengan cara yang dibuat-buat — pada hakikatnya ia tidak sujud kepada Allah, melainkan kepada hawa nafsunya sendiri.

Story Telling

Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه — sahabat yang mulia, ahli Al-Qur'an, dan orang yang pertama kali mengajarkan Al-Qur'an secara terbuka di Mekah — menceritakan kisah ini sebagai saksi mata. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana seluruh manusia yang hadir saat itu tersungkur dalam sujud ketika Nabi ﷺ membacakan surat An-Najm. Suasana saat itu pasti sangat mengharukan: orang-orang yang biasanya menentang Nabi ﷺ, yang biasa mencaci dan menyakiti beliau, tiba-tiba tersungkur bersujud tanpa bisa menahan diri. Itulah keajaiban Al-Qur'an.

Namun di tengah lautan manusia yang bersujud, ada satu orang yang tetap berdiri dengan angkuh. Ia tidak mau menempelkan dahinya ke tanah. Ia mengambil kerikil, mengangkatnya, dan bersujud di atasnya — seolah berkata, "Ini sudah cukup bagiku." Abdullah bin Mas'ud terus mengingat pemandangan itu. Dan bertahun-tahun kemudian, ia melihat orang yang sama — Umayyah bin Khalaf — terbunuh dalam keadaan kafir di Perang Badar. Kesombongan di dunia berbuah kehinaan di akhirat.

Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya meriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud berkata: "Aku melihatnya setelah itu terbunuh sebagai kafir kepada Allah." Ini adalah kesaksian yang penuh pelajaran bagi setiap orang yang membaca hadits ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah meremehkan sujud kepada Allah. Sujud adalah inti ibadah dan simbol ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya. Jika kita mampu sujud, jangan cari alasan untuk menghindar.
  2. Waspadai kesombongan. Kesombongan adalah pintu masuk kekufuran. Iblis diusir dari rahmat Allah bukan karena kurang ilmu, tetapi karena sombong. Umayyah bin Khalaf mati kafir bukan karena tidak tahu kebenaran, tetapi karena menolak tunduk.
  3. Hati-hati dengan sikap "cukup bagiku cara sendiri". Ucapan "هَذَا يَكْفِينِي" adalah cerminan sikap yang merasa cukup dengan amal yang dibuat-buat sambil menolak perintah Allah yang sebenarnya. Ini adalah penyakit hati yang harus dijauhi.
  4. Al-Qur'an memiliki kekuatan menggetarkan hati. Jika hati kita tidak bergetar saat mendengar Al-Qur'an, periksa kembali hati kita — mungkin ada kesombongan yang menghalanginya.
  5. Akhir kehidupan ditentukan oleh keadaan hati saat itu. Umayyah bin Khalaf yang sombong di Mekah berakhir kafir di Badar. Semoga Allah melindungi kita dari kesudahan yang buruk.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?