Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memuji syair yang mengandung makna tauhid, yaitu pengakuan bahwa segala sesuatu selain Allah adalah sia-sia dan fana. Beliau menyebut syair Labid bin Rabi'ah sebagai perkataan paling benar dari seorang penyair. Adapun Umayyah bin Abi Shalt, seorang penyair jahiliyah, hampir masuk Islam karena syairnya yang mendekati kebenaran, tetapi akhirnya tidak beriman.
Rujukan Ulama & Dalil
Al-Qur'an:
Ayat yang senada dengan makna syair Labid adalah firman Allah:
QS. Al-Qashash [28]: 88
وَلَا تَدْعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ۘ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَىْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۥ ۚ لَهُ ٱلْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Dan janganlah kamu sembah di samping Allah, tuhan yang lain. Tidak ada tuhan selain Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Zat Allah. Bagi-Nya segala penentuan, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.”
Hadits:
Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 3841:
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ (الثَّوْرِيُّ)، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: "أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا الشَّاعِرُ كَلِمَةُ لَبِيدٍ: أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ، وَكَادَ أُمَيَّةُ بْنُ أَبِي الصَّلْتِ أَنْ يُسْلِمَ".
Penjelasan Ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa maksud “أَصْدَقُ كَلِمَةٍ” adalah kata-kata yang paling benar dari segi makna tauhid. Syair Labid ini sangat sesuai dengan ajaran Islam, karena menegaskan bahwa hanya Allah yang kekal, selain-Nya binasa.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (meski hadits ini di Bukhari, beliau juga membahas topik serupa) menyebutkan bahwa Labid bin Rabi’ah adalah seorang penyair yang masuk Islam setelah datangnya wahyu. Syairnya yang diakui Nabi menunjukkan bahwa syair yang mengandung hikmah dan kebenaran tidaklah tercela.
- Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya menafsirkan ayat “kullu syai’in halikun illa wajhah” (QS. Al-Qashash: 88) dengan mengatakan bahwa maknanya sama dengan syair Labid, yaitu segala sesuatu akan lenyap kecuali Zat Allah yang Maha Kekal.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengajarkan beberapa hal penting:
- Kedudukan Syair dalam Islam
Rasulullah ﷺ tidak melarang syair secara mutlak. Beliau memuji syair yang mengandung makna kebaikan dan tauhid, sebagaimana sabda beliau: “Sesungguhnya sebagian syair itu mengandung hikmah.” (HR. al-Bukhari). Syair Labid ini dinilai paling benar karena isinya tidak bertentangan dengan wahyu, bahkan selaras dengan Al-Qur’an.
- Makna Syair Labid
Labid bin Rabi’ah, yang dulunya adalah penyair terkenal di masa jahiliyah, kemudian memeluk Islam. Syairnya: “Ala kullu syai’in ma khallallaha bathil” artinya “Ingatlah, segala sesuatu selain Allah adalah batil (sia-sia, fana).” Ini merupakan pernyataan tauhid yang tegas. Sejak masa jahiliyah, Labid sudah memiliki fitrah yang lurus, sehingga syairnya tidak mengandung kesyirikan.
- Kisah Umayyah bin Abi Shalt
Beliau adalah seorang penyair yang mengesakan Allah dan menolak penyembahan berhala, bahkan ia mengetahui akan datangnya seorang nabi akhir zaman. Namun, ketika Nabi Muhammad ﷺ diutus, ia tidak beriman karena kecemburuan dan kesombongan. Sabda Nabi “kada an yuslima” (hampir masuk Islam) menunjukkan bahwa syair dan pemikirannya sudah mendekati kebenaran, tetapi akhirnya ia tetap kafir. Ibnu Hajar menukil dari para ulama bahwa Umayyah tidak masuk Islam karena ia menginginkan menjadi nabi itu sendiri atau karena ia tidak mengakui kerasulan Muhammad.
- Pelajaran dari Hadits
- Syair atau ucapan indah yang mengandung makna tauhid patut diapresiasi, selama tidak bertentangan dengan syariat.
- Orang yang memiliki pemikiran benar dan akhlak baik belum tentu selamat jika tidak menerima kerasulan Nabi Muhammad ﷺ. Keimanan haruslah iman kepada Allah dan rasul-Nya.
- Segala sesuatu selain Allah adalah fana. Maka janganlah kita terlalu bergantung kepada dunia yang pasti binasa.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Labid bin Rabi’ah – ketika beliau masuk Islam – pernah datang kepada Rasulullah ﷺ dan membaca syairnya yang terkenal itu. Maka Rasulullah ﷺ tersenyum dan berkata: “Itulah perkataan yang paling benar yang diucapkan oleh seorang penyair.” (HR. al-Bukhari dalam Adabul Mufrad dengan sanad yang shahih).
Labid kemudian meninggalkan syair dan berhenti bersyair setelah masuk Islam, karena ia merasa Al-Qur’an telah mencukupi segala keindahan kata. Ia berkata: “Allah telah menggantikanku dengan Al-Qur’an yang lebih baik dari syair.”
Adapun Umayyah bin Abi Shalt, ia pernah membaca syair-syair tauhid yang menyentuh hati, namun ketika Nabi Muhammad diutus, ia bersikap sombong dan tidak mau mengikuti. Maka keislamannya hanya “hampir” tetapi tidak sampai. Ini menjadi pelajaran bahwa ilmu dan kebenaran tanpa ketundukan hati tidak akan bermanfaat.
Kesimpulan Praktis
- Perhatikan isi ucapan, baik syair maupun nasehat. Pilihlah yang mengandung kebenaran dan tauhid.
- Jangan bangga dengan syair atau kata-kata indah jika isinya menyimpang dari syariat.
- Jadikan syair Labid sebagai pengingat bahwa hanya Allah yang kekal, dan dunia ini fana.
- Teladani Labid yang setelah masuk Islam meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat demi Al-Qur’an.
- Hindari kesombongan seperti Umayyah yang mengetahui kebenaran namun enggan menerimanya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.