Penjelasan Hadits Bukhari No. 3840 tentang Kebiasaan dan istilah zaman jahiliyah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini bukanlah sabda Nabi ﷺ, melainkan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang menceritakan kebiasaan orang Arab pada masa jahiliyah, termasuk ayahnya sendiri (Al-Abbas bin Abdul Muththalib), yang memakai ungkapan "اسْقِنَا كَأْسًا دِهَاقًا" (sediakan untuk kami gelas yang penuh). Al-Bukhari menyebutkannya dalam Kitab Keutamaan Ansar, Bab Zaman Jahiliyah, untuk menggambarkan keadaan masyarakat sebelum Islam. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah contoh bahasa dan adat jahiliyah yang kemudian diislamkan maknanya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Manaqib al-Anshar, Bab Ma Ja'a fi al-Jahiliyyah (no. 3840). Perawinya adalah Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Teks yang disebutkan:

قَالَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ اسْقِنَا كَأْسًا دِهَاقًا

Terjemahan: "Ibnu Abbas berkata: Aku mendengar ayahku berkata pada masa jahiliyah: 'Sediakan untuk kami gelas yang penuh.'"

Ayat yang berkaitan dengan kata "دِهَاقًا" terdapat dalam Al-Qur'an:

وَكَأْسًا دِهَاقًا

QS. An-Naba' [78]: 34

Terjemahan: "Dan gelas-gelas yang penuh (berisi khamr surga)."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa "دِهَاقًا" berarti penuh, melimpah, dan memenuhi gelas hingga ke tepinya. Makna ini sama dengan yang dipakai orang Arab jahiliyah dalam syair dan ucapan sehari-hari mereka.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Al-Bukhari sengaja menyebut riwayat ini dalam bab tentang jahiliyah untuk menunjukkan bahwa sebagian ungkapan dan kebiasaan jahiliyah tetap dipakai setelah Islam, namun maknanya disesuaikan dengan syariat. Ibnu Hajar juga menyebut bahwa Al-Abbas bin Abdul Muththalib, ayah Ibnu Abbas, adalah salah satu tokoh Quraisy yang ucapannya banyak diriwayatkan dalam hal ini.

Penjelasan Rinci

Hadits ini penting dipahami dalam beberapa sisi:

Pertama, ini adalah atsar (perkataan sahabat), bukan hadits marfu' kepada Nabi ﷺ. Al-Bukhari meriwayatkannya dengan sighat "qala wa qala Ibnu Abbas" yang menunjukkan itu adalah perkataan Ibnu Abbas. Ibnu Hajar menegaskan bahwa Al-Bukhari kadang memasukkan atsar sahabat dalam kitab shahihnya untuk menjelaskan konteks suatu bab, bukan sebagai hadits Nabi.

Kedua, kata "اسْقِنَا كَأْسًا دِهَاقًا" adalah ungkapan bahasa Arab asli yang dipakai orang jahiliyah. "Ka's" berarti gelas atau cangkir tempat minum, dan "dihaq" berarti penuh hingga melimpah. Pada masa jahiliyah, ungkapan ini biasa dipakai dalam majelis minum khamr, meminta pelayan menuangkan minuman hingga gelas penuh.

Ketiga, Al-Abbas bin Abdul Muththalib mengucapkan ini pada masa jahiliyah, sebelum Islam datang. Ini menunjukkan bahwa ia hidup melalui dua zaman: jahiliyah dan Islam. Ibnu Hajar menyebut bahwa Al-Abbas masuk Islam pada tahun Fathu Makkah, dan setelah itu ia menjadi salah satu sahabat yang mulia.

Keempat, Al-Qur'an kemudian memakai kata "دِهَاقًا" dalam konteks yang mulia, yaitu gelas-gelas khamr surga yang penuh (QS. An-Naba' [78]: 34). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memakai bahasa yang dikenal orang Arab agar mereka memahami nikmat surga, namun maknanya suci dan tidak seperti khamr dunia. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak selalu menghapus bahasa, tetapi mengarahkan maknanya kepada yang benar.

Kelima, Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa mengenal keadaan jahiliyah penting agar seorang muslim memahami besarnya nikmat Islam. Dengan mengetahui keburukan jahiliyah, seseorang lebih bersyukur atas hidayah Al-Qur'an dan sunnah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Abbas bin Abdul Muththalib, paman Nabi ﷺ, adalah salah satu tokoh Quraisy yang dikenal dermawan dan sering menjadi penjaga sumur Zamzam serta pemberi minum kepada jamaah haji. Pada masa jahiliyah, ia biasa mengucapkan "اسْقِنَا كَأْسًا دِهَاقًا" dalam majelis-majelis Quraisy. Ketika Islam datang, ia berhenti dari kebiasaan minum khamr dan mengarahkan kedermawanannya untuk memberi minum air Zamzam kepada para jamaah haji, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat tentang siqayah. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Al-Abbas kemudian menjadi salah satu sahabat yang mulia dan anaknya, Ibnu Abbas, menjadi ulama besar umat ini. Hikmahnya: seseorang bisa berubah dari kebiasaan jahiliyah menuju cahaya Islam, dan Allah menerima taubat hamba-Nya yang ikhlas.

Kesimpulan Praktis

  1. Hadits ini adalah atsar sahabat, bukan sabda Nabi ﷺ, sehingga tidak dijadikan dalil hukum syariat secara langsung.
  2. Ungkapan "دِهَاقًا" berarti penuh, dan dipakai dalam Al-Qur'an untuk gelas khamr surga (QS. An-Naba' [78]: 34).
  3. Mengenal jahiliyah membuat kita bersyukur atas nikmat Islam dan hidayah Al-Qur'an serta sunnah.
  4. Islam tidak menghapus semua bahasa dan adat, tetapi mengarahkannya kepada yang benar dan suci.
  5. Hendaknya kita meneladani Al-Abbas dan Ibnu Abbas dalam bertaubat, berilmu, dan berdakwah dengan lembut.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?