Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang Zaid bin Amr bin Nufail, seorang laki-laki di masa jahiliyah yang telah diberi petunjuk oleh Allah untuk meninggalkan kesyirikan kaumnya dan mencari agama yang lurus, yaitu agama Nabi Ibrahim 'alaihis salam. Beliau adalah orang yang sangat membenci pembunuhan bayi perempuan yang merupakan kebiasaan buruk masyarakat jahiliyah. Kisah ini menunjukkan bahwa Allah menjaga siapa saja yang ikhlas mencari kebenaran, dan bahwa agama yang benar adalah agama yang dibawa oleh para nabi, yaitu tauhid dan akhlak yang mulia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Ansar, Bab Hadits Zaid bin Amr bin Nufail, nomor 3828, dari sahabat Asma' binti Abi Bakr radhiyallahu 'anhuma.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman tentang keadaan orang-orang yang mencari kebenaran sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.' Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali (kepadanya)." (QS. Az-Zukhruf [43]: 26-28)
Kaitan dengan Ulama:
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa orang yang mencari kebenaran dengan ikhlas, Allah akan memberinya petunjuk. Zaid bin Amr adalah salah satu bukti nyata bahwa Allah menjaga hamba-Nya yang jujur dalam pencarian kebenaran, meskipun ia hidup di tengah masyarakat yang penuh kesyirikan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa Zaid bin Amr bin Nufail adalah salah satu dari Hanif (orang-orang yang mencari agama Ibrahim) di masa jahiliyah. Beliau termasuk orang yang tidak mau menyembah berhala dan tidak mau memakan daging yang disembelih untuk berhala.
Pertama: Keutamaan Zaid bin Amr bin Nufail
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Nabi ﷺ pernah ditanya tentang Zaid bin Amr, maka beliau bersabda:
"يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أُمَّةً وَحْدَهُ"
"Dia akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai satu umat tersendiri." (HR. Al-Bukhari, no. 3827)
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "satu umat tersendiri" adalah Zaid bin Amr akan dibangkitkan sendirian dengan membawa cahaya keimanan yang Allah berikan kepadanya, karena ia tidak sempat bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan beriman kepada risalah beliau. Namun ia telah beriman kepada Allah dan meninggalkan kesyirikan, sehingga Allah memberinya keutamaan yang khusus.
Kedua: Sikap Zaid bin Amr terhadap Pembunuhan Bayi Perempuan
Dalam hadits yang kita bahas, Asma' binti Abi Bakr menceritakan bahwa Zaid bin Amr biasa menyelamatkan bayi-bayi perempuan dari pembunuhan. Ini adalah salah satu bentuk akhlak mulia yang Allah tanamkan dalam hatinya, meskipun ia hidup di tengah masyarakat yang menganggap anak perempuan sebagai aib.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa kebiasaan membunuh anak perempuan ini adalah salah satu kebodohan terbesar masyarakat jahiliyah. Mereka takut miskin dan takut aib, padahal Allah-lah yang memberi rezeki. Zaid bin Amr dengan akalnya yang sehat dan fitrahnya yang lurus, menolak kebiasaan keji ini dan berusaha menyelamatkan anak-anak perempuan tersebut.
Ketiga: Pelajaran tentang Pencarian Kebenaran
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Hidayatul Hayara menyebutkan bahwa Zaid bin Amr termasuk orang yang meninggalkan agama kaumnya karena ia melihat kebatilan yang nyata. Ia mencari agama yang benar ke berbagai tempat, bertanya kepada para pendeta dan rahib, hingga akhirnya ia menemukan petunjuk bahwa agama yang benar adalah agama Nabi Ibrahim. Ia tidak mau menyembah berhala dan tidak mau mengikuti tradisi yang menyelisihi fitrah.
Ini menunjukkan bahwa siapa yang jujur dalam mencari kebenaran, Allah akan menunjukinya. Sebagaimana firman Allah:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
"Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-'Ankabut [29]: 69)
Story Telling
Dikisahkan dalam Shahih Al-Bukhari bahwa Zaid bin Amr bin Nufail pernah berdiri di dekat Ka'bah dan berkata kepada orang-orang Quraisy:
"لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، إِنِّي لَوْ أَعْلَمُ أَحَبَّ الْأَرْضِ إِلَيْكَ لَعَبَدْتُكَ فِيهِ، وَلَكِنِّي لَا أَعْلَمُ"
"Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Seandainya aku tahu tempat yang paling Engkau cintai di bumi ini, niscaya aku akan beribadah kepada-Mu di sana, tetapi aku tidak mengetahuinya." (HR. Al-Bukhari, no. 3826)
Kemudian dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Zaid bin Amr hendak meninggal, ia berpesan kepada putranya, Sa'id bin Zaid (yang kelak menjadi salah satu sahabat Nabi ﷺ dan termasuk 10 orang yang dijamin masuk surga), agar ia terus mencari kebenaran. Dan Allah mengabulkan doanya, karena dari keturunannya lahirlah orang-orang yang beriman dan menjadi pembela agama Allah.
Hikmah dari kisah ini: Allah tidak menyia-nyiakan hamba-Nya yang ikhlas mencari kebenaran. Zaid bin Amr tidak sempat bertemu Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan beriman kepada risalahnya, tetapi Allah memberinya keutamaan yang besar karena kejujuran dan kesungguhannya dalam mencari agama yang benar.
Kesimpulan Praktis
- Ikhlas dalam mencari kebenaran - Siapa yang jujur dan bersungguh-sungguh mencari kebenaran, Allah akan menunjukinya, sebagaimana yang terjadi pada Zaid bin Amr.
- Menjauhi kebiasaan buruk masyarakat - Zaid bin Amr tidak ikut-ikutan dalam kebiasaan jahiliyah yang keji, meskipun ia hidup di tengah-tengah mereka. Kita pun harus berani berbeda dari kebiasaan buruk masyarakat demi kebenaran.
- Menghargai nyawa manusia - Islam sangat menghargai nyawa manusia, termasuk anak perempuan. Membunuh anak adalah dosa besar yang sangat dibenci Allah.
- Berakhlak mulia - Zaid bin Amr menunjukkan akhlak yang mulia dengan menyelamatkan bayi-bayi perempuan. Ini mengajarkan kita untuk selalu berbuat baik kepada sesama, terutama kepada yang lemah dan membutuhkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.