Penjelasan Hadits Bukhari No. 38 tentang Keutamaan puasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar dari Nabi ﷺ. Beliau menjanjikan bahwa siapa saja yang berpuasa Ramadan dengan dua syarat utama, yaitu iman (membenarkan dengan yakin bahwa puasa itu wajib) dan ihtisab (hanya mengharap pahala dari Allah, bukan riya atau tujuan duniawi), maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ini menunjukkan betapa agungnya keutamaan ibadah puasa Ramadan jika dilakukan dengan hati yang ikhlas dan penuh keyakinan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab "Puasa Ramadan dengan Niat Iman", no. 38. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Al-Musafirin, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if Al-Ma'arif menjelaskan bahwa makna "imanan" adalah membenarkan dengan hati bahwa puasa itu adalah kewajiban dari Allah, dan "ihtisaban" adalah mengharap pahala dari sisi Allah semata. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di juga menekankan bahwa kedua syarat ini adalah ruh dari seluruh amal ibadah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan dua kata kunci dalam hadits ini dengan sangat mendalam:

1. Makna "Imanan" (إيمانًا)

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan imanan adalah seseorang berpuasa dalam keadaan membenarkan dengan hatinya bahwa puasa Ramadan itu adalah perintah Allah yang wajib dilaksanakan. Ia tidak ragu sedikit pun tentang kewajibannya. Ia juga meyakini bahwa Allah menjanjikan pahala yang besar bagi orang yang berpuasa.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menambahkan bahwa imanan juga mencakup keyakinan bahwa puasa adalah salah satu rukun Islam yang agung, dan bahwa Allah mensyariatkannya untuk kebaikan hamba-Nya.

2. Makna "Ihtisaban" (احتسابًا)

Kata ihtisaban berasal dari kata al-hisab yang artinya perhitungan. Maknanya adalah seseorang berpuasa hanya mengharap perhitungan pahala dari Allah, bukan karena tujuan lain seperti riya, ingin dipuji, atau sekadar ikut-ikutan orang lain.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ihtisab adalah seseorang beramal ikhlas karena Allah semata, mengharap pahala-Nya, dan tidak mengharapkan balasan dari makhluk.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa gabungan antara iman dan ihtisab inilah yang membedakan antara ibadah orang mukmin dan sekadar kebiasaan orang yang tidak beriman. Orang yang berpuasa karena adat atau karena alasan kesehatan, tanpa iman dan tanpa mengharap pahala Allah, tidak akan mendapatkan keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini.

3. Makna "Ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi"

Para ulama berbeda pendapat tentang cakupan dosa yang diampuni. Pendapat yang lebih kuat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath Al-Bari, adalah bahwa yang diampuni adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar, maka ia membutuhkan taubat yang khusus, sebagaimana kaidah yang disebutkan oleh para ulama bahwa pengampunan yang disebutkan dalam hadits-hadits keutamaan amal berlaku untuk dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar harus diiringi taubat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa dosa besar tidak terhapus kecuali dengan taubat, atau dengan rahmat Allah yang khusus. Namun demikian, hadits ini tetap menunjukkan keutamaan yang sangat besar bagi orang yang berpuasa dengan iman dan ihtisab.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf sangat memperhatikan niat dalam berpuasa. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang berpuasa tetapi tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk. Beliau menjawab dengan tegas bahwa puasa yang demikian hanya membuatnya lapar dan haus saja, karena hakikat puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan anggota badan dari perbuatan maksiat.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa puasa yang diterima Allah bukan sekadar ritual fisik, tetapi ibadah hati yang diiringi keikhlasan dan dijaga dari hal-hal yang membatalkan pahalanya. Sebagaimana para ulama menjelaskan, orang yang berpuasa dengan iman dan ihtisab akan merasakan manisnya ibadah dan terdorong untuk menjaga seluruh anggota tubuhnya dari kemaksiatan.

Kesimpulan Praktis

Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Perbaiki niat sebelum berpuasa — niatkan puasa kita semata-mata karena Allah, bukan karena ikut-ikutan, bukan karena ingin dipuji, dan bukan karena alasan kesehatan semata.
  2. Yakini dengan hati bahwa puasa Ramadan adalah kewajiban dari Allah yang agung, dan bahwa Allah menjanjikan pahala yang besar bagi orang yang menjalankannya.
  3. Jaga puasa dari hal yang membatalkan pahala — seperti berkata dusta, menggunjing, bertengkar, dan perbuatan maksiat lainnya, karena puasa yang sempurna adalah yang menjaga seluruh anggota badan.
  4. Perbanyak amal kebaikan di bulan Ramadan — seperti shalat tarawih, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan berdoa, karena semua itu akan menambah pahala dan mendekatkan diri kepada Allah.
  5. Jangan berpuasa karena kebiasaan — tetapi karena keimanan dan harapan akan pahala Allah, agar kita termasuk orang-orang yang dijanjikan ampunan dalam hadits ini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?