Penjelasan Hadits Bukhari No. 3760 tentang Keutamaan Abdullah bin Mas'ud dan empat ahli Al-Qur'an

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini (Shahih Al-Bukhari no. 3760) memuat tiga pelajaran utama: (1) akhlak Nabi ﷺ yang sangat mulia — beliau tidak pernah berkata kotor maupun sengaja mencela; (2) orang yang paling dicintai Nabi ﷺ adalah yang paling baik akhlaknya; (3) Nabi ﷺ memerintahkan mengambil/mempelajari Al-Qur'an dari empat sahabat pilihan, salah satunya Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Hadits ini menunjukkan tingginya kedudukan akhlak dan pentingnya mengambil ilmu Al-Qur'an dari ahlinya yang terpercaya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Qalam [68]: 4

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Terjemahan: "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung."

QS. Al-Ahzab [33]: 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Terjemahan: "Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat, dan yang banyak mengingat Allah."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Sahabat Nabi ﷺ, Bab Keutamaan Abdullah bin Mas'ud. Perawi: Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma, melalui jalur Masruq bin Al-Ajda', Abu Wail (Syaqiq bin Salamah), Sulaiman (Al-A'masy), Syu'bah, dan Hafsh bin Umar.

Hadits lain yang semakna, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Terjemahan: "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan beliau menilainya hasan shahih)

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang, termasuk pembahasan mengapa keempat sahabat ini disebutkan secara khusus.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan kitab-kitab beliau menegaskan pentingnya akhlak dalam Islam.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam membahas kaidah "akhlak adalah buah iman."

Penjelasan Rinci

Pertama: Akhlak Nabi ﷺ

Kalimat "لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا" menunjukkan bahwa Nabi ﷺ terjaga dari dua hal: (a) fahisy — perkataan atau perbuatan yang buruk secara zatnya; (b) mutafahhisy — orang yang sengaja mencari-cari dan memproduksi keburukan. Ini sesuai firman Allah dalam QS. Al-Qalam [68]: 4 bahwa beliau berada di atas akhlak yang agung.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penafian ini bersifat menyeluruh — baik sebelum maupun sesudah kenabian, Nabi ﷺ tidak pernah dikenal berkata kotor. Imam an-Nawawi menambahkan bahwa fuhsy (kekotoran ucapan) adalah sifat tercela yang harus dijauhi setiap muslim, apalagi seorang da'i dan penuntut ilmu.

Kedua: Akhlak sebagai ukuran kecintaan Nabi ﷺ

Sabda beliau: "إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَىَّ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا" — "Sesungguhnya di antara yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya."

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa akhlak yang baik adalah buah dari iman yang benar dan tauhid yang lurus. Beliau menyebutkan bahwa akhlak mencakup: sabar, lembut, tidak marah karena urusan pribadi, memaafkan, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk.

Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan akhlak bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari agama. Bahkan Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menyatakan bahwa akhlak adalah "agama itu sendiri" — karena ia mencakup hubungan dengan Allah dan dengan makhluk.

Ketiga: Perintah mengambil Al-Qur'an dari empat sahabat

Nabi ﷺ menyebut empat nama: Abdullah bin Mas'ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka'b, dan Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhum.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan beberapa hikmah penyebutan mereka:

  1. Mereka adalah orang-orang yang paling kuat hafalan dan paling tepat bacaan Al-Qur'annya.
  2. Mereka adalah rujukan dalam ilmu qira'at dan tafsir.
  3. Perintah ini menunjukkan pentingnya talaqqi (belajar langsung dari guru), bukan sekadar membaca sendiri.

Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya mengambil ilmu dari ahlinya yang terpercaya, dan bahwa sanad (mata rantai periwayatan) adalah kekhususan umat ini.

Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala mencatat bahwa Abdullah bin Mas'ud adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ, paling tahu tentang Al-Qur'an, dan paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau berkata: "Aku tidak mengetahui seorang pun yang lebih berhak disebut sebagai ahli Al-Qur'an selain Abdullah bin Mas'ud."

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama memandang penyebutan empat nama ini bersifat hashr (pembatasan), sebagian lain memandangnya sebagai tafdhil (keutamaan). Yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar — adalah bahwa mereka adalah yang paling utama dalam hal ini, bukan berarti menafikan sahabat lain seperti Zaid bin Tsabit, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali yang juga ahli Al-Qur'an.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku telah membaca di hadapan Rasulullah ﷺ tujuh puluh lebih surah." Beliau juga berkata: "Aku mengambil dari mulut Rasulullah ﷺ tujuh puluh surah secara langsung."

Suatu ketika Nabi ﷺ meminta Ibnu Mas'ud membacakan Al-Qur'an untuk beliau. Ibnu Mas'ud berkata: "Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacakan untukmu sedangkan Al-Qur'an diturunkan kepadamu?" Nabi ﷺ menjawab: "Aku suka mendengarnya dari orang lain." Maka Ibnu Mas'ud membacakan Surah An-Nisa', dan ketika sampai pada ayat:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا

Terjemahan: "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat, dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu)." (QS. An-Nisa' [4]: 41)

Nabi ﷺ berkata: "Cukup." Ibnu Mas'ud melihat wajah Nabi ﷺ basah oleh air mata. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan kedekatan Ibnu Mas'ud dengan Nabi ﷺ dan kedalaman ilmunya tentang Al-Qur'an — sehingga beliau layak disebut sebagai salah satu dari empat yang direkomendasikan Nabi ﷺ untuk mengambil Al-Qur'an darinya.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbaiki akhlak — karena akhlak yang baik adalah tanda iman yang sempurna dan sebab kecintaan Nabi ﷺ.
  2. Jauhi ucapan kotor dan sia-sia — baik yang bersifat fahisy (buruk zatnya) maupun mutafahhisy (sengaja mencari-cari keburukan).
  3. Belajar Al-Qur'an dari ahlinya — jangan hanya mengandalkan bacaan sendiri tanpa bimbingan guru yang terpercaya.
  4. Ambil ilmu dari sumber yang jelas — sebagaimana Nabi ﷺ menunjuk empat sahabat, kita pun harus memilih guru yang dikenal keilmuan dan amanahnya.
  5. Teladani akhlak Nabi ﷺ — beliau adalah uswatun hasanah dalam semua keadaan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?